Ibu Kota Negara Pindah ke Kaltim, Lembaga Adat Usulkan 8 Rekomendasi

Kompas.com - 29/11/2019, 16:49 WIB
Desa Semoi Dua Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara. Di kecamatan ini digadang-gadang jadi ibu kota negara. Foto diambil, Sabtu (26/10/2019). KOMPAS.com/ZAKARIAS DEMON DATONDesa Semoi Dua Kecamatan Sepaku Kabupaten Penajam Paser Utara. Di kecamatan ini digadang-gadang jadi ibu kota negara. Foto diambil, Sabtu (26/10/2019).

SAMARINDA, KOMPAS.com - Lembaga Adat Paser dan Penajam Paser Utara (PPU) di Kalimantan Timur mengusulkan delapan rekomendasi seiring penetapan pemindahan ibu kota negara ke lokasi ini.

Kabupaten PPU dan Kutai Kertanegara digadang-gadang jadi ibu kota negara. Dua lokasi ini memiliki wilayah berbatasan.

Delapan rekomendasi tersebut dihasilkan dalam Kongres Masyarakat Adat Paser PPU pada Minggu 1 September 2019 lalu di Jakarta.

Baca juga: Dukung Pemindahan Ibu Kota Negara, Balikpapan Siapkan Wifi Gratis di Ruang Terbuka

Musa, Ketua Lembaga Adat Paser PPU mengatakan, lembaga adat meminta Presiden Joko Widodo untuk segera mengesahkan Undang-Undang Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat.

"Itu penting agar eksistensi adat tak pudar sering pemindahan Ibu kota negara ke Kaltim," kata Musa saat dihubungi Kompas.com, Jumat (29/11/2019).

Selain itu, Musa mengatakan, lembaga adat juga mendesak Pemkab dan DPRD PPU menerbitkan Perda Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Masyarakat Adat Paser.

Lembaga adat juga mendesak pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk segera memfasilitasi pemetaan wilayah adat di PPU terutama di daerah calon ibu kota negara.

“Kami juga meminta pemerintah daerah dan pemerintah pusat agar segera menyelesaikan konflik-konflik agraria, lahan antara masyarakat adat Paser dan PPU dengan perusahaan,” jelasnya.

Baca juga: Gubernur Kaltim Tunggu Somasi Kerabat Kesultanan Kutai soal Lahan Ibu Kota Negara

Musa melanjutkan, lembaga adat juga meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah melibatkan utusan masyarakat adat Paser dan PPU dalam seluruh penentuan kebijakan ibu kota negara baik dalam persiapan maupun selama proses pembangunan.

Tak hanya itu, lembaga adat juga meminta pembangunan ibu kota negara haruslah bercita rasa nusantara dalam bingkai Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dengan tidak meninggalkan kearifan lokal, budaya, dan adat istiadat setempat.

Lebih jauh, lanjut Musa, dalam proses perencanaan pembangunan ibu kota negara, pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memperhatikan keberadaan wilayah kehidupan masyarakat adat Paser dan PPU.

Dengan demikian, keduanya bisa berjalan seimbang dan berkelanjutan.

Soal lain, lembaga adat juga meminta dalam bidang ketenagakerjaan, pemerintah daerah dan pusat memperhatikan keseimbangan agar masyarakat adat Paser dan PPU agar berkontribusi untuk pembangunan daerah dan bangsanya.

Musa menegaskan jika rekomendasi kongres tersebut tak dilaksanakan pemerintah pusat dan daerah, maka lembaga adat bisa menolak pemindahan Ibu kota negara ke Kaltim.

“Kami akan menolak jika tak diakomodasi. Buat apa ada ibu kota negara, kalau kehidupan kami masih menderita,” jelasnya.

Sejauh ini rekomendasi tersebut belum disampaikan ke istana, hanya ada koordinasi dengan pemda PPU dan DPRD PPU. Rekomendasi juga sudah disampaikan ke Kementerian Bappenas.

Sebagai informasi, Suku Paser adalah suku yang mendiami sepanjang tenggara pulau Kalimantan.

Penyebaran mereka terdapat di beberapa wilayah administratif kabupaten kota yakni Kabupaten Penajam Paser Utara, Kabupaten Paser, Kota Balikpapan, sebagian di kecamatan Semboja Kabupaten Kutai Karta Negara, hingga ke Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kota Baru, Provinsi Kalimantan Selatan.

Sebelum bergabung ke NKRI, suku ini pernah mendirikan sebuah kerajaan yakni Kerajaan Sadurengas yang berkuasa pada 1516 – 1703, lalu berubah menjadi Kesultanan Paser pada 1703- 1906.

Menurut data internal, jumlah masyarakat adat yang telah diidentifikasi sebanyak 12 sub suku Paser yang dibagi berdasarkan Daerah Aliran Sungai (DAS), di antaranya Paser Luangan, Paser Telake (Tikas dan Nyawo), Paser Pematang, Paser Migi, Paser Peteban (Leburan), Paser Bukit (Bukit Bura Mato, Bukit Jondang, Mandi Angin), Paser Paser Adang, Paser Balik, Paser Pemuken, Paser Tebalung, Paser Aper dan Paser Semunte.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X