Kekeringan Melanda, Kasmi Gendong Jeriken Isi Puluhan Liter Air Sejauh 100-an Meter

Kompas.com - 04/11/2018, 08:37 WIB
Sungai hingga saluran irigasi di beberapa kecamatan di Kulon Progo mengalami kekeringan. Ribuan kepala keluarga terdampak kesulitan air bersih.  BPBD Kulon Progo kini masih mengelola ratusan tangki air untuk membantu warga. KOMPAS.com/ DANI JSungai hingga saluran irigasi di beberapa kecamatan di Kulon Progo mengalami kekeringan. Ribuan kepala keluarga terdampak kesulitan air bersih. BPBD Kulon Progo kini masih mengelola ratusan tangki air untuk membantu warga.

KULON PROGO, KOMPAS.com — Kemarau panjang kian menyulitkan warga Dusun Tangkisan 1, Desa Hargorejo, Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Warga yang tinggal di perbukitan ini terpaksa menempuh ratusan meter demi memperoleh air bersih dari sumur-sumur yang belum kering.

Salah satunya, Kasmi, perajin gula aren dan petani ketela berusia 51 tahun.

Setiap pagi pukul 08.00, Kasmi harus mengambil air di sumur terdekat yang jaraknya lebih dari 100 meter.

Ia mengambil air empat kali pulang pergi dari rumah ke sumur sambil menggendong jeriken berisi 20 liter air.

"Itu pun harus gantian dengan yang lain. Karena tak ada lagi sumur yang tidak kering. Banyak yang sudah kering sekitar sini," kata Kasmi, Sabtu (3/11/2018).

Baca juga: Anggaran Habis, BPBD Gunungkidul Ajukan Darurat Kekeringan

Kesulitan itu berantai ke lain hal. Warga lain, Noor Edi, seorang penderes nira berumur 41 tahun, mengatakan, kemarau ini berimbas pada produksi gula merah.

Penghasilan warga pun berkurang. Hampir semua warga Tangkisan yang sebagian besarnya penderes nira itu pun merasakan kesulitan keuangan akibat produksi gula merah yang berkurang.

Semua terasa sangat kering. Sungai hingga saluran irigasi pun kering. Daun gugur, tanah pecah-pecah, ladang tandus, pohon mengering, dan banyak yang sebentar lagi mati.

"Bambu sampai seperti ini (kuning) berarti tanah sangat kering," kata Noor Edi.

Tandan bunga pohon kelapa juga tidak maksimal menghasilkan nira. Hasil sadapan nira semakin sedikit dari waktu ke waktu.

Noor Edi mencontohkan, rata-rata penderes bisa menyadap dari 15 pohon tiap hari pada hari biasa, tetapi kini hanya 5 pohon sehari.

Alhasil, produksi gula juga berkurang banyak. "Nira dari 10 pohon bisa menghasilkan sedikitnya 4 kilogram gula. Sekarang hanya menghasilkan gula dari 5 pohon. Turun lebih dari setengahnya," kata Noor Edi.

Baca juga: Dampak Kekeringan di Magetan Meluas, 5.000 Warga Kesulitan Air Bersih

Kesulitan air bersih membuat warga terpaksa memanfaatkan sumur-sumur yang airnya masih sisa.

Noor Edi memiliki dua penampungan air sebesar 4,5 kubik masing-masing. Ia menyedot air sumur ke penampungan itu.

Pada hari normal, semua penampungan selalu penuh tiap hari. Lebih dari dua keluarga memanfaatkan penampungan itu.

"Sekarang 3 jam sudah habis. Ya kami sekarang meminta dari sumur-sumur yang masih ada airnya tapi perlu waktu lama," kata Noor Edi.

"Pekerjaan" tambahan ini sudah berlangsung tiga bulan belakangan. Baik Kasmi maupun Noor tidak mengeluh lantaran "biasa".

Kemarau yang menyebabkan warga kesulitan air bersih itu terjadi musiman tiap tahun.

"Bedanya kali ini lebih lama. Biasanya 5 bulan saja. Sekarang bisa lebih tujuh bulan kemarau. (Maka) kesulitan air (bersih) juga jadi lebih lama," kata Noor Edi.

Warga terpaksa meminta bantuan dari pemerintah dengan mengirim proposal permintaan bantuan padamasa tanggap darurat kekeringan yang dicanangkan sejak beberapa bulan lalu.

Kasmi dan Noor Edi memperoleh bantuan air bersih itu. Mereka mengisi bak mandi hingga air gentong di dapur.

PMI dan BPBD Kulon Progo mengelola bantuan itu dan terus menyalurkan bantuan air bersih, termasuk pada hari Sabtu.

