Tak Punya Lubang Anus, Bayi Ini Buang Air Lewat Lubang Buatan di Perut

Kompas.com - 13/12/2019, 07:58 WIB
Nanik Mariyati, saat menggendong Naufal Putra Aditya, di rumahnya Lingkungan Randegan, RT 4 RW 2, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Jawa Timur. KOMPAS.COM/MOH. SYAFIÍNanik Mariyati, saat menggendong Naufal Putra Aditya, di rumahnya Lingkungan Randegan, RT 4 RW 2, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Jawa Timur.

MOJOKERTO, KOMPAS.com - Naufal Putra Aditya, bayi yang lahir pada Rabu, 6 November 2019, divonis mengalami kelainan Atresia Ani atau memiliki kelainan tidak punya anus.

Putra pertama dari pasangan Risky Junianto dan Nanik Mariyati itu terpaksa buang air lewat lubang buatan pada bagian perut sebelah kiri.

"Kata dokter, Naufal mengalami kelainan Atresia Ani," tutur Nanik Mariyati (34), ibu dari Naufal, kepada Kompas.com, Kamis (12/12/2019).

Sejak satu bulan lalu, Naufal bersama kedua orangtuanya tinggal di Lingkungan Randegan, RT 004 RW 002, Kelurahan Kedundung, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Jawa Timur.

Baca juga: Gadis 15 Tahun Jadi Korban Pencabulan Dokter di Mojokerto

Sebelum Naufal lahir, pasangan Risky Junianto-Nanik Mariyati tinggal di Dusun Bekucuk, Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.

Naufal, tutur Nanik, lahir normal dibantu bidan Desa Tempuran, Kabupaten Mojokerto. Anaknya memiliki berat badan 3 kilogram dan tingginya 48 sentimeter.

Saat lahir, belum terlihat adanya kelainan pada tubuh Naufal. Kelainan pada lubang anus, diketahui pada esoknya saat Risky dan Nanik memeriksakan anaknya ke bidan yang membantu persalinan.

Atas saran bidan desa, Risky dan Nanik membawa anaknya ke RSUD Dr Soetomo Surabaya. Di rumah sakit itu, diketahui jika Naufal mengalami kelainan atresia ani.

Nanik mengungkapkan, pada Jumat (8/11/2019) malam, tim dokter RSUD Dr Soetomo Surabaya, yang menangani Naufal, melakukan operasi dan membuatkan lubang pada perut bagian kiri agar bisa buang air besar.

Lewat lubang di bagian perut tersebut, Naufal bisa buang besar dengan dibantu kantong kolostomi atau plastik untuk pembuangan kotoran.

Siapkan 2 kantong kolostomi

Setiap hari, ungkap Nanik, diperlukan 2 kantong kolostomi. Setiap kantong kolostomi dibeli dengan harga Rp 68.000.

Pemakaian kantong kolostomi, lanjut dia, dilakukan hingga anaknya menjalani operasi pembukaan lubang anus. Operasi tersebut baru bisa dilakukan saat Naufal berusia 6 bulan.

Baca juga: Lindungi Sungai di Mojokerto, Perda Pengolahan Limbah Segera Disahkan

Nanik mengatakan, dengan penghasilan suaminya yang pas-pasan, selama 5 bulan ke depan dia dan harus menyediakan kantong kolostomi, rata-rata 2 kantong sehari.

Kondisi itu membuat beban hidup keluarganya makin berat.

Apalagi, saat operasi pertama untuk pembuatan lubang buang air sementara bagi Naufal, dia dan suaminya harus berutang.

"Memang seperti itu, kami dulu utang untuk itu (biaya operasi)," tutur Nanik.

Baru daftar BPJS

Nanik mengatakan, biaya persalinan dan operasi Naufal harus utang karena dia dan keluarganya selama ini tidak memiliki kartu BPJS.

Keluarga ini baru mendaftar sebagai peserta BPJS setelah dikunjungi Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, pada Rabu (11/12/2019) kemarin.

"Hari ini bapaknya ngurus (pendaftaran peserta BPJS). Kemarin (Rabu) Bu Wali Kota ke sini minta kami ngurus BPJS, biayanya (premi) dibantu Bu Wali Kota," ungkap dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Riset Media Sosial: Netizen Beri Nilai Rapor 66 untuk Kinerja Jokowi

Riset Media Sosial: Netizen Beri Nilai Rapor 66 untuk Kinerja Jokowi

Regional
7 Rumah di Pangandaran Rusak Akibat Diguncang Gempa Magnitudo 5,9

7 Rumah di Pangandaran Rusak Akibat Diguncang Gempa Magnitudo 5,9

Regional
KPU Kota Semarang Sediakan 3.447 Alat Bantu Huruf Braille untuk Pemilih Tunanetra

KPU Kota Semarang Sediakan 3.447 Alat Bantu Huruf Braille untuk Pemilih Tunanetra

Regional
Istri Polisi di Kaltim Jadi Tersangka Investasi Bodong dan Arisan Online Rp 200 Juta

Istri Polisi di Kaltim Jadi Tersangka Investasi Bodong dan Arisan Online Rp 200 Juta

Regional
Ketua KPU Positif Covid-19, Debat Pilkada Balikpapan Dibatalkan Mendadak

Ketua KPU Positif Covid-19, Debat Pilkada Balikpapan Dibatalkan Mendadak

Regional
[POPULER NUSANTARA] Detik-detik Perwira Polisi Ditangkap, Bawa Sabu 16 Kg | Demi Membela Diri dan Lindungi Aset Negara, Satpam Ini Dipenjara

[POPULER NUSANTARA] Detik-detik Perwira Polisi Ditangkap, Bawa Sabu 16 Kg | Demi Membela Diri dan Lindungi Aset Negara, Satpam Ini Dipenjara

Regional
 Pinjami Uang Rp 145 Juta, Yulia Dibunuh Rekan Bisnis Secara Sadis

Pinjami Uang Rp 145 Juta, Yulia Dibunuh Rekan Bisnis Secara Sadis

Regional
2 Satpam Dipenjara karena Tak Sengaja Bunuh Terduga Pencuri yang Masuk Obyek Vital Negara

2 Satpam Dipenjara karena Tak Sengaja Bunuh Terduga Pencuri yang Masuk Obyek Vital Negara

Regional
8 Orang Mengungsi karena Rumah Rusak Diguncang Gempa Pangandaran M 5,9

8 Orang Mengungsi karena Rumah Rusak Diguncang Gempa Pangandaran M 5,9

Regional
Keluarga Sengaja Tak Beritahu Pernikahan Siswi SMP ke KUA, Kadus: Takut Dipisahkan

Keluarga Sengaja Tak Beritahu Pernikahan Siswi SMP ke KUA, Kadus: Takut Dipisahkan

Regional
Libur Panjang di Tengah Pandemi, Ini Persiapan Sejumlah Daerah

Libur Panjang di Tengah Pandemi, Ini Persiapan Sejumlah Daerah

Regional
Pestisida Palsu Marak di Indonesia, Rugikan Petani dan Produsen

Pestisida Palsu Marak di Indonesia, Rugikan Petani dan Produsen

Regional
'Saya Bingung Mau Ngapain, 4 Bulan Tak Sekolah, Tak Punya HP, Saya Mau Ketika Dia Ajak Nikah' 

"Saya Bingung Mau Ngapain, 4 Bulan Tak Sekolah, Tak Punya HP, Saya Mau Ketika Dia Ajak Nikah" 

Regional
Asyik Berswafoto di Jembatan Layang, Seorang Pemuda Tewas Terjatuh

Asyik Berswafoto di Jembatan Layang, Seorang Pemuda Tewas Terjatuh

Regional
Tak Sanggup Hidup Susah, Siswi SMP di Lombok Memutuskan Nikahi Remaja 17 Tahun

Tak Sanggup Hidup Susah, Siswi SMP di Lombok Memutuskan Nikahi Remaja 17 Tahun

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X