Cerita Mantan Pemburu TN Way Kambas, Tobat Berburu dan Bakar Hutan Setelah Diajak Usir Gajah Liar (2)

Kompas.com - 17/07/2020, 07:46 WIB
Penulis Aprillia Ika
|

LAMPUNG, KOMPAS.com - Para pemburu di TN Way Kambas (TNWK) berbagi cerita saat-saat mereka berburu rusa di taman nasional tersebut.

Mereka adalah Sunarto dan Misngat. Keduanya bisa membakar tiga hingga lima lokasi di hutan untuk mengepung hewan buruannya.

Baik Sunarto maupun Misngat kini sudah tidak lagi berburu satwa di dalam kawasan konservasi TNWK.

Keduanya kini aktif sebagai personel pengusir gajah yang masuk pemukiman penduduk.

Sunarto menjadi penghalau gajah liar sejak sekitar 2009 lalu. Sedangkan Misngat menyusul masuk sekitar 2012.

Baca juga: Cerita Mantan Pemburu di TN Way Kambas, Sengaja Bakar Hutan untuk Mudahkan Perburuan (1)

Malu dan tidak enak

Bagi Sunarto, rasa malu dan tidak enak kepada tim patroli hutan membuatnya ‘gantung tombak’ dan tidak berburu lagi.

“Malu, Mas. Sudah kenal semua sama (tim) yang sering patroli,” kata Sunarto.

Sunarto diajak ikut menghalau gajah saat dia masih aktif berburu. Di sela patroli, anggota patroli sering menyebut nama seorang pemburu liar yang sering merepotkan tim keamanan hutan.

“Tapi mereka nggak tau kalau yang mereka bicarakan itu saya. Orang yang namanya disebut ada di depan mereka,” kata Sunarto dengan logat jawa yang medok.

Lantaran sering berinteraksi, Sunarto menjadi paham akan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem hutan. Dia pun menjadi semakin tidak enak, begitu pulang kembali ke rumah, tombak dan anjing-anjing berburunya masih tersimpan.

“Wis, ta’ jual kabeh kirik (anjing). Kalau masih ada, mungkin saya masih berburu,” kata Sunarto.

Baca juga: Kisah Maria Sang Dokter Rimba, Ambil Alih Tugas Dukun Hantu Pedalaman Jambi (3)

Sedih lihat rusa mati meneteskan air mata

Selain itu, ada peristiwa lain yang membuatnya semakin memantapkan hati untuk berhenti berburu.

“Rusa, kijang itu kalau mau mati, meneteskan air mata. Dulu waktu masih berburu, saya nggak perhatikan, kasihan, Mas,” kata Sunarto.

 

TN Way Kambas dibakar pemburu liar

Personel patroli hutan dan TNI berusaha memadamkan api yang membakar area padang rumput di dalam kawasan TNWK beberapa waktu lalu. Kebakaran hutan di TNWK pada 2019 lalu melanda 2349 hektare sepanjang tahun. (FOTO: Humas Balai TNWK) KOMPAS.com/TRI PURNA JAYA Personel patroli hutan dan TNI berusaha memadamkan api yang membakar area padang rumput di dalam kawasan TNWK beberapa waktu lalu. Kebakaran hutan di TNWK pada 2019 lalu melanda 2349 hektare sepanjang tahun. (FOTO: Humas Balai TNWK)
Kabag Humas Balai TNWK, Sukatmoko mengungkapkan, sepanjang tahun 2019 lalu kebakaran telah melanda sekitar 2349 hektare di dalam kawasan TNWK.

“Selain kondisi tahun kemarin itu sangat kering, ada juga orang yang membakar. Kalau tahun ini, belum ada kasus. Mudah-mudahan, jika hujan terus tidak ada kasus kebakaran,” kata Sukatmoko.

Sukatmoko mengatakan, kasus kebakaran di TNWK termasuk unik.

Jika di daerah lain, kebakaran lahan dan hutan disebabkan pembukaan lahan untuk pertanian, di TNWK tidak terjadi seperti itu.