Mereka mengelola bantuan air bersih, baik dari anggaran tanggap darurat kekeringan hingga bantuan lewat kegiatan CSR perusahaan, bakti sosial kelompok masyarakat, maupun sumbangan pribadi.

"(Sabtu) ada 8 tangki (5.000 liter per tangki) dari baksos masyarakat yang kami kirim ke Tangkisan," kata Sunardi dari BPBD.

Tanggap darurat kekeringan diperpanjang

Kekeringan terus berlanjut. Pemerintah pun berupaya kembali memperpanjang status tanggap darurat kekeringan untuk periode 1-19 November 2018 ini.

Ini perpanjangan darurat yang ke-2 kali sejak pertama ditetapkan pada Juli 2018.

Baca juga: Bencana Kekeringan, Sembilan Kecamatan di Ponorogo Krisis Air Bersih

Kekeringan tersebar di 30-an desa dalam 8 kecamatan. Sebanyak 7.400-an kepala keluarga merasakan dampak kesulitan mendapat air bersih.

Ini menyebabkan permintaan bantuan air bersih terus berdatangan. Dari 12 kecamatan, hanya Wates, Lendah, Galur, dan Temon yang tidak mengalami dampak tersebut.

"Sekalipun turun hujan, air tidak langsung meresap sampai ke sumur-sumur. Kekeringan bisa saja sampai ke wilayah lain yang sebelumnya tidak masuk dalam peta dampak kekeringan ini, karena sekarang ada yang mulai minta bantuan air bersih," kata Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo, Ariadi, pada kesempatan yang berbeda.

Pihaknya mengelola sekitar 400-an tangki air bersih. Jumlah itu diyakini cukup untuk kebutuhan warga sampai beberapa pekan ke depan.

Droping air paling sering ke Kecamatan Samigaluh, Kalibawang, Girimulyo, Kokap, dan Pengasih.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemerintah Daerah Ini Sediakan WiFi Gratis 24 Jam Bagi Pendaftar CPNS

Pemerintah Daerah Ini Sediakan WiFi Gratis 24 Jam Bagi Pendaftar CPNS

Regional
APBD Jateng 2020 Disahkan Sebesar Rp 28,3 Triliun

APBD Jateng 2020 Disahkan Sebesar Rp 28,3 Triliun

Regional
Trans Jateng Diprotes Awak Mikrobus di Purbalingga, Begini Respons Pemprov

Trans Jateng Diprotes Awak Mikrobus di Purbalingga, Begini Respons Pemprov

Regional
Hujan dan Angin Kencang di Banyuasin, 83 Rumah Rusak

Hujan dan Angin Kencang di Banyuasin, 83 Rumah Rusak

Regional
Pelaku Penggelapan Dana Nasabah BNI Ambon Kirim Toyota Alphard ke Temannya di Surabaya

Pelaku Penggelapan Dana Nasabah BNI Ambon Kirim Toyota Alphard ke Temannya di Surabaya

Regional
Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Lukai 6 Orang, Ini Nama-namanya

Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Lukai 6 Orang, Ini Nama-namanya

Regional
Sungai Anyar di Solo Tercemar Limbah Detergen

Sungai Anyar di Solo Tercemar Limbah Detergen

Regional
Nasib Warga di Daerah Rawan Bencana di Sukabumi Tunggu Hasil Kajian Badan Geologi

Nasib Warga di Daerah Rawan Bencana di Sukabumi Tunggu Hasil Kajian Badan Geologi

Regional
Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Seluruh Driver Ojol yang Masuk ke Mapolresta Samarinda Diperiksa

Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Seluruh Driver Ojol yang Masuk ke Mapolresta Samarinda Diperiksa

Regional
Sosok Djaduk Ferianto di Mata Dewa Budjana, Juki Kill The DJ, hingga Syaharani

Sosok Djaduk Ferianto di Mata Dewa Budjana, Juki Kill The DJ, hingga Syaharani

Regional
Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Linmas di Surabaya Dilengkapi Rompi Anti-Peluru

Pasca-bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan, Linmas di Surabaya Dilengkapi Rompi Anti-Peluru

Regional
Pendaftar CPNS di Jatim Capai 2.362, Tertinggi Ketiga Nasional

Pendaftar CPNS di Jatim Capai 2.362, Tertinggi Ketiga Nasional

Regional
8 Kabupaten Kota di Jabar Rawan Pelanggaran Pilkada, Mana Saja?

8 Kabupaten Kota di Jabar Rawan Pelanggaran Pilkada, Mana Saja?

Regional
Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Sering Pergi Pagi Pulang Tengah Malam

Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan Sering Pergi Pagi Pulang Tengah Malam

Regional
Sekolah Terendam Banjir, Siswa MTsN Matangkuli Terpaksa Diliburkan

Sekolah Terendam Banjir, Siswa MTsN Matangkuli Terpaksa Diliburkan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X