Kisah Bocah-bocah Pengasuh di Sampang, Bersekolah Sambil Mengasuh Adik (2) - Kompas.com

Kisah Bocah-bocah Pengasuh di Sampang, Bersekolah Sambil Mengasuh Adik (2)

Kompas.com - 12/10/2018, 10:31 WIB
Ismail (11) siswa SDN Palenggiyan 1 sambil mengasuh kedua adiknya di sekolah. Di SDN Palenggiyan 1, anak-anak sekolah sambil mengasuh anak sudah turun temurun. KOMPAS.com/TAUFIQURRAHMAN Ismail (11) siswa SDN Palenggiyan 1 sambil mengasuh kedua adiknya di sekolah. Di SDN Palenggiyan 1, anak-anak sekolah sambil mengasuh anak sudah turun temurun.

SAMPANG, KOMPAS.comSekolah sambil mengasuh anak bukan pekerjaan mudah. Ismail, salah satu murid di SDN Palenggiyen 1, Kecamatan Kedungdung, Sampang, yang sedang menjalaninya.

Ia harus bisa menjaga kedua adiknya agar tidak mengganggu ketika pelajaran sedang berlangsung.

Agar kedua adiknya bisa tenang di kelas, Ismail harus rela berbagi uang jajan. Bahkan, ia rela uang jajannya dihabiskan kedua adiknya.

Sebagai anak yang ditinggal merantau ke luar negeri oleh kedua orangtuanya, uang jajan Ismail serba pas-pasan.

Baca juga: Kisah Bocah-bocah Pengasuh di Sampang, Bersekolah Sambil Mengasuh Adik (1)

 

Keadaan itu hampir sama dialami siswa lainnya. Dari 103 siswa yang ada, hampir 85 persen berasal dari keluarga miskin.

"Saya terkadang hanya minta jajan sisa yang dimakan adik agar mereka tidak berisik dan mengganggu di kelas," ujar Ismail.

Lyndia Putri Kurniawati, wali kelas VI, mengatakan, anak-anak yang ikut kakaknya selama di kelas jarang mengganggu.

Mereka ikut duduk manis seperti siswa lainnya. Sebab, sebelum masuk kelas, mereka sudah diperingatkan agar tidak mengganggu. Peringatan itu dipatuhi setiap anak yang ikut di kelas.

Namun, terkadang ada saja anak yang mengganggu jalannya pelajaran. Ketika sudah merasa terganggu, Lyndia menegur mereka.

"Ya, harus ditegur mereka dengan cara yang halus agar mereka tetap mau di kelas dan bisa mendengarkan pelajaran," kata Lyndia.

Sebagai kakak, Ismail juga tidak segan-segan menegur adiknya jika mengganggu. Terkadang ia harus merelakan bukunya untuk dicorat-coret, dibuat buku gambar agar adiknya diam, dan sibuk dengan kegiatannya sendiri.

"Kalau pas bergurau di kelas, bu guru pasti menegur. Tapi tidak sampai marah, apalagi mengusir adik dari dalam kelas," imbuh Ismail.

Baca juga: Kisah Bocah Bertaruh Nyawa demi Selamatkan Adik dan Neneknya Saat Gempa Palu

Lain lagi dengan Mohamad Zaenul Fata, siswa kelas V yang membawa adik sepupunya, Ristiani, ke kelas.

Ketika sudah mengganggu di kelas atau menangis, ia menenangkannya dengan cara digendong. Sebab, adik sepupunya baru berusia 2,5 tahun.

"Dia maunya dengan saya terus meskipun ke sekolah. Kalau menangis di kelas, saya gendong baru diam," ujar siswa yang akrab disapa Fata ini.

Lyndia yang baru setahun mengajar sebagai Guru Garis Depan (GGD) di SDN Palenggiyan  harus memahami kultur masyarakat setempat.

Dia banyak belajar kepada guru-guru yang lebih senior di sekolahnya untuk memahami anak yang ke sekolah sambil mengasuh adiknya.

Menurut guru asal Surabaya ini, jika anak ditegur keras, apalagi dimarahi, anak tersebut bisa tidak masuk sekolah. Bahkan bisa berhenti dari sekolahnya.

"Kita biarkan saja mereka sambil mengasuh adiknya di kelas. Yang penting tidak mengganggu," imbuh Lyndia.

Rodiatul Adawiyah, guru lainnya, mengatakan, anak-anak yang sekolah di SDN Palenggiyan 1, rata-rata pernah diasuh oleh kakaknya sebelum masuk SD.

Waktu kecil mereka ikut kakaknya. Setelah cukup usia, baru dimasukkan secara administratif sebagai siswa.

"Kita tidak ingin hubungan baik dengan masyarakat rusak karena kita ingin menegakkan aturan anak dilarang mengasuh adiknya di sekolah. Mereka bisa hengkang dari sekolah ini," ungkap Adawiyah. 



Close Ads X