“Kalau membuka lahan untuk bertani, tidak ada. TNWK ini salah satu taman nasional yang tidak ada perambahan maupun masyarakat di dalam kawasan,” kata Sukatmoko.

Baca juga: Ada 5 Peluru pada Bangkai Gajah di Way Kambas

Sukatmoko mengatakan, kebakaran di kawasan TNWK adalah karena orang cenderung sengaja membakar untuk kegiatan perburuan liar, maupun mempermudah akses perburuan.

“Tujuannya, karena kondisi sangat kering, alang-alang, jadi nggak ada satwa. Ketika sudah dibakar dan tumbuh tanaman, satwa akan berkumpul. Di situ baru mereka (pemburu) berburu, baik itu pasang jerat ataupun pakai anjing dan tombak,” kata Sukatmoko.

Celeng, kijang, menjangan, jadi buruan favorit

Jenis –jenis satwa yang menjadi ‘favorit’ para pemburu liar diantaranya babi rusa (celeng), rusa, hingga kijang atau menjangan. Sukatmoko mengatakan, para pemburu ini berburu untuk konsumsi daging.

“Sehingga, jika bicara tentang kebakaran di TNWK tidak bisa dilepaskan dari aktivitas perburuan liar,” kata Sukatmoko.

Kebakaran Sulit Diungkap
Namun, kasus pembakaran di TNWK ini termasuk sulit untuk diungkap. Sukatmoko mengakui, dibanding perburuan liar, kasus kebakaran hutan sering membuat jajarannya dan aktivis peduli kawasan konservasi harus ‘garuk-garuk kepala’.

“Kalau perburuan liar masih bisa ditangkap, dengan bukti yang jelas kelihatan. Orangnya bawa daging, ada senjata yang digunakan,” kata Sukatmoko.

Sulit menangkap pelaku pembakar hutan

Tetapi ketika terjadi pembakaran, Sukatmoko mengakui sulit untuk membuktikan maupun menangkap pelakunya.

“Orang itu bakar di sini, misalnya, terus ditinggal, terbakar lahan itu. Kita tahu setelah ada api, tetapi orangnya sudah nggak ada, buktinya juga nggak ada. Jadi memang sulit,” kata Sukatmoko.

Kesulitan lain, kata Sukatmoko, adalah tidak terbacanya pola atau waktu para pelaku membakar hutan.

“Berburu itu tidak ada waktu tertentu, terjadi hampir sepanjang tahun,” kata Sukatmoko.

 

Pun begitu dengan lama terjadinya kebakaran di TNWK membuat pengusutan menjadi semakin sulit.

Sukatmoko menjelaskan, kasus kebakaran di TNWK tidak terjadi seperti kebakaran di daerah Sumatera Selatan ataupun Riau, dimana lahan yang terbakar adalah lahan gambut yang kering.

“DI TNWK, sebagian besar yang terbakar adalah area alang-alang, hanya kebakaran permukaaan. Satu dua jam terbakar, sesudah alang-alang habis, ya mati apinya,” kata Sukatmoko.

Didekati, bukan ditangkapi

Hubungan yang erat antara perburuan liar dengan kasus kebakaran di TNWK membuat beberapa pihak terkait berusaha menggunakan sejumlah strategi, selain menindak secara pidana.

Sukatmoko mengungkapkan, jika mengedukasi para pemburu yang sudah ‘berumur’, hal itu bisa dikatakan sangat sulit.

“Lebih baik mengedukasi anak-anak sekarang, memberikan pemahaman akan pentingnya menjaga ekosistem hutan,” kata Sukatmoko.

Sementara itu, aktivis Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia wilayah Way Kambas, Sugiono mengatakan, pendekatan personal kepada para pemburu liar bisa mendapatkan hasil yang efektif di masa depan.

“Kalau bicara efektif hasil, pendekatan itu lebih efektif, karena berdampak pada perubahan perilaku yang signifikan,” kata Sugiono.

