Rumahnya Digusur, Janda Miskin 11 Anak Kini Tinggal di Tenda Darurat

Kompas.com - 20/02/2020, 08:00 WIB
Bripka Deni Putra dan kepala Desa setempat mengunjungi rumah Sarbiah yang digusur dari tanah orang lain di Desa Alue Limeng, Kecamatan Jeumpa, Bireuen, Selasa (18/02/2020). KOMPAS.COM/TEUKU UMARBripka Deni Putra dan kepala Desa setempat mengunjungi rumah Sarbiah yang digusur dari tanah orang lain di Desa Alue Limeng, Kecamatan Jeumpa, Bireuen, Selasa (18/02/2020).

ACEH, KOMPAS.com - Badan Pananggulangan Bencana Aceh (BPBA) memberikan bantuan dua unit tenda darurat dan berbagai perlengkapan kepada Sarbiah (50), janda miskin yang memiliki 11 orang anak karena rumahnya terpaksa harus bongkar dari lokasi lahan milik warga lain di Desa Alue Limeng, Kecamatan Jeumpa, Bireuen.

“Tenda dan berbagai kelengkapan ini diberikan kepada Sabariah untuk tempat tinggal sementara selama proses rumahnya dibangun kembali,” kata Helmi, staf bagian gudang logistik BPBA kepada Kompas.com usai mendirikan dan menyerahkan bantuan kepada Sabariah, Rabu (19/02/2020).

Baca juga: Rumahnya Dibongkar, Janda Miskin dengan 11 Anak Ini Butuh Tenda Pengungsian

Helmi menyebutkan, bantuan tenda yang diberikan kepada korban bencana sosial itu setidaknya dapat ditempati sementara oleh Sarbiah beserta 11 orang anaknya yang sebelumnya terpaksa harus mengungsi ke rumah kerabat.

“Dengan adanya bantuan tenda itu, Sarbiah dan anak-anaknya bisa tidur di tenda sementara, yang kita serahkan tadi lengkap, tempat tidur, selimut, juga sedikit sembako,” katanya.

Sementara itu, Sarbiah kepada Kompas.com mengaku tanah tempat rumah gubuknya berdiri itu sebelumnya milik dia.

Namun delapan tahun lalu, tanah itu terpaksa ia jual untuk biaya berobat suaminya yang mengalami sakit yang tak kunjung sembuh.

“Dulu tanah itu sudah kami jual untuk biaya berobat suami saya, suami saya sudah meninggal delapan tahun lalu saat anak saya yang bungsu dalam kandungan,” ucapanya.

Setelah suaminya meninggal, Sarbiah yang tidak berpenghasilan dan hanya menjadi buruh tani di kampungnya.

Ia tidak dapat membeli tanah lagi untuk rumahnya, sehingga lama-lama pemilik tanah meminta agar rumah Sarbiah dibongkar karena akan ditanami tanaman. 

“Sudah disuruh rumahnya, tapi saya bingung tidak tahu mau dibawa ke mana rumah lantaran belum sanggup beli tanah lain untuk dipandahkan rumah, sehingga kemarin Selasa (18/02/2020) pemilik tanah tidak mau tahu, pokoknya saya harus bongkar rumah itu,” ucapnya.

Dibantu oleh kepala Desa dan warga, bangunan rumah Sarbiah yang berkonstruksi kayu itu kini telah dibongkar dan diangkut ke tanah warga lain berukuran 10 x 10 yang akan dia beli dengan cara menyicil.

Baca juga: Rumah Dijadikan Tempat Prostitusi, Wanita Paruh Baya Ini Ditangkap

 

Rencananya, rumah Sarbiah dibangun dengan memanfaatkan sebagian material kayu, papan dan seng bekas dari rumah lama.

Pembangunan dilakukan komunitas Kami Peduli Bireuen (KPB). 

“Komunitas Kami Peduli Bireuen (KPB) akan membantu membangun rumah Sarbiah, dengan menggunakan sebagian material bekas yang masih dapat digunakan, tanah tempat dibangun rumah sekarang harganya Rp 13 juta, tapi baru dia bayar Rp 5 juta, sisanya akan dia cicil,” jelas Deny Putra, koordinator Kami Peduli Bireuen (KPB).



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X