Hidup di Lingkaran Cincin Api Pasifik

Kompas.com - 20/10/2018, 21:00 WIB
Puing bangunan di Perumnas Balaroa akibat gempa bumi yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). Gempa bermagnitudo 7,4 mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan sedikitnya 420 orang meninggal dunia. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOPuing bangunan di Perumnas Balaroa akibat gempa bumi yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/9/2018). Gempa bermagnitudo 7,4 mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan sedikitnya 420 orang meninggal dunia.

KEBANYAKAN orang Asia Tenggara (seperti saya) tidak bisa memahami bagaimana bumi dengan sendirinya bisa tiba-tiba meraung, dan bergetar. Pada beberapa kasus tertentu seperti di Palu beberapa waktu lalu, permukaan tanah yang padat berubah menjadi cairan lumpur (istilah teknisnya, likuefaksi).

Sebelum saya pindah ke Indonesia 15 tahun yang lalu, satu-satunya pengalaman gempa yang pernah saya alami hanyalah getaran ringan yang terjadi di Kuala Lumpur, saat saya berusia tujuh tahun.

Ibu saya bercerita, saya tertidur sepanjang gempa, bahkan saat televisi kami (dulu televisi kami beroda) bergerak perlahan ke seberang ruangan, tidak ada kerusakan yang fatal kala itu.

Negara maritim Asia Tenggara, seperti Filipina dan Indonesia mengalami hal yang berbeda. Letaknya yang di lingkaran “Cincin Api Pasifik” (Ring of Fire), dengan serangkaian lempeng tektonis yang tidak stabil, membuat kedua negara kepulauan ini kerap mengalami gejolak seismik.


Baca juga: Video Amatir Ungkap Tsunami Palu datang 4 Menit Pasca Gempa

Bagi Indonesia “alam” menjadi bagian dari kehidupan, jika bukan ancaman. Dalam 15 tahun terakhir, Indonesia mengalami sejumlah gempa, gunung meletus, dan tsunami, begitu banyaknya sampai membuat staf saya di Jakarta memilih berkantor di lantai dasar karena takut terjebak di gedung tinggi bila terjadi gempa.

Catatan saya penuh dengan cerita langsung dari orang-orang yang berjuang melawan cobaan alam, merasakan kehilangan, lalu mereka harus membangun kembali kehidupan. Setiap cerita memiliki keunikannya sendiri, tidak ada yang sama, kecuali rasa takut dan ketidakberdayaan para korban saat bencana terjadi.

Sungguh, alam Indonesia sangat tidak dapat diprediksi.

Ada kalanya manusia seperti dipermainkan, seperti kucing mengejar tikus, sebelum diakhiri dengan pukulan yang mengakhiri penderitaan (baca: coup de grace).

Contohnya, pada 2006 saat Gunung Merapi akan erupsi dan semua mata tertuju ke limpahan lahar dan abu vulkanik, tiba-tiba terjadi pergerakan lempeng tektonik jauh di selatan, cambukan gempa pun memecah ketenangan kehidupan warga Bantul. Lebih dari 5.000 penduduk meninggal dunia.

Hal yang sama terjadi tahun ini, saat warga Bali bersiap menghadapi erupsi sang Gunung Agung dan mulai mengosongkan desa-desa dan peternakannya, Cincin Api Pasifik justru memberi kejutan dengan mengguncang Pulau Lombok yang tepat berada di timur Bali, memporakporandakan para petani yang tidak siaga dan merenggut 564 korban jiwa.

Kisah yang merisaukan dan menyayat hati. Di Aceh, salah satu narasumber saya bercerita bagaimana dirinya serasa ditelan oleh aliran air asin ketika diterjang tsunami 2004, lalu tersapu oleh arus bersama dengan sampah-sampah, kucing, anjing, pepohonan, mobil, serta rumah-rumah. Di tengah kekacauan itu, dia kehilangan putri bungsunya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X