Klitih Marak di DIY, Ini yang Bikin Kadisdik Jengkel

Kompas.com - 05/02/2020, 08:30 WIB
Pintu Masuk LPKA Yogyakarta di Wonosari Gunungkidul Selasa (28/1/2020) KOMPAS.COM/MARKUS YUWONOPintu Masuk LPKA Yogyakarta di Wonosari Gunungkidul Selasa (28/1/2020)

KOMPAS.com - Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY) mengaku jengkel selalu dikaitkan dengan maraknya aksi kekerasan jalanan " klitih".

Menurut Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Disdikpora DIY Bambang Wisnu Handoyo, masalah "klitih" seharusnya menjadi beban bersama, dan bukan hanya beban sekolah dan keluarga. 

"Yang bikin jengkel saya 'kan kenapa tidak pernah menjadi bebannya desa atau kampung sehingga semua orang sekarang fokusnya mesti bicara keluarga, bicara sekolah," katanya seusai diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD) mengenai penanganan klithih di Mapolda DIY, Selasa (4/2/2020).

Aksi "klitih" yang diduga dilakukan oleh para remaja berusia sekolah tersebut saat ini sedang menjadi sorotan masyarakat.

Baca juga: #DIYdaruratklitih Ramai di Twitter, Apa Itu Klitih?

Seperti dilansir dari Antara, Bambang menjelaskan, masalah "klitih" sudah seharusnya menjadi masalah bersama, termasuk pengaruh lingkungan di desa atau kampung.

Bambang pun mengajak seluruh masyarakat untuk bertindak nyata untuk memberantas aksi "klitih" yang semakin meresahkan.

"Kita yang penting melakukan sesuatu, jangan hanya gaduh tetapi selesaikan (persoalan)," katanya.

Baca juga: Penyesalan Pelaku Klitih di Yogya, Usai Membacok, Pijat Orangtua

Dalam pertemuan yang dihadiri Kapolda DIY Irjen Pol. Asep Suhendra tersebut, Bambang berharap masalah "klitih" tidak selalu dikaitkan dengan sekolah lagi.

"Sekarang sekolah harus dibebaskan dari predikat klitih itu. Kalau ada pelaku klitih tertangkap, ya, tidak harus ditanya (di mana) sekolahnya," katanya.

Pendapat sosiolog

Menurut sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Drajat Tri Kartono, fenomena aksi kekerasan "klitih" di jalanan Kota Yogyakarta, harus diselesaikan secara bersama. 

"Polisi harus tegakkan hukum. Lalu, masyarakat secara bersama melakukan pendekatan budaya agar memutus aksi kekerasan di kalangan remaja di Yogyakarta," kata Drajat saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Rabu (5/2/2020). 

Seperti diberitakan sebelumnya, aksi kekerasan di jalanan Kota Yogyakarta akhir-akhir ini menjadi sorotan. 

Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti berharap masyarakat luas juga turut terlibat dalam masalah "klitih" ini agar Kota Yogyakarta tidak memiliki julukan baru, Kota Klitih

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dua Terduga Pembunuh Perempuan Dalam Mobil Terbakar Ditangkap

Dua Terduga Pembunuh Perempuan Dalam Mobil Terbakar Ditangkap

Regional
Nasdem Sayangkan Ambulans yang Layani Warga Makassar Gratis Dibakar Demonstran

Nasdem Sayangkan Ambulans yang Layani Warga Makassar Gratis Dibakar Demonstran

Regional
Polisi Temukan Luka Memar di Kepala Mayat Wanita yang Terbakar di Mobil

Polisi Temukan Luka Memar di Kepala Mayat Wanita yang Terbakar di Mobil

Regional
Bahas Penanganan Banjir dengan Risma, DPRD DKI Jakarta: Kami Belajar Banyak dari Surabaya

Bahas Penanganan Banjir dengan Risma, DPRD DKI Jakarta: Kami Belajar Banyak dari Surabaya

Regional
Usaha Benang Gelasan Naik Daun Saat Pandemi, Erwin Sampai Harus Menambah Karyawan

Usaha Benang Gelasan Naik Daun Saat Pandemi, Erwin Sampai Harus Menambah Karyawan

Regional
Polisi Duga Ada Provokator di Balik Bentrokan Penyebab 1 Warga Palopo Tewas

Polisi Duga Ada Provokator di Balik Bentrokan Penyebab 1 Warga Palopo Tewas

Regional
Kasus Agen Minta Rp 32 Juta buat Pulangkan Jenazah TKI, Pemkab Indramayu: Itu Hanya Isu

Kasus Agen Minta Rp 32 Juta buat Pulangkan Jenazah TKI, Pemkab Indramayu: Itu Hanya Isu

Regional
Maju Pilkada Kabupaten Bandung, Eks Bintang Persib Atep Rizal Sebut Sahrul Gunawan Lawan Berat

Maju Pilkada Kabupaten Bandung, Eks Bintang Persib Atep Rizal Sebut Sahrul Gunawan Lawan Berat

Regional
Paslon yang Langgar Protokol Kesehatan Bisa Kena Sanksi Tak Boleh Kampanye 3 Hari

Paslon yang Langgar Protokol Kesehatan Bisa Kena Sanksi Tak Boleh Kampanye 3 Hari

Regional
Gegara Rem Blong di Jalan Lingkar Salatiga, Truk Terguling Masuk ke Area Makam

Gegara Rem Blong di Jalan Lingkar Salatiga, Truk Terguling Masuk ke Area Makam

Regional
11 Tewas di Tambang Batu Bara Ilegal Muara Enim, Pekerja Sedang Gali Terowongan Saat Hujan

11 Tewas di Tambang Batu Bara Ilegal Muara Enim, Pekerja Sedang Gali Terowongan Saat Hujan

Regional
Kronologi Mobil Pengangkut 40 Tabung Gas Terbakar di SPBU Cianjur, Terdengar Suara Ledakan

Kronologi Mobil Pengangkut 40 Tabung Gas Terbakar di SPBU Cianjur, Terdengar Suara Ledakan

Regional
'Masyarakat Kritik, Pemkot Kurang Tegas Melaksanakan Protokol Kesehatan, di Luar Bagus, di Dalam Tidak'

"Masyarakat Kritik, Pemkot Kurang Tegas Melaksanakan Protokol Kesehatan, di Luar Bagus, di Dalam Tidak"

Regional
Sedang Operasi Yustisi, Satgas Covid-19 Sumut Diserang Puluhan Preman, 5 Mobil Rusak, 3 Petugas Terluka

Sedang Operasi Yustisi, Satgas Covid-19 Sumut Diserang Puluhan Preman, 5 Mobil Rusak, 3 Petugas Terluka

Regional
Kapolda Sulsel Sebut Demo di Makassar Disusupi Aliansi Makar

Kapolda Sulsel Sebut Demo di Makassar Disusupi Aliansi Makar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X