Kasus Prada DP Mutilasi Kekasihnya, Menangis Saat Sidang hingga Makan Jeruk Sambil Merokok di Samping Jenazah

Kompas.com - 02/08/2019, 07:40 WIB
Prada DP menangis tersedu-sedu ketika mendengarkan keterangan saksi dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Militer I-04 Palembang, Kamis (1/8/2019). KOMPAS.com/AJI YK PUTRAPrada DP menangis tersedu-sedu ketika mendengarkan keterangan saksi dalam persidangan yang berlangsung di Pengadilan Militer I-04 Palembang, Kamis (1/8/2019).

PALEMBANG, KOMPAS.com - Fakta kekejaman Prada DP yang tega membunuh dan memutilasi kekasihnya  Fera Oktaria (21) terungkap dalam sidang perdana yang digelar di Pengadilan Militer I-04 Palembang, Kamis (1/8/2019).

Dalam sidang dengan agenda Dakwaan tersebut, Oditur menyebutkan secara detail kronologi pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan Prada DP terhadap pacarnya itu.

Prada DP diketahui membunuh Fera dilatarbelakangi asmara, dimana ia menduga bahwa ada pria lain yang saat ini sedang mendekati korban. Kecurigaan itu membuatnya kabur dari lokasi pendidikan kejuruan Infantri di Baturaja,pada 3 Mei 2019 lalu. 

Keributan dipicu masalah pasword ponsel

Prada DP dan Fera Oktria terlibat keributan karena ponsel korban dalam kondisi terkunci.

"Terdakwa dan korban sempat sepakat untuk membuat sandi handphone adalah tanggal hari jadian mereka yakni 091914. Namun, setelah dicek terdakwa sandi itu berubah," ujar Oditur.

Merasa curiga, Prada DP lalu menanyakan kepada korban kenapa sandi ponsel tersebut telah berubah.

"Lalu dijawab oleh korban, kamu mau enak saja berhubungan terus. Kapan kamu mau nikahi saya, sekarang saya sudah hamil dua bulan," ujar Mayor D Butar Butar.

Baca juga: Enggan Berikan Kesaksian, Ibu Prada DP Menangis dan Minta Maaf ke Keluarga Fera

Jawaban tersebut membuat Prada DP marah lalu membenturkan kepala Fera ke dinding dan membuatnya tak sadarkan diri. Kurang puas, pelaku lalu membekapnya hingga korban pun tewas seketika.

Merasa takut, Prada DP berupaya menghilangkan jejak dengan mencoba melakukan mutilasi dan membakar mayat korban, tapi usaha tersebut gagal.

"Prada DP telah berencana untuk membunuh korban jika memiliki pria lain," jelasnya.

Gergaji patah dua kali

Prada DP gagal melakukan mutilasi hingga tuntas karena gergaji yang digunakan patah.

Dalam dakwaan, Prada DP yang telah membunuh Fera dengan cara dicekik kebingungan untuk menghilangkan jejak atas aksi kejahatannya tersebut. Ia lalu keluar kamar penginapan dan melihat satu gergaji yang berada di dalam gudang dan digunakan untuk memotong tubuh Fera.

Namun saat terdakwa mencoba memutilasi korban, gergaji itu patah sebelum tangan korban putus.

Setelah gergaji patah, Prada DP kembali keluar kamar dan membawa sepeda motor milik korban menuju ke pasar. Di sana ia membeli buah serta gergaji dan tas untuk dibawa kembali ke penginapan.

Saat dipenginapan, terdakwa kembali melakukan mutilasi. Namun, gergaji itu kembali patah.

Prada DP menghubungi seorang temannya dan memberitahukan bahwa Fera telah ia bunuh.

Temanya pun terkejut atas tindakan Prada DP. Ia lalu meminta saran untuk menghilangkan jejak aksi pembunuhan tersebut.

"Teman dari terdakwa menyebutkan bakar saja," jelasnya.

Kondisi tubuh Fera yang sudah terbujur kaku lalu dimasukkan Prada DP ke dalam kasur. Ia menyiapkan obat nyamuk bakar yang telah dirakit dijadikan alat untuk membakar jenazah Fera.

Obat nyamuk yang dihidupkan terdakwa ternyata mati sehingga tubuh korban gagal dibakar.

Setelah membunuh dan memutilasi Fera, Prada DP duduk santai sembari mengisap satu batang rokok serta memakan buah jeruk di dalam kamar penginapan.

Jeruk tersebut sebelumnya dibeli oleh Prada DP di pasar tak jauh dari penginapan di Kabupaten Musi Banyuasin, saat membeli tas, koper serta gergaji.

Seluruh barang tersebut, rencananya digunakan Prada DP untuk membungkus jenazah korban.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X