Di Grobogan , 77 Anak-anak Mengidap HIV/AIDS

Kompas.com - 09/05/2019, 17:55 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Slamet Widodo saat ditemui Kompas.com di ruang kerjanya, Kamis (9/5/2019). KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTOKepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Slamet Widodo saat ditemui Kompas.com di ruang kerjanya, Kamis (9/5/2019).

GROBOGAN, KOMPAS.com - Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah terus meningkat signifikan setiap tahunnya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan mencatat pada tahun 2017 ada 970 warga Kabupaten Grobogan terinfeksi HIV/AIDS dan sekarang jumlahnya meningkat menjadi 1.153 orang.

"Hingga Mei 2019 jumlah penderita HIV/AIDS di Grobogan yang dilaporkan meningkat menjadi 1.153 orang. Untuk anak-anak total 77 orang," terang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, Slamet Widodo saat ditemui Kompas.com di kantornya, Kamis (9/5/2019).

Baca juga: Wagub Sulut Dukung Kampanye Kilau Generasi Bebas HIV AIDS dan Napza

Menurut Slamet, dari hasil riset yang telah dilakukan, sebagian besar penderita HIV/AIDS adalah golongan ibu rumah tangga. Ironisnya, mereka tak menyadari jika virus yang merusak sistem kekebalan tubuh itu masuk di tubuhnya.

"Yang membawa virus HIV adalah sang suami. Ini karena sang suami yang bekerja di luar kota sering jajan sembarangan. Istri tak tahu, jika setelah diperiksa mereka mengidap HIV. Begitu juga suami, menyusul kemudian anak-anak mereka. Ini lah umumnya yang terjadi di Kabupaten Grobogan," jelas Slamet.

Menurut Slamet, sejauh ini Dinkes Kabupaten Grobogan telah berupaya untuk menggelar sosialisasi secara berkala terkait HIV/AIDS kepada masyarakat termasuk juga ke sekolah.

Baca juga: Sejumlah Fakta Terkait 14 Siswa HIV/AIDS di Solo Dikeluarkan dari Sekolah

Dinkes Kabupaten Grobogan juga telah melaksanakan program pemeriksaan kesehatan serta suplai obat gratis terhadap pengidap HIV/AIDS.

"Hingga saat ini sudah ada sekitar 30 puskesmas yang terlatih untuk monitoring dan penanganan HIV/AIDS. Sudah ada fasilitas alat screening HIV di setiap puskesmas," katanya.

Slamet menjelaskan, salah satu faktor yang mengakibatkan jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat adalah tidak tersampaikannya sosialisasi terkait HIV/AIDS kepada warga yang merantau ke luar kota atau warga boro. Fenomena inilah yang membuat pihaknya kuwalahan lantaran warga boro tersebut jarang sekali pulang ke kampung halaman.

Baca juga: Sekolah Pengganti Disiapkan bagi 14 Siswa Pengidap HIV/AIDS di Solo

"Banyak sekali warga Grobogan yang merantau ke luar kota. Kami sulit mendeteksi mereka. Terlebih kurangnya kesadaran mereka untuk memeriksakan diri lantaran tak pernah mendapatkan sosialisasi HIV/AIDS. Dari kasus yang ada di Grobogan, kebanyakan tertular dari warga boro," pungkas Slamet.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X