ASN Dukcapil Sumba Timur Dibayar Rp 100.000 untuk Pemalsuan Dokumen TKI

Kompas.com - 26/07/2019, 12:12 WIB
Kanit Tindak Pidana Perdagangan Orang Subdit IV Renakta Direskrim Umum Polda NTT AKP Tatang P Panjaitan dan Ipda Viktor Nenotek sedang menunjukan paspor para calon tenaga kerja, Kamis (25/7/2019) KOMPAS.com/SIGIRANUS MARUTHO BEREKanit Tindak Pidana Perdagangan Orang Subdit IV Renakta Direskrim Umum Polda NTT AKP Tatang P Panjaitan dan Ipda Viktor Nenotek sedang menunjukan paspor para calon tenaga kerja, Kamis (25/7/2019)

KUPANG, KOMPAS.com - Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Nusa Tenggara Timur ( NTT), saat ini terus mengembangkan kasus pemalsuan dokumen sembilan orang calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Sumba Timur.

Kepala Unit Tindak Pidana Perdagangan Orang Subdit IV Kekerasan Anak dan Wanita Direskrimum Polda NTT AKP Tatang P Panjaitan mengatakan, pihaknya telah memeriksa tiga orang aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Sumba Timur.

"Tiga orang ASN yang sudah kita periksa itu, bekerja sebagai operator penerbitan Akta Kelahiran, Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga," ungkap Tatang kepada Kompas.com, Jumat (26/7/2019).

Dari tiga ASN itu, lanjut Tatang, yang melakukan proses data hanya dua orang saja.

Sedangkan, yang bertugas menerima uang adalah operator. Dia menerima uang Rp 100.000 sebagai upah pembuatan dokumen calon TKI.

"Hasil pemeriksaan, operator mengakui telah menerima uang Rp 100.000. Untuk jumlah keseluruhan uang yang diterima, operator mengaku lupa. Namun saat ini statusnya masih sebagai saksi," ujar Tatang.

Berdasarkan keterangan operator itu, dia menerima dokumen dan membuat semua permohonan dari petugas lapangan.

Terkait dugaan keterlibatan ASN itu, pihaknya akan berkoordinasi sekaligus minta petunjuk kepada jaksa penuntut umum.

Baca juga: Polisi Duga Ada Pemalsuan Umur Korban Perdagangan Manusia di KTP

Sebelumnya diberitakan, aparat Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur atau NTT menangkap dan menahan seorang ibu rumah tanggal berinisial FM (53), karena terlibat kasus perdagangan manusia.

Tatang mengatakan, FM adalah warga Kelurahan Hambala, Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur.

Selain FM, polisi juga menangkap tiga orang lainnya yakni YNT (27), AL (42) dan DKW (42).

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X