Masih Ingat Balapan Tradisional Kadaplak? Permainan Ekstrem Ini Kembali Dihidupkan Generasi Milenial

Kompas.com - 22/11/2019, 10:56 WIB
Peserta balap kadaplak tengah meluncur di lintas curam di kaki gunung Palasari, Kampung Batu Loceng, Desa Sunten Jaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (21/11/2019). KOMPAS.COM/AGIE PERMADIPeserta balap kadaplak tengah meluncur di lintas curam di kaki gunung Palasari, Kampung Batu Loceng, Desa Sunten Jaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (21/11/2019).

BANDUNG, KOMPAS.com - Suara gelak tawa penonton riuh terdengar saat menyaksikan pembalap ' Kadaplak' terjatuh di lintasan curam.

"ha ha ha, deui (lagi) jay," seru penonton.

Meski terjatuh, pembalap itu pun ikut tertawa. Ia kemudian memperbaiki posisi kadaplaknya di lintasan curam dan kembali meluncur.

Pembalap lainnya terlihat mengangkat kadaplak di bahunya untuk ia bawa dengan berjalan ke titik lintasan tertinggi.

Di titik start, pembalap itu kemudian meluncur sekencang mungkin di lintasan curam.

Permainan tradisional Kadaplak kembali digelar di Kampung Batu loceng, Desa Sunten Jaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (21/11/2019). Setelah sebelumnya permainan tradisional ini mati suri.

Baca juga: Gasing Raksasa, Serunya Permainan Tradisional Masyarakat Munduk

Kadaplak merupakan permainan tradisional yang tergolong ekstrem. Bentuknya seperti mobil-mobilan tanpa mesin. Untuk kerangka hingga rodanya terbuat dari kayu atau bambu.

Bentuknya pun unik karena dibuat berdasarkan imajinasi pembuatnya.

Pegiat Kadaplak, Gunawan Azhari menjelaskan, berdasarkan sejarahnya, Kadaplak merupakan alat transportasi yang membantu petani untuk mengangkut hasil panen.

Panen yang dimaksud di Kampung Batu loceng sendiri saat itu adalah tembakau.

"Sesuai dengan sejarahnya dulu kadaplak dipakai di musim tertentu terutama di musim panen," kata Gunawan.

Sorenya, anak petani kerap menggunakan kadaplak sebagai hiburan permainan tradisional, dengan mengendarai kadaplak di lintasan curam. 

Kadaplak sudah ada sejak tahun 1930-an. Meski belum ditemukan bukti konkretnya, Gunawan menyimpulkan hal tersebut berdasarkan cerita sesepuh Kampung Batu Loceng.

"Di tahun 1930 an ini sudah ada dan lestari sampai 1990 an dan itu juga sudah makin berkurang," kata dia.

Di tahun 1990 - 2000an, permainan tradisional ini sempat vakum dimainkan oleh pemuda di kampungnya.

Hal tersebut dikarenakan transportasi lain berupa sepeda motor sudah sangat mudah didapatkan.

Belum lagi ditambah invasi game modern yang semakin mengikis permainan tradisional itu.

Guna mengenang masa lalu, pemuda Batu Loceng mencoba untuk membangkitkan kembali Kadaplak di era modernisasi dan digitalisasi ini.

Hal ini diawali pada tahun 2014, ada wacana pemuda desa untuk mengangkat kembali permainan tradisional kadplak

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X