Namun, pendekatan ini memerlukan waktu yang panjang. Karena mengenal orang tidak hanya berlangsung satu atau dua bulan saja.

Sedangkan jika bicara efektif proses, kata Sugiono, bisa dilakukan penangkapan dengan jerat tindak pidana.

“Pertanyaannya, apakah setelah dimasukkan ke penjara, paling lama 5 bulan, mereka tidak mengulangi perbuatannya?” kata Sugiono.

(Selesai)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lumpy Skin Disease Ancam Ketahanan Pangan

Lumpy Skin Disease Ancam Ketahanan Pangan

Regional
Sambut Panen, Gubernur Riau Hadiri Gebyar Makan Durian Bantan 2022

Sambut Panen, Gubernur Riau Hadiri Gebyar Makan Durian Bantan 2022

Regional
Ketua TP-PKK Riau Riau Kunjungi Dua Panti Asuhan di Bengkalis

Ketua TP-PKK Riau Riau Kunjungi Dua Panti Asuhan di Bengkalis

Regional
Gubernur Khofifah Optimistis Gelaran SPE 2022 Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Jatim

Gubernur Khofifah Optimistis Gelaran SPE 2022 Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Jatim

Regional
Bupati Jekek Minta Generasi Muda Beri Warna Baru untuk Dunia Pertanian

Bupati Jekek Minta Generasi Muda Beri Warna Baru untuk Dunia Pertanian

Regional
Ujaran Kebencian Jelang Pemilu 2024 Meningkat, Masyarakat Papua Diimbau Lakukan Hal Ini

Ujaran Kebencian Jelang Pemilu 2024 Meningkat, Masyarakat Papua Diimbau Lakukan Hal Ini

Regional
Cegah Penyebaran PMK, Bupati Wonogiri Perketat Pengawasan di Pasar Hewan

Cegah Penyebaran PMK, Bupati Wonogiri Perketat Pengawasan di Pasar Hewan

Regional
Patuh Sampaikan LHKPN, Gubernur Riau Syamsuar Dapat Apresiasi dari KPK

Patuh Sampaikan LHKPN, Gubernur Riau Syamsuar Dapat Apresiasi dari KPK

Regional
Mulai Juli 2022, Pemkab Wonogiri Cover Iuran BPJS Ketenagakerjaan Seluruh Perangkat RT dan RW

Mulai Juli 2022, Pemkab Wonogiri Cover Iuran BPJS Ketenagakerjaan Seluruh Perangkat RT dan RW

Regional
Lestarikan Lingkungan, Pemprov Papua Tanam 1.000 Pohon Sagu di Jayapura

Lestarikan Lingkungan, Pemprov Papua Tanam 1.000 Pohon Sagu di Jayapura

Regional
Melalui DD Farm, Dompet Dhuafa Sediakan Pakan Ternak untuk Warga Gunungkidul

Melalui DD Farm, Dompet Dhuafa Sediakan Pakan Ternak untuk Warga Gunungkidul

Regional
Sediakan Hewan Kurban di Sulteng, Dompet Dhuafa Berdayakan Peternak Lokal

Sediakan Hewan Kurban di Sulteng, Dompet Dhuafa Berdayakan Peternak Lokal

Regional
Peringati HUT Ke-104 Madiun, Walkot Maidi Paparkan Target dan Capaiannya

Peringati HUT Ke-104 Madiun, Walkot Maidi Paparkan Target dan Capaiannya

Regional
Gubernur Syamsuar Dukung Pebalap Asal Riau di Kejuaraan Dunia

Gubernur Syamsuar Dukung Pebalap Asal Riau di Kejuaraan Dunia

Regional
Jatim Distribusikan 1.000 Vaksin PMK Hewan Ternak, Khofifah Pantau Penyuntikannya di Sidoarjo

Jatim Distribusikan 1.000 Vaksin PMK Hewan Ternak, Khofifah Pantau Penyuntikannya di Sidoarjo

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.