Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

17 Agustus: Ende "Rahim" Pancasila...

Kompas.com - 17/08/2019, 07:03 WIB
Rachmawati

Penulis

KOMPAS.com - Don Bosco Wangge, Bupati Kabupaten Ende periode 2009-2014 di buku Ekspedisi Jejak Peradaban NTT: Laporan Jurnalistik Kompas pernah menyebut bahwa Ende sebagai " rahim" Pancasila.

"Sejarah perjuangan bangsa kita tak utuh tanpa pengakuan kalau Pancasila dikandung di Ende," tuturnya.

Selain itu, Don Bosco juga mengatakan belasan tonil yang bernafaskan semangat juang mengusir penjajah adalah fakta tidak terbantahkan bahwa perjuangan nasional pernah berkobar dari Ende.

Penelitian Yuke Ardhiati, arsitek profesional yang juga pengajar Fakultas Seni Rupa dan Disain Trisakti menyimpulkan, pemikiran Bung Karno di Ende sudah meliputi semua sila Pancasila.

Saat itu, Bung Karno menyebut sebagai Lima Butir Mutiara.

"Kota Ende membentuk stuktur pemikiran spiritual dan spatial Sukarni," kata Yuke dikutip dari buku Ekspedisi Jejak Peradaban NTT: Laporan Jurnalistik Kompas.

Rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (11/7/2016). Kota ini menyimpan sejarah panjang perihal sepak terjang Ir Soekarno atau Bung Karno selama empat tahun (14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938) menjalani pengasingan.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Rumah pengasingan Bung Karno di Jalan Perwira, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis (11/7/2016). Kota ini menyimpan sejarah panjang perihal sepak terjang Ir Soekarno atau Bung Karno selama empat tahun (14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938) menjalani pengasingan.

Dalam biografi yang ditulis Cindy Adams Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, Sukarno pernah bercerita khusus tentang Ende.

"Ende sebuah kampung nelayan telah dipilih sebagai penjara terbuka untukku. Keadannya masih terbelakang. Aku mendekat kepada rakyat jelata karena aku melihat diriku sendiri dalam orang-orang yang melarat ini. Di Ende yang terpencil dan membosankna itu, banyak wkatuku terluang untuk berpikir," tutur Soekarno dalam biografi tersebut.

Bung Karno juga bercerita, tempat menyendiri yang palimg ia gemari adalah di bawah pohon sukun (Artocarpus communis) yang menghadap laut.

"Revolusi kami tidak mempunyai titik batasnya. Revolusi kami, seperti samudra luas, adalah hasil ciptaan Tuhan, satu-satunya Maha Penyebab dan Maha Pencipta. Dan, aku tahu di waktu itu...aku harus tahu sekarang... bahwa semua ciptaan dari Yang Maha Esa, termasuk diriku sendiridan tanag airku, berada di bawah aturan hukum dari Yang Maha Ada."

Soekarno tiba di Ende pada tanggal 14 Januari 1934 setelah 8 hari berlayar bersama istri, Inggit Garnasih, ibu mertua dan anak angkat, Ratna Djuami dengan menumpang KM Van Riebeck.

Mereka tiba pukul 08.00 waktu setempat.

Kamar tidur mertua Bung Karno, Ibu Amsi dan anak angkat Ratna Djuami di Rumah Pengasingan Bung Karno, Jalan Perwira, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Kamar tidur mertua Bung Karno, Ibu Amsi dan anak angkat Ratna Djuami di Rumah Pengasingan Bung Karno, Jalan Perwira, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Dilansir dari tulisan J Pamudji Suptandar yang berjudul Rumah Tahanan Bung Karno di Ende, diceritakan Soekarno menempati rumah bergaya arsitektur Indis yang terletak di Jalan Perwira Nomor 24 berukuran 8 x 12 meter yang dicat warna putih untuk dinding dan warna hijau pada kerangka.

Ruang dalam tersusun empat ruang, ruang depan untuk ruang tamu dan tempat kerja, sedang ruag di dalam letaknya bersebelahan untuk ruang ruang tidur Bung Karno beserta istri, dan ruang yang berhadapan untuk ibu mertua dan anak angkatnya.

Di serambi belakang terbuka selasar dan di ujungnya terdapat ruang kecil bertuliskan "Ruang Semedi."

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com