Tangannya Menggantung-gantung Patah Belasan Tahun, tapi Sonto Wiryo Tetap Semangat Bekerja

Kompas.com - 20/11/2019, 09:10 WIB
Sonto Wiryo (84 tahun) asal Dusun Crangah, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mbah Sonto, begitu warga memanggilnya, tegar di kehidupannya sekarang ini. KOMPAS.COM/DANI JULIUSSonto Wiryo (84 tahun) asal Dusun Crangah, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mbah Sonto, begitu warga memanggilnya, tegar di kehidupannya sekarang ini.

KULON PROGO, KOMPAS.com - Sonto Wiryo (84 tahun) seperti menyatu dengan alam. Ia samar-samar terlihat di antara pohon dan semak dalam sebuah kebun nan rimbun di lereng perbukitan Dusun Crangah, Desa Hargotirto, Kecamatan Kokap, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sonto bertubuh mungil sekitar 150 cm. Garis keriput memenuhi wajahnya. 

Ia muncul dari balik kebun yang sepi sambil memikul tumpukan bongkok atau dahan kering pelepah kelapa. Tumpukan yang dipikulnya itu lebih panjang dan lebih lebar dari ukuran tubuhnya. Tapi, si kakek tetap saja tenang berjalan, seolah bongkok bukan beban.

Warga memanggilnya Mbah Sonto. Hari-hari mencari bongkok yang digunakan sebagai bahan bakar memasak nira menjadi gula kelapa. Produksi gula kelapa ini dijalani bersama Mujikem (80 tahun), istrinya.


"Niki ngangge genen (ini untuk pengapian tungku)," kata Sonto, Minggu (17/11/2019). Sonto masih memikul bongkok di bahu kiri. Ujung bibirnya sering kali menyungging senyum.

Baca juga: Kisah Pilu Gadis Penderita Kista Asal Cianjur, Pernah Tampil di Depan Jokowi

Kakek Sonto seperti halnya warga lain, sejatinya tampak biasa saja. Namun, Sonto menarik perhatian lantaran lengan atas sebelah kanan patah sehingga lengan bawahnya menggantung. 

Daging lengan atas yang biasanya otot berganti bulat tonjolan tulang patah. Kondisi ini dibiarkannya selama lebih 19 tahun sampai sekarang. 

"Niki patah. Mboten saget (tangan diangkat). Kulo dawah saking inggil," kata Sonto. Ia mencoba menjelaskan bahwa tangannya patah karena terjatuh dari ketinggian. Suaranya terdengar parau dan seperti hampir habis ketika berbicara. 

"Tulang itu nggantung tertahan urat dan otot saja," kata Barno (48), anak Sonto yang paling bungsu.

Dalam perjalanan waktu, kondisi kakek renta Sonto pun menjadi pemandangan biasa.

"Dengan kondisi seperti itu, warga sangat memahami. Misal dia tidak ikut kegiatan di warga, warga mengerti," kata Nartono (44), tetangga dekat sekaligus kerabat si kakek di Crangah.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X