Stop Peternakan Ayam di Jantung Geopark Gunung Sewu (1)

Kompas.com - 12/09/2018, 12:55 WIB
Lokasi peternakan ayam diambil dari luar lokasi yang terletak di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta, Selasa (11/9/2018). KOMPAS.com/Markus YuwonoLokasi peternakan ayam diambil dari luar lokasi yang terletak di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta, Selasa (11/9/2018).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Stop pembangunan peternakan ayam yang berdiri di kawasan geopark UNESCO Gunung Sewu di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Demikian harapan para pegiat wisata yang tergabung dalam Asosiasi Wisata Goa Indonesia. Mereka khawatir, pembangunan akan merusak ekosistem yang ada di dalam geopark.

Meski belum mengantongi izin, bangunan peternakan yang terletak di kawasan Dusun Tonggor, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, ini sudah berdiri megah. Bahkan