PPNS Kemenhub Ambil Alih Penyidikan Ethiopian Airlines

Kompas.com - 15/01/2019, 21:13 WIB
Pesawat Ethiopian Airline callsign ETH3728 yang melakukan penerbangan dari Addis Ababa menuju Hongkong, dipaksa mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau sekitar pukul 09.33 WIB, Senin (14/1/2019) dikarenakan masuk wilayah Indonesia namun tidak memiliki izin.DOK TNI AU Pesawat Ethiopian Airline callsign ETH3728 yang melakukan penerbangan dari Addis Ababa menuju Hongkong, dipaksa mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam, Kepulauan Riau sekitar pukul 09.33 WIB, Senin (14/1/2019) dikarenakan masuk wilayah Indonesia namun tidak memiliki izin.

BATAM, KOMPAS.com - Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Kementerian Perhubungan mengambil alih proses penyidikan pesawat kargo Ethiopian Airlines ETH3728 dengan nomor registrasi ET-AVN yang masuk wilayah kedaulatan udara yurisdiksi Indonesia tanpa dilengkapi flight clearance (FC).

Hal ini diungkapkan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di Batam, Selasa (15/1/2019).

Hadi mengatakan, sampai saat ini, pemeriksaan masih dilakukan di Batam. Sebanyak 6 kru masih diperiksa. Mereka terdiri dari pilot warga Kanada dan kopilot serta 4 awak kabin yang berkewarganegaraan Ethopia.

"Selain keempatnya, perwakilan maskapai Ethiopian Airlines dari Jakarta juga sudah menjalani pemeriksaan di Pos TNI AU Hang Nadim," kata Hadi.

Hadi mengatakan, dalam hal ini pihaknya hanya bertugas menurunkan paksa (force down) karena pesawat ini memasuki wilayah kedaulatan Indonesia tanpa dilengkapi flight clearance.

"Selanjutnya kami limpahkan ke PPNS Kemenhub untuk melakukan interogasi tersebut," jelas Hadi.

Baca juga: 5 Fakta F-16 Taklukan Pesawat Ethiopian Airlines, Langgar Wilayah NKRI hingga Butuh 20 Menit

Hadi menegaskan, setiap maskapai yang melintasi wilayah kedaulatan udara yurisdiksi Indonesia tanpa dilengkapi flight clearance, maka akan langsung ditindak tegas.

Danlanud Raja Haji Fisabilillah (RHF), Kolonel (P) Elistar Silaen menambahkan, terkait sanksi terhadap maskapai Ethiopian Airlines, PPNS Kemenhub yang menentukan.

"Untuk lamanya pemeriksaan tergantung dari PPNS Kemenhub, berapa lama mereka bisa mengumpulkan data-data dari kesalahan maskapai tersebut," jelas Silaen.

Lebih jauh Silaen mengatakan, masakapai Ethiopian Airlines ini datang dari arah Afrika dan dideteksi mulai dari perairan Samudera Hindia, tepatnya di perairan Pulau Nias.

Kemudian pihak Danlanud melakukan komunikasi melalui radio. Namun karena tidak mendapatkan jawaban, saat itulah TNI AU terbangkan 2 unit pesawat tempur F16 Fighting Falcon dari Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Riau, untuk melaksanakan penurunan paksa.

"Berdasarkan flight clearance maskapai tersebut, Indonesia tidak termasuk. Yang masuk lintasan mereka yakni Hindia, Bangladesh, Singapura dan Vietnam," katanya.

Ditanya soal pengelolaan Flight Information Region (FIR) yang dilakukan oleh Singapura sehingga tidak perlu lagi mengurus flight clearance di Indonesia, Silaen mengaku tidak tahu persis.

Baca juga: TNI AU Panggil Pihak Ethiopian Airlines yang Masuk Tanpa Izin ke Batam

Yang jelas, tegas Silaen, masakapai apa pun yang melintas wilayah kedaulatan udara yurisdiksi Indonesia tanpa dilengkapi flight clearance langsung ditindak tegas.

"Jadi apapun itu, maskapai Ethiopian Airlines harus mengurus perizinan, dan jika semua perizinan sudah lengkap semua, baru diperbolehkan untuk melanjutkan penerbangan ke negara tujuan, yakni Hongkong," tandas Silaen.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Kisruh Konfercab PDI-P Surabaya Berakhir, Adi Sutarwijono Dilantik Gantikan Wisnu Sakti Buana

Kisruh Konfercab PDI-P Surabaya Berakhir, Adi Sutarwijono Dilantik Gantikan Wisnu Sakti Buana

Regional
Bus Cadangan Pengantar Calon Jemaah Haji Senggol Pagar, 1 Tewas, 4 Terluka

Bus Cadangan Pengantar Calon Jemaah Haji Senggol Pagar, 1 Tewas, 4 Terluka

Regional
Guguran Lava Gunung Karangetang Mengarah ke Kali Beha Timur, Bupati Sitaro Keluarkan Imbauan

Guguran Lava Gunung Karangetang Mengarah ke Kali Beha Timur, Bupati Sitaro Keluarkan Imbauan

Regional
Buaya 2,5 Meter Ditangkap karena Kerap Muncul di Lokasi Pemandian Anak

Buaya 2,5 Meter Ditangkap karena Kerap Muncul di Lokasi Pemandian Anak

Regional
Di Berlin, Kualitas Manajemen Pemkot Semarang Diakui Dunia

Di Berlin, Kualitas Manajemen Pemkot Semarang Diakui Dunia

Regional
Kembali ke Lapas Sukamiskin, Begini Aktivitas Setya Novanto

Kembali ke Lapas Sukamiskin, Begini Aktivitas Setya Novanto

Regional
Struktur Mirip Fondasi Ditemukan di Situs Peninggalan Majapahit

Struktur Mirip Fondasi Ditemukan di Situs Peninggalan Majapahit

Regional
5 Tersangka Dugaan Korupsi Pembangunan Jembatan Cisinga Tasikmalaya Ditahan

5 Tersangka Dugaan Korupsi Pembangunan Jembatan Cisinga Tasikmalaya Ditahan

Regional
Murid SD Diculik dan Dicabuli di Toilet SPBU di Pekanbaru

Murid SD Diculik dan Dicabuli di Toilet SPBU di Pekanbaru

Regional
Korban Gempa Bali dan Maluku Utara Dapat Bantuan Rp 15 Juta, Rumah Rusak Akan Diperbaiki

Korban Gempa Bali dan Maluku Utara Dapat Bantuan Rp 15 Juta, Rumah Rusak Akan Diperbaiki

Regional
Pengungsi Gempa di Maluku Utara Capai 3.104 Jiwa, Butuh Tikar dan Selimut

Pengungsi Gempa di Maluku Utara Capai 3.104 Jiwa, Butuh Tikar dan Selimut

Regional
Wakil Ketua DPRD Surabaya Jadi Tersangka Korupsi Jasmas

Wakil Ketua DPRD Surabaya Jadi Tersangka Korupsi Jasmas

Regional
Hasil Investigasi: Ambruknya Tiang Penyangga Tol BORR karena 'Human Error'

Hasil Investigasi: Ambruknya Tiang Penyangga Tol BORR karena "Human Error"

Regional
Gerebek Pesta Sabu, Polisi di Palu Dilempari Batu dan Diacungi Senjata Tajam oleh Warga

Gerebek Pesta Sabu, Polisi di Palu Dilempari Batu dan Diacungi Senjata Tajam oleh Warga

Regional
Viral, Video Babi Berkeliaran Setelah Truk Pengangkutnya Terguling

Viral, Video Babi Berkeliaran Setelah Truk Pengangkutnya Terguling

Regional
Close Ads X