Kisah Muslim yang Jadi Kades di Wilayah Mayoritas Katolik 

Kompas.com - 20/08/2020, 09:39 WIB
Foto : Ahmad Jabur (50), Penganut Muslim yang terpilih jadi Kepala Desa Compang Ndejing, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, NTT.  Kompas.com/Nansianus Taris Foto : Ahmad Jabur (50), Penganut Muslim yang terpilih jadi Kepala Desa Compang Ndejing, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. 


BORONG, KOMPAS.com - Ahmad Jabur (50) yang merupakan seorang Muslim terpilih menjadi kepala desa di kawasan yang mayoritas warganya beragama Katolik.

Ahmad Jabur berani maju mencalonkan diri pada pemilihan kepala desa Compang Ndejing di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2017 silam.

Ahmad menceritakan, awalnya ia ragu maju mencalonkan diri sebagai kepala desa.

Keraguan itu berkaca pada pemilihan kepala desa Nangalabang pada 1992.

Baca juga: Warga Karyamukti di Cianjur Ini Bertaruh Nyawa Setiap Hari

Kala itu, dia berkompetisi dengan satu lawan dan akhirnya kalah. Memang, pada saat itu dia tidak terpilih bukan karena isu suku, ras atau agama. 

Namun, saat pemilihan pada 2017, Ahmad masih memiliki keraguan karena berasal dari kalangan minoritas.

Peran pastor dan pemuka agama

Tetapi, masyarakat terus mendorong agar dirinya maju pada pemilihan kepala desa.

Menurut Ahmad, masyarkat berpikir bahwa dia cocok untuk memimpin Compang Ndejing ke depannya.

"Saat itu saya tidak mau. Alasan saya, saya tidak mungkin terpilih, karena saya dari pihak minoritas. Selama itu memang isu agama dan SARA di akar rumput ramai dibincangkan. Ada yang bilang mengapa mesti yang minoritas pimpin mayoritas," ujar Ahmad kepada Kompas.com, Rabu (19/8/2020). 

Baca juga: Kisah Mereka yang Kehilangan Mata akibat Ledakan di Beirut, Lebanon...

Ahmad mengatakan, salah satu yang membuatnya yakin untuk maju adalah dukungan dari kelompok basis gereja (KBG).

Sekitar 7 kelompok doa di Dusun Purang Mese, Compang Ndejing, kompak dan komitmen mengusulkan dirinya maju sebagai calon kepala desa. 

"Saya jadi termotivasi untuk maju. Saya pun meminta kepada panitia untuk meminta persyaratan. Setelah itu saya lengkapi berkas dan daftar," kata Ahmad.

Ahmad menuturkan, dalam perjalanan sebelum pemilihan, isu SARA dan agama begitu terasa di lingkungan masyarakat.

 

Tetapi berkat komunitas doa dan pastor paroki, isu negatif itu mampu dipatahkan. 

Pastor selalu menyampaikan bahwa agama bukan menjadi sebuah hambatan bagi seseorang untuk menjadi pemimpin.

Ahmad mengatakan, para pastor menjelaskan kepada umatnya bahwa pemimpin itu dinilai dari karakternya, bukan latar belakang agamanya. 

Sikap para pastor itu membuat Ahmad terus semangat dan optimistis memenangkan pemilihan. 

Toleransi mengalahkan isu SARA

Saat pemilihan pada 2017, Ahmad terpilih menjadi Kepala Desa Compang Ndejing.

Ia mengalahkan 3 kompetitirnya yang merupakan warga Katolik. 

"Jika dilihat jumlah penduduk, secara logika memang saya tidak terpilih sebagai kepala desa. Saya unggul 82 suara dari 3 orang calon," tutur Ahmad.

"Usai pemilihan memang ada riak-riak kecil, tetapi tidak sampai benturan fisik. Saya pikir itu wajar, karena bagian dari ekspresi kecewa," kata Ahmad.

Ahmad menjelaskan, ia terpilih karena tingkat kesadaran masyarakat sangat luar biasa dalam hal toleransi hidup beragama.

Mereka yang beragama Katolik tidak pernah membedakan calon pemimpin dari agama lain. 

Merangkul lawan politik

Ahmad menambahkan, meski dirinya seorang Muslim, komposisi aparat desa itu tetap didominasi warga Katolik.

Baik dari kubu lawan maupun pendukung politik, semua diberi ruang untuk membangun desa ke arah yang lebih baik. 

"Saat saya dilantik, saya imbau kepada warga, kita ini urus negara, bukan agama. Kita harus kompak membangun Desa Compang Ndejing agar terus maju," kata Ahmad.  


Seorang warga Desa Compang Ndejing, Edi Dahal mengatakan, terpilihnya Ahmad Jabar sebagai kepala desa karena kehidupan sosialnya yang dinilai oleh warga sangat bagus. 

Hal itu yang membuat banyak warga memilihnya, meski ia dari kelompok minoritas.

"Kami pilih pemimpin desa, bukan pemimpin agama, sehingga kami tidak pandang dia dari agama apa. Kami nilai dia layak jadi pemimpin desa," kata Edi.

Edi menyebut, toleransi antarumat beragama di desa itu sangat kental dan kuat.

Ia mengatakan, dalam kehidupan sehari-hari, antara orang Katolik dan Muslim tidak pernah ada benturan. 

"Kami hidup berdampingan dengan baik. Kami di sini tidak pernah membedakan siapa mereka dan kita," kata Edi. 

Edi menyebut, satu hal yang paling diapresiasi warga yaitu saat Ahmad mengangkat aparat desa tanpa melihat agama dan lawan politiknya.

"Saya sendiri tidak mendukung Beliau pada pemilihan. Tetapi, Beliau angkat saya jadi aparat desa. Tentu, ini merupakan pendidikan politik yang baik," ujar Edi. 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kader Ramai-ramai Copot Kaus Paslon yang Diusung PDI-P, Ini Ceritanya

Kader Ramai-ramai Copot Kaus Paslon yang Diusung PDI-P, Ini Ceritanya

Regional
Imbauan Pemkot Medan, Warga dan Perangkat Daerah Diminta Siaga Hadapi Banjir

Imbauan Pemkot Medan, Warga dan Perangkat Daerah Diminta Siaga Hadapi Banjir

Regional
Terpapar Covid-19, Dokter Sahabat Ganjar Ini Kondisinya Membaik Selepas Terapi Plasma Konvalesen

Terpapar Covid-19, Dokter Sahabat Ganjar Ini Kondisinya Membaik Selepas Terapi Plasma Konvalesen

Regional
Siswa Tak Punya Ponsel dan Internet untuk Belajar, Ini Solusinya

Siswa Tak Punya Ponsel dan Internet untuk Belajar, Ini Solusinya

Regional
[POPULER NUSANTARA] 'Aksi di Rumah Mahfud MD Bukan Tanggung Jawab Saya' | Tukang Bakso Ditendang Pembeli

[POPULER NUSANTARA] "Aksi di Rumah Mahfud MD Bukan Tanggung Jawab Saya" | Tukang Bakso Ditendang Pembeli

Regional
Soal Demo di Rumah Mahfud MD, Korlap Mengaku Aksi Susulan dan Inisiatif Massa: Bukan Tanggung Jawab Saya

Soal Demo di Rumah Mahfud MD, Korlap Mengaku Aksi Susulan dan Inisiatif Massa: Bukan Tanggung Jawab Saya

Regional
Bermula 8 Siswa SMK Batuk dan Anosmia, Terbongkar 179 Siswa Positif Covid-19

Bermula 8 Siswa SMK Batuk dan Anosmia, Terbongkar 179 Siswa Positif Covid-19

Regional
4 Nelayan Diselamatkan Kapal Asing Setelah 12 Jam Karam di Tengah Laut

4 Nelayan Diselamatkan Kapal Asing Setelah 12 Jam Karam di Tengah Laut

Regional
Cerita Kemisan Berjalan Kaki 400 Km dari Kulon Progo, Setahun Hilang dan Dirazia Satpol PP di Surabaya

Cerita Kemisan Berjalan Kaki 400 Km dari Kulon Progo, Setahun Hilang dan Dirazia Satpol PP di Surabaya

Regional
Cerita FR yang Hilang di Tambang Pasir, Tidur di 'Backhoe' Saat Awan Panas Gunung Semeru Menerjang

Cerita FR yang Hilang di Tambang Pasir, Tidur di "Backhoe" Saat Awan Panas Gunung Semeru Menerjang

Regional
Cerita Losmen Puri, Penginapan Tua di Denpasar yang Masih Bertahan

Cerita Losmen Puri, Penginapan Tua di Denpasar yang Masih Bertahan

Regional
6 Bupati yang Terinfeksi Covid-19 dalam Sebulan Terakhir

6 Bupati yang Terinfeksi Covid-19 dalam Sebulan Terakhir

Regional
Fakta Terbaru Pengepungan Rumah Mahfud MD, Korlap Tak Mau Tanggung Jawab, Tak Tahu Ada yang Diperiksa Polisi

Fakta Terbaru Pengepungan Rumah Mahfud MD, Korlap Tak Mau Tanggung Jawab, Tak Tahu Ada yang Diperiksa Polisi

Regional
Sleman dan Klaten Siap Terima Pengungsi Gunung Merapi Lintas Wilayah

Sleman dan Klaten Siap Terima Pengungsi Gunung Merapi Lintas Wilayah

Regional
179 Siswa SMK Negeri Jateng Terpapar Covid-19, Uji Coba Belajar Tatap Muka Dihentikan

179 Siswa SMK Negeri Jateng Terpapar Covid-19, Uji Coba Belajar Tatap Muka Dihentikan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X