Kisah Bocah-Bocah Pengasuh di Sampang, Bersekolah Sambil Mengasuh Adik (3) - Kompas.com

Kisah Bocah-Bocah Pengasuh di Sampang, Bersekolah Sambil Mengasuh Adik (3)

Kompas.com - 12/10/2018, 23:01 WIB
Ismail, siswa SDN Palenggiyan 1 Kedungdung Sampang, menggendong adiknya yang biasa ikut setiap hari ke sekolahnya. Di sekolah ia tidak hanya belajar, tapi juga mengasuh kedua adiknya. Kode Penulis : KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMAN Ismail, siswa SDN Palenggiyan 1 Kedungdung Sampang, menggendong adiknya yang biasa ikut setiap hari ke sekolahnya. Di sekolah ia tidak hanya belajar, tapi juga mengasuh kedua adiknya.


SAMPANG, KOMPAS.com - Bagi anak-anak siswa SDN Palenggiyan 1 Kecamatan Kedungdung, setiap hari bertemu dan berdampingan dengan kedua orangtuanya menjadi sumber kebahagiaan.

Setiap ada masalah, mereka bisa mencurahkan masalahnya kepada kedua orangtua.

Namun, tidak bagi anak-anak yang ditinggal kedua orangtuanya karena merantau ke luar daerah atau ke luar negeri menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Selain harus ikut merawat adiknya, hal paling berat yang mereka rasakan adalah rindu dan haus kasih sayang.

Ismail salah satunya. Ia ditinggal merantau ke Malaysia oleh ayahnya saat berusia enam tahun.

Menyusul ayahnya, ibu Ismail ikut juga mencari nafkah ke negeri jiran itu.

Dia harus merawat dirinya dan kedua adiknya yang setiap hari dibawa ke sekolah. Ismail sosok anak yang pendiam, pemalu namun cepat akrab dengan orang lain.

Baca juga: Kisah Bocah-bocah Pengasuh di Sampang, Bersekolah Sambil Mengasuh Adik (2)

Gaya bicara Ismail, sering menggunakan gerakan tubuh. Saat ada pertanyaan ya atau tidak, jawaban antara mengangguk atau menggeleng.

"Ismail kangen tidak sama ayah dan ibu?," tanya Kompas.com.

Ismail hanya mengangguk kemudian merunduk karena tidak berani menatap orang lain.

"Rindu berat?," tanya Kompas.com lagi.

Ia mengulangi anggukannya.

Saat rindu, Ismail meminta kepada kakak perempuannya untuk menelpon ayahnya Khotib atau ibunya Rohani di Malaysia.

Ismail sering meneteskan air mata saat mendengarkan ayahnya atau ibunya bicara di telpon. Apalagi saat mendengar pesan-pesan penting dari kedua orang tuanya.

Beberapa pesan yang sering diterima Ismail di antaranya, rajin shalat, rajin mengaji, rajin sekolah, jangan bertengkar dengan saudara-saudaranya, dan menghormati neneknya. Pesan lainnya, jangan pernah mengambil hak orang lain atau mencuri.

Baca juga: Kisah Bocah-bocah Pengasuh di Sampang, Bersekolah Sambil Mengasuh Adik (1)

"Ayahnya juga pesan kalau sudah lulus sekolah, agar melanjutkan ke pondok pesantren. Tujuannya agar ahklaknya bagus, meskipun tidak terlalu pintar," kata Remmeh, nenek Ismail.

Ismail sendiri mengaku, tidak ingat betul kepada wajah Khotib, ayah kandungnya. Yang ia kenali hanya suaranya saja ketika ditelepon.

Kalau wajah ibunya, Ismail masih mengingatnya karena baru setahun yang lalu pergi merantau ke Malaysia. Sedangkan kedua adiknya, Mila dan Dila, sama sekali tidak tahu wajah dan fisik ayahnya.

Sebagai anak yang ditinggal merantau kedua orang tuanya, Ismail terus tumbuh menjadi anak yang mandiri. Ia rajin membantu neneknya. Misalnya, ikut mencari air bersih ketika pulang sekolah. Atau, membantu neneknya mencari rumput.

Ia juga rajin memberi makan hewan ternak miliknya yang dibeli dari hasil kiriman kedua orang tuanya.

"Saya tidak memaksa dia untuk membantu saya, tapi karena keinginan dia sendiri. Saya juga tidak bisa melarangnya agar dia bisa belajar sehingga kelak ketika dia sudah dewasa banyak pengalaman hidup yang bisa membantunya," ujar Remmeh.

Harapan Remmeh kepada para cucunya, kelak semuanya bisa menjadi orang yang mandiri seperti yang telah diajarkannya selama ini. Yang paling penting, mereka bagus budi pekertinya. Soal rejeki, sudah diatur Allah.

"Se penting andi' tatakrama se begus. Oreng bejre benni polana sogi, tape karna aberri' manfaat ka oreng laen. (Yang penting punya ahlak yang bagus. Orang sukses bukan karena kaya, tapi karena bisa memberi manfaat kepada orang lain)," ungkap Remmeh. 



Close Ads X