Ada Tumpukan Pasir di Hutan Lindung, Monyet Ekor Panjang Menghilang

Kompas.com - 18/06/2019, 14:19 WIB
Pasir milik PT Bumi Indah yang ditimbun di sekitar lokasi hutan Lindung Ilimmedo, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Senin (16/6/2019). KOMPAS.COM/ NANSIANUS TARISPasir milik PT Bumi Indah yang ditimbun di sekitar lokasi hutan Lindung Ilimmedo, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Senin (16/6/2019).

MAUMERE, KOMPAS.com - PT Bumi Indah melakukan penimbunan pasir di area hutan lindung Ilin Medo, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Diduga penimbunan pasir itu tidak memiliki izin dari Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Sikka.

"Ini kan masuk area hutan lindung. Kenapa bisa perusahaan menimbun pasir di lokasi ini. Saya menduga aktivitas penimbunan pasir ini tanpa izin dari dinas terkait," ujar Hendrikus Sukardi, tokoh masyarakat Desa Wairterang kepada Kompas.com di lokasi, Senin (16/6/2019).

Hendrikus mengatakan, aktivitas penimbunan pasir oleh PT Bumi Indah tersebut sudah berlangsung hampir satu tahun.

Baca juga: Bappenas Pastikan Ibu Kota Baru di Kalimantan Tak Ganggu Hutan Lindung


Menurutnya, aktivitas penimbunan pasir itu sangat menganggu warga yang tinggal di sekitar area hutan lindung.

"Saya ini kan punya usaha wisata di dekat tempat penimbunan pasir ini, sangat terganggu. Debu-debu pasir ini menebar ke dalam tempat penginapan kami. Jadinya sekarang, tamu yang datang nginap di sini tidak nyaman. Bahkan biasanya nginap sampai empat malam sekarang jadinya saut malam saja. Ada juga yang tidak mau nginap karena debu yang banyak," ungkap Hendrikus.

Selain itu, kata dia, akibat penimbunan pasir itu, saat hujan selalu terjadi banjir karena pasir menutup saluran air di jalan Trans Flores.

"Hancur sekali pak. Kalau musim hujan, penginapan kami punya ini masuk air kotor semua. Air dari jalan masuk ke sini. Bagaimana tidak hancur usaha kita ini. Saya sudah puluhan tahun usaha ini, baru kali alami musibah buatan seperti ini," katanya dengan kesal.

Sejak ada aktivitas penimbunan pasir di area hutan lindung itu, ia sudah melaporkan kepada pemerintah desa dan kecamatan. Namun, sampai hari ini belum ada respon sama sekali.

"Jawabannya waktu saya pergi, ya, nanti kita cek. Tetapi sampai hari ini aktivitas penimbunan terus berjalan," ungkap Hendrikus.

Baca juga: 5 Fakta Kelompok 11 Masuk ke Kebun Warga, Makan Batang Sawit hingga Digiring Masuk Hutan

"Ini jadi persoalan bagi kami yang berusaha di sini. Kami butuh kehadiran pemerintah untuk merespon keluhan kami masyarakat kecil. Tolong hentikan aktivitas penimbunan ini," sambungnya.

Ia juga mengatakan, akibat lain dari aktivitas penimbunan pasir itu adalah kera ekor panjang yang habitatnya ada di hutan lindung menghilang.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X