Kompas.com - 02/04/2019, 19:32 WIB
Kondisi di BTN Nauli,Doyo Baru, Kabupaten Jayapura, Papua, Minggu (31/3/2019). KOMPAS.com/DHIAS SUWANDIKondisi di BTN Nauli,Doyo Baru, Kabupaten Jayapura, Papua, Minggu (31/3/2019).

JAYAPURA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan para korban bencana banjir bandang di Kabupaten Jayapura harus direlokasi karena tempat tinggalnya tidak aman dan rawan terjadi bencana alam.

Hal tersebut pun mendapatkan beberapa tanggapan yang dari para korban yang sebagian besar masih mengungsi.

Dihubungi Kompas.com pada Selasa (2/4/2019), Andi Riri, warga perumahan BTN Gajah Mada, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, mengatakan setuju dengan rencana tersebut.

Namun, ia menginginkan relokasi dilakukan ke tempat yang tidak jauh dari perkotaan karena sebagai seorang orangtua tunggal, tempat mencari nafkahnya ada di Kota Jayapura.

"Setuju dengan relokasi, tapi jangan di Jalan Trans Papua karena kita kerjanya di sini. Di sana tempat baru, aksesnya jauh dari kota," katanya.

Baca juga: Diminta Presiden Tetapkan Wilayah Relokasi, Ini Jawaban Gubernur Papua

Andi yang bekerja sebagai pegawai swasta di salah satu perusahaan media yang ada di Papua meminta agar ada solusi lain yang ditawarkan pemerintah.

"Saya sudah dari 2016 tinggal di BTN Gajah Mada, kalau relokasinya harus di Jalan Trans Papua, lebih baik pemerintah kasih ganti rugi saja, biar kita cari rumah sendiri," tutur Andi Riri.

Sebelumnya BTN Gajah Mada telah dikatakan oleh Bupati Jayapura Mathias Awaitouw sebagai sebuah perumahan yang tidak memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan lokasinya ada di wilayah resapan air.

Yokiles Kogoy, warga yang tinggal di SIL (lereng Gunung Cyclop), Distrik Sentani mengatakan, kini kehidupannya sudah terlanjur dibangun di Sentani sehingga berat bila ia harus pindah ke tempat yang baru.

Mengenai wacana pemerintah untuk memulangkan masyarakat pegunungan tengah yang terdampak bencana ke daerahnya masing-masing, ia melihat hal tersebut bukan sebuah solusi bagi keluarganya.

"Kami bersedia di relokasi, tapi saya tidak bisa kembali ke Mulia (Kabupaten Puncak Jaya) karena anak-anak ada sekolah di sini (Sentani)," ujar Yokiles.

Baca juga: Gubernur NTT Diminta Presiden Tangani Bencana Alam di Manggara Barat

Warga lainnya, Aman Hasibuan, warga BTN Sosial, Kelurahan Henekombe, Distrik Sentani, menilai bahwa tidak semua korban bencana banjir bandang harus direlokasi.

Seperti warga BTN Sosial, kata Aman, yang sudah lama bermukin di lereng Gunung Cyclop dan tidak pernah tertimpah bencana banjir.

"Tidak mau relokasi dan belum tentu tempatnya aman. Yang harus direlokasi itu yang tinggal di kaki-kaki Gunung Cyclop. Sekarang yang lebih penting adalah aliran air harus segera dialihkan ke sungai," katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo yang mengunjungi korban banjir bandang Sentani yang ada di Posko Pengungsian GOR Toware pada Senin (1/4/2019), menyatakan para korban harus direlokasi karena tempatnya sudah tidak aman.

Mengenai lokasinya, Presiden menyerahkan kepada pemerintah daerah dan pemerintah pusat yang akan membangunkan rumahnya.

Jumlah pengungsi di GOR Toware mencapai 550 jiwa dan mereka adalah sebagian dari total sekitar 7.000 jiwa yang terdampak bencana banjir bandang yang terjadi pada 16 Maret.

Sementara dari hasil rekapitulasi hitung cepat, kerusakan dan kerugian infrastruktur akibat banjir bandang Kabupaten Jayapura mencapai Rp 506,4 miliar.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Disnaker Jabar Siap Awasi Pembagian THR oleh Perusahaan

Disnaker Jabar Siap Awasi Pembagian THR oleh Perusahaan

Regional
Terkait Fokus Kelola Anggaran, Bupati Jekek: Sudah Lewat 5 Program

Terkait Fokus Kelola Anggaran, Bupati Jekek: Sudah Lewat 5 Program

Regional
Emil Respons Positif Kerja Sama PT Agro Jabar dengan PT Agro Serang

Emil Respons Positif Kerja Sama PT Agro Jabar dengan PT Agro Serang

Regional
Jabar Jadi Provinsi Terbaik Penerapan PPKM Mikro, Kang Emil: Ini Tanda Kerja Keras Kita Konkret

Jabar Jadi Provinsi Terbaik Penerapan PPKM Mikro, Kang Emil: Ini Tanda Kerja Keras Kita Konkret

Regional
Soal Gerakan Cinta Zakat, Ganjar: Manfaatnya Hebat

Soal Gerakan Cinta Zakat, Ganjar: Manfaatnya Hebat

Regional
Ridwan Kamil: Gerakan Pramuka Harus Tumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Ridwan Kamil: Gerakan Pramuka Harus Tumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Regional
Semarang Jadi Kota Terbaik di PPD Jateng, Hendi: Kita Kawal untuk Realisasi Program

Semarang Jadi Kota Terbaik di PPD Jateng, Hendi: Kita Kawal untuk Realisasi Program

Regional
Wujudkan Masyarakat Maju, Bupati dan Wabup Wonogiri Siapkan 7 Program

Wujudkan Masyarakat Maju, Bupati dan Wabup Wonogiri Siapkan 7 Program

Regional
Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Regional
Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Regional
Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Regional
Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Regional
Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Regional
Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Regional
Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X