Fakta Baru Kerusuhan Wamena, 16 Orang Tewas hingga Ribuan Warga Mengungsi

Kompas.com - 23/09/2019, 18:43 WIB
Kondisi saat sebuah bangunan terbakar menyusul aksi berujung ricuh di Wamena, Papua, Senin (23/9/2019).  Demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, dan beberapa kios masyarakat pada aksi berujung ricuh yang diduga dipicu kabar hoaks tentang seorang guru yang mengeluarkan kata-kara rasis di sekolah. AFP/VINA RUMBEWASKondisi saat sebuah bangunan terbakar menyusul aksi berujung ricuh di Wamena, Papua, Senin (23/9/2019). Demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, dan beberapa kios masyarakat pada aksi berujung ricuh yang diduga dipicu kabar hoaks tentang seorang guru yang mengeluarkan kata-kara rasis di sekolah.

KOMPAS.com - Kerusuhan massa di Kota Wamena, Papua, Senin (23/9/2019) diduga dipicu oleh perkataan rasis seorang oknum guru terhadap siswanya. Kapolda pun menegaskan, informasi adanya perkataan rasis adalah hoaks.

Namun demikian, informasi tersebut telah cepat menyebar luas dan memicu kemarahan massa.

Dari laporan jurnalis Kompas.com di Wamena, John Roy Purba, kemarahan massa diluapkan dengan membakar kantor bupati Wamena, rumah warga, PLN dan beberapa kios milik masyarakat.

Tak hanya itu, kerusuhan merembet ke sejumlah obyek vital lainnya, antara lain bandar udara Wamena.

TNI dan Polri pun segera dikerahkan ke lokasi kerusuhan untuk mengendalikan situasi keamanan.

Berikut ini fakta lengkapnya:

1. Penjelasan Kapolda Papua terkait informasi hoaks

Kapolda Papua Irjen Rudolf A Rodja memastikan, alasan massa melakukan aksi anarkistis di Wamena adalah karena mereka termakan kabar tidak benar (hoaks).

"Wamena minggu lalu ada isu, ada guru yang mengeluarkan kata-kata rasis sehingga sebagai bentuk solidaritas mereka melakukan aksi," ujarnya di Jayapura.

Sementara itu, polisi sudah melakukan penyelidikan terkait benar tidaknya ujaran bernada rasialis tersebut. Hasilnya, informasi itu tidak benar alias hoaks.

"Guru tersebut sudah kami tanyakan dan tidak ada kalimat rasis, itu sudah kami pastikan. Jadi kami berharap masyarakat di Wamena dan di seluruh Papua tidak mudah terprovokasi oleh berita-berita yang belum tentu kebenarannya," tuturnya.

Baca juga: Ini Penyebab Kerusuhan di Wamena Papua, Berawal dari Kabar Hoaks di Sekolah

2. Warga panik dan ketakutan saat kerusuhan pecah di Wamena

Berdasar laporan dari John, akibat aksi massa tersebut sebagian warga panik karena kehilangan anggota keluarga.

Selain itu, kini semua warga di kota itu sudah mengungsi ke kantor polisi dan Kodim.

Sementara unjuk rasa massa masih berlangsung. Massa berusaha merangsek masuk ke pusat bisnis Wamena. Namun, mereka segera dihadang aparat kepolisian.

"Kami berharap pemerintah ataupun pihak swasta membantu kami yang kekurangan makanan. Kami juga butuh baju karena yang kami bawa cuma baju di badan saja," kata Jenab Napitupulu, salah satu warga Wamena.

Baca juga: Rusuh di Wamena Papua, Ribuan Warga Mengungsi dan Kekurangan Makanan

3. Sebanyak 16 warga tewas dalam kerusuhan

Komandan Kodim 1702 Jayawijaya Letkol Inf Candra Diyanto mengatakan, terdapat 16 orang warga sipil yang tewas dalam kerusuhan. Sementara, 65 orang lainnya menderita luka-luka.

"Untuk korban, 65 orang luka, 16 meninggal, itu sipil semua. Aparat sementara tidak ada korban," ujar Candra Diyanto saat dihubungi Kompas.com, Senin.

Namun, Candra belum bisa menjelaskan secara rinci penyebab korban tewas. Saat ini, ia memastikan bahwa situasi mulai kondusif. Namun, seluruh aparat masih dalam posisi siaga.

"Aparat stand by 24 jam, semua objek vital kita amankan. Secara umum untuk di kota kondusif, namun kita antisipasi ada aksi susulan," kata Candra.

Baca juga: UGM dan Sanata Dharma Keluarkan Surat Edaran Terkait #GejayanMemanggil

4. Warga pilih mengungsi karena trauma

Akibat kerusuhan massa, ribuan warga di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, mengungsi Markas Polres dan Kodim Jayawijaya pasca-kerusuhan, Senin (23/9/2019).

Berdasarkan pantauan Kompas.com, setidaknya ada 3.000 pengungsi di Mapolres dan Makodim Jayawijay.

Sebagian besar pengungsi mengaku trauma akan kerusuhan susulan. Mereka juga telah kehilangan rumah akibat dibakar massa.

Baca juga: 7 Fakta Kerusuhan di Wamena, Ribuan Warga Mengungsi hingga Akses Internet Dibatasi

Sumber: KOMPAS.com (Rachmawati, Dhias Suwandi, John Roy Purba)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Identitas 11 Korban Tanah Longsor di Tarakan

Identitas 11 Korban Tanah Longsor di Tarakan

Regional
Uang Palsu Setengah Miliar Diamankan dari 3 Kakek Komplotan Pengedar

Uang Palsu Setengah Miliar Diamankan dari 3 Kakek Komplotan Pengedar

Regional
Silaturahim Akbar Batal Digelar di Surabaya, Polisi: Acara KAMI Tidak Memiliki Izin

Silaturahim Akbar Batal Digelar di Surabaya, Polisi: Acara KAMI Tidak Memiliki Izin

Regional
Batam Sediakan Isolasi Kelas VIP dengan Tarif Rp 800.000 Per Malam

Batam Sediakan Isolasi Kelas VIP dengan Tarif Rp 800.000 Per Malam

Regional
Langgar Protokol Kesehatan, Santri di Banyumas Disanksi Bersihkan Kamar Mandi

Langgar Protokol Kesehatan, Santri di Banyumas Disanksi Bersihkan Kamar Mandi

Regional
Bayi Kembar 10 Bulan Jadi Korban Tanah Longsor di Kota Tarakan

Bayi Kembar 10 Bulan Jadi Korban Tanah Longsor di Kota Tarakan

Regional
Soal Penanganan Covid-19 di Jateng, Ganjar: Sudah Tidak Ada Zona Merah

Soal Penanganan Covid-19 di Jateng, Ganjar: Sudah Tidak Ada Zona Merah

Regional
Gedung Diblokade Massa, Silaturahim KAMI yang Dihadiri Gatot Nurmantyo Batal Digelar

Gedung Diblokade Massa, Silaturahim KAMI yang Dihadiri Gatot Nurmantyo Batal Digelar

Regional
Seorang Pria Tewas Setelah Terpeleset di Lokasi Air Terjun

Seorang Pria Tewas Setelah Terpeleset di Lokasi Air Terjun

Regional
Tanah Longsor di 4 Titik Kota Tarakan, 11 Orang Tewas

Tanah Longsor di 4 Titik Kota Tarakan, 11 Orang Tewas

Regional
Usai Bunuh Bocah 10 Tahun, Pria Ini Sempat Setubuhi Jasad Korban di Kebun

Usai Bunuh Bocah 10 Tahun, Pria Ini Sempat Setubuhi Jasad Korban di Kebun

Regional
Desa di Sragen Jadi Pemasok Anjing Terbesar untuk Warung Makan, Sehari Kirim 300 Ekor

Desa di Sragen Jadi Pemasok Anjing Terbesar untuk Warung Makan, Sehari Kirim 300 Ekor

Regional
Total 13 Pegawai Puskesmas Denpasar Timur Positif Covid-19, Pelayanan Kesehatan Ditutup

Total 13 Pegawai Puskesmas Denpasar Timur Positif Covid-19, Pelayanan Kesehatan Ditutup

Regional
Foto Seronok Ibu Tersebar, Remaja di Tasikmalaya Trauma dan Alami Kekerasan Verbal

Foto Seronok Ibu Tersebar, Remaja di Tasikmalaya Trauma dan Alami Kekerasan Verbal

Regional
Mobil Rombongan Pengantin Alami Tabrakan Beruntun, 1 Tewas, 5 Luka Parah

Mobil Rombongan Pengantin Alami Tabrakan Beruntun, 1 Tewas, 5 Luka Parah

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X