Nuril Bersurat Ke Kejagung Tolak Eksekusi Putusan MA

Kompas.com - 17/11/2018, 19:10 WIB
Nuril menunjukkan surat permohonan penundaan eksekusi atas putusan MA Kompas.com/fitriNuril menunjukkan surat permohonan penundaan eksekusi atas putusan MA

MATARAM, KOMPAS.com- Tim kuasa hukum dan Baiq Nuril Maknun terpidana kasus UU ITE, yang diputus Mahkamah Agung bersalah, lantaran merekam percakapan asusila atasannya yang menjabat sebagai kepala sekolah SMA 7 Mataram 2014 silam, Sabtu (17/11) bersurat ke Kejaksaan Agung. Mereka menolak eksekusi yang akan dilakukan Kejaksaan Negeri Mataram, Rabu mendatang.

Dalam surat itu tertulis, berdasarkan surat panggilan terpidana tanggal 16 November 2018 dari Kejaksaan Negeri Mataram yang ditanda tangani Kasipidum M.A Agus S Faisal meminta Nuril untuk menghadap Ida Ayu Putu Camundi Dewi selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU), 21 November 2018.

Atas pemanggilan tersebut, Nuril dalam surat permohonan penundaan eksekusi, menyatakan keberatan dan menolak upaya pemanggilan untuk eksekusi. Alasannya, pemohon belum menerima salinan putusan tingkat kasasi dari Mahkamah Agung RI.

"Kami sebagai kuasa hukum, juga ibu Nuril, merasa keberatan atas surat panggilan kejaksaan yang meminta ibu Nuril hadir dan bertemu dengan jaksa penuntut umum sebelum eksekusi dilakukan. Kami ingin tegaskan bahwa eksekusi tak bisa dilakukan sebelum salinan putusan MA kami terima," kata kuasa hukum Nuril, Joko Jumadi.

Baca juga: Nuril: Sebentar Lagi Saya akan Belajar di Sekolah Keadilan

Dikatakan Joko, apa yang mereka sampaikan berdasarkan ketentuan hukum pasal 270 KUHAP yang intinya menyatakan, pelaksanaan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan oleh jaksa, yang untuk itu panitera mengirimkan salinan putusan kepadanya.

"Sampai saat ini kami belum menerima salinan putusan MA, bagaimana kami akan mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Jika PK yang bisa kami lakukan untuk membuat hakim Mahkaman Agung meninjau ulang apa yang sudah diputuskannya," kata Joko.

Pihaknya juga menyampaikan surat permohonan penundaan eksekusi sekaligus menolak eksekusi itu karena beberapa alasan. Salah satunya adalah alasan kemanusiaan mengingat Nuril adalah seorang ibu yang memiliki 3 orang anak yang masih kecil, juga suami. Anak dan suami tentu saja sangat terpukul atas putusan kasasi itu.

"Nuril membutuhkan waktu mempersiapkan mental anak anak dan suaminya sehingga menolak eksekusi yang akan dilakukan kejaksaan. Nuril juga menjamin tidak akan kabur atau melarikan diri, mengingat selama menghadapi kasus UU ITE, Nuril menghadapinya dengan baik," tambahnya.

Joko mengatakan, ia dan Nuril tetap akan memenuhi panggilan kejaksaan Rabu 21 November nanti.

"Hanya saja kami melakukan perlawanan dengan menolak eksekusi yang akan dilakukan kejaksaan, mengingat salinan putusa MA belum kami terima," tegas Joko.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kecelakaan Maut di Jalintim Palembang-Ogan Ilir, Ayah dan Anak Tewas di TKP

Kecelakaan Maut di Jalintim Palembang-Ogan Ilir, Ayah dan Anak Tewas di TKP

Regional
Motor Tabrak Truk, Ibu dan Dua Anak yang Dibonceng di Depannya Tewas

Motor Tabrak Truk, Ibu dan Dua Anak yang Dibonceng di Depannya Tewas

Regional
Sejumlah Kiai Sepuh di Semarang Kecewa, Diundang Diskusi Covid-19 Malah Dicatut Dukung Paslon

Sejumlah Kiai Sepuh di Semarang Kecewa, Diundang Diskusi Covid-19 Malah Dicatut Dukung Paslon

Regional
Gubernur Riau Beri Smartphone untuk Anak yang Viral Bikin Konten Pakai Masker

Gubernur Riau Beri Smartphone untuk Anak yang Viral Bikin Konten Pakai Masker

Regional
Kasus Covid-19 Bertambah, Pemkab Bener Meriah Tutup 17 Sekolah

Kasus Covid-19 Bertambah, Pemkab Bener Meriah Tutup 17 Sekolah

Regional
Mudik dari Palembang Lalu Pergi ke Solo, Pria Ini Terpapar Corona

Mudik dari Palembang Lalu Pergi ke Solo, Pria Ini Terpapar Corona

Regional
Isolasi Mandiri Ketat Warga dari Luar Kota, Toraja Utara Kini Hampir Nol Kasus Covid-19

Isolasi Mandiri Ketat Warga dari Luar Kota, Toraja Utara Kini Hampir Nol Kasus Covid-19

Regional
Viral Lomba Voli Timbulkan Kerumunan dan Dibubarkan Polisi, Panitia Kembalikan Uang Tiket Penonton

Viral Lomba Voli Timbulkan Kerumunan dan Dibubarkan Polisi, Panitia Kembalikan Uang Tiket Penonton

Regional
Tekan Jumlah Kematian akibat Covid-19, Dinkes NTB 'Screening' Lansia

Tekan Jumlah Kematian akibat Covid-19, Dinkes NTB "Screening" Lansia

Regional
Pameran Seni Rupa 'Sugih Ora Nyimpen', Gambarkan Sosok Mendiang Jakob Oetama

Pameran Seni Rupa "Sugih Ora Nyimpen", Gambarkan Sosok Mendiang Jakob Oetama

Regional
Putra Wali Kota Jambi Meninggal akibat Covid-19, Kegiatan yang Langgar Protokol Kesehatan akan Dibubarkan

Putra Wali Kota Jambi Meninggal akibat Covid-19, Kegiatan yang Langgar Protokol Kesehatan akan Dibubarkan

Regional
Puluhan Vila di Puncak Bogor Disegel karena Nekat Disewakan Saat PSBB

Puluhan Vila di Puncak Bogor Disegel karena Nekat Disewakan Saat PSBB

Regional
12 Tenaga Medis RSUD Jambi Positif Covid-19, Layanan ICU hingga Radiologi Ditutup

12 Tenaga Medis RSUD Jambi Positif Covid-19, Layanan ICU hingga Radiologi Ditutup

Regional
Berkumpul hingga Larut Malam, Ratusan PSK di Babel Digiring ke Kantor Polisi

Berkumpul hingga Larut Malam, Ratusan PSK di Babel Digiring ke Kantor Polisi

Regional
Kampanye di Tengah Pandemi, Paslon Penantang Petahana di Malang Maksimalkan Platform Digital

Kampanye di Tengah Pandemi, Paslon Penantang Petahana di Malang Maksimalkan Platform Digital

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X