Pembina Pramuka yang Divonis Hukuman Kebiri Kimia Tak Ajukan Banding

Kompas.com - 26/11/2019, 18:17 WIB
Ilustrasi kebiri, kebiri kimia ShutterstockIlustrasi kebiri, kebiri kimia

SURABAYA, KOMPAS.com - Rachmat Slamet Santoso, pembina gerakan Pramuka yang divonis hukuman kebiri kimia selama 3 tahun setelah menjalani hukuman badan, tidak mengajukan banding atas vonis yang dijatuhkan hakim Pengadilan Negeri Surabaya, Senin (18/11/2019) pekan lalu.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Surabaya, Fariman Isnandi Siregar, dikonfirmasi membenarkan jika terdakwa tidak mengajukan banding hingga 7 hari pasca pembacaan vonis.

"Hingga Senin sore kemarin, jaksa penuntut umum tidak memperoleh informasi jika terdakwa akan mengajukan banding. Artinya terdakwa menerima vonis hakim," katanya Selasa (26/11/2019) siang.

Baca juga: Aturan Teknis Kebiri Kimia Belum Terbit, 2 Terpidana Sudah Antre

Menurutnya, berdasarkan ketentuan Pasal 234 ayat 1 KUHAP dijelaskan, apabila dalam tujuh hari batas akhir jaksa maupun terdakwa tidak menyatakan banding, maka vonis yang dijatuhkan dinyatakan telah berkekuatan hukum tetap (inkracht).

Terdakwa sendiri sepanjang masa persidangan tidak didampingi penasihat hukum. Juru bicara Pengadilan Negeri Surabaya, Sigit Sutriono, mengatakan pihak pengadilan sudah menawarkan jasa pengacara negara, namun terdakwa menolak.

"Kalau menolak kami tidak bisa memaksa," ujarnya.

Rahmat divonis hukuman kebiri selama 3 tahun dalam sidang vonis Senin pekan lalu. Selain itu, dia juga divonis 12 tahun penjara, dan denda Rp 100 juta subsider kurungan 3 bulan.

Baca juga: Cabuli 15 Anak, Pembina Pramuka Divonis Kebiri Kimia dan 12 Tahun Penjara

Menurut Ketua Majelis Hakim Dwi Purwadi, terdakwa sebagai tenaga pendidik, terbukti secara sah dan meyakinkan, melakukan tindak pidana tipu muslihat kepada anak didiknya.

Perbuatan terdakwa disebut telah meresahkan masyarakat, membuat anak trauma, malu dan takut, serta merusak masa depan anak anak.

Terdakwa disebut melanggar Pasal 80 dan Pasal 82 UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentan perubahan kedua atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Rahmat Santoso diamankan Polda Jatim pada Juli 2019 lalu. Dia adalah seorang pembina gerakan Pramuka di Surabaya. Dengan dalih latihan Pramuka di rumahnya, dia melakukan pencabulan terhadap anak didik laki-laki.

Pelaku merayu para korban untuk menghadiri pendalaman materi Pramuka di rumahnya agar menjadi tim Pramuka elite.

Berdasarkan laporan yang masuk ke polisi, hingga saat ini anak yang mengaku menjadi korban sebanyak 15 anak. Mereka bukan hanya siswa Pramuka, anak tetangga juga kerap menjadi korban.

Pelaku sendiri sudah menjadi  pembina Pramuka sejak 4 tahun lalu. Dia membina Pramuka di 5 SMP dan 1 SD negeri dan swasta di Surabaya. 



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sebelum Kepala Bappeda Jatim Meninggal, 21 Anak Buahnya Positif Covid-19

Sebelum Kepala Bappeda Jatim Meninggal, 21 Anak Buahnya Positif Covid-19

Regional
Kawanan Belalang Tak Terhitung Jumlahnya 'Serbu' Landasan Pacu Bandara

Kawanan Belalang Tak Terhitung Jumlahnya "Serbu" Landasan Pacu Bandara

Regional
663 Pedagang dan Pembeli di Pasar Keputran Surabaya Rapid Test Massal, 37 Orang Reaktif

663 Pedagang dan Pembeli di Pasar Keputran Surabaya Rapid Test Massal, 37 Orang Reaktif

Regional
Gubernur Kalbar Akan Berhentikan 2 Kepala SMK di Pontianak yang Pungut Biaya Seragam

Gubernur Kalbar Akan Berhentikan 2 Kepala SMK di Pontianak yang Pungut Biaya Seragam

Regional
Satpol PP Banyumas Mandikan Manusia Silver yang Kepergok Minta Sumbangan di Pinggir Jalan

Satpol PP Banyumas Mandikan Manusia Silver yang Kepergok Minta Sumbangan di Pinggir Jalan

Regional
Tak Kenakan Masker, Pria Ini Dihukum Sapu Alun-alun pada Hari Ultahnya

Tak Kenakan Masker, Pria Ini Dihukum Sapu Alun-alun pada Hari Ultahnya

Regional
Pasien Ini Baru Sembuh Setelah Dirawat 75 Hari dan 19 Kali Tes Swab

Pasien Ini Baru Sembuh Setelah Dirawat 75 Hari dan 19 Kali Tes Swab

Regional
Aniaya Ibu Kandung hingga Meninggal, Pria Ini Bertaubat Usai Jalani Hipnoterapi Bersama Kapolres

Aniaya Ibu Kandung hingga Meninggal, Pria Ini Bertaubat Usai Jalani Hipnoterapi Bersama Kapolres

Regional
150 Ibu Hamil di Surabaya Tes Swab, Saat Melahirkan Akan Dites Ulang

150 Ibu Hamil di Surabaya Tes Swab, Saat Melahirkan Akan Dites Ulang

Regional
Diduga Perkosa Bocah 9 Tahun di Hutan, Oknum Polisi Dilaporkan ke Propam

Diduga Perkosa Bocah 9 Tahun di Hutan, Oknum Polisi Dilaporkan ke Propam

Regional
Sebelum Positif Covid-19, Wagub Kaltim Temani Istri Operasi hingga Rapat Paripurna Bersama DPRD

Sebelum Positif Covid-19, Wagub Kaltim Temani Istri Operasi hingga Rapat Paripurna Bersama DPRD

Regional
6 Kali Banjir dalam 2 Bulan di Luwu, Wagub Sulsel Minta Sungai Dinormalisasi

6 Kali Banjir dalam 2 Bulan di Luwu, Wagub Sulsel Minta Sungai Dinormalisasi

Regional
Pipa Gas Meledak di Palembang, Menyemburkan Api Setinggi 2 Meter

Pipa Gas Meledak di Palembang, Menyemburkan Api Setinggi 2 Meter

Regional
Warga Perbatasan RI-Malaysia Sulit Dapat BBM, Orang Sakit Terpaksa Ditandu 20 Km

Warga Perbatasan RI-Malaysia Sulit Dapat BBM, Orang Sakit Terpaksa Ditandu 20 Km

Regional
Perempuan Tanpa Busana Muncul di Belakangnya Saat Webinar, Ini Klarifikasi Dosen Uncen

Perempuan Tanpa Busana Muncul di Belakangnya Saat Webinar, Ini Klarifikasi Dosen Uncen

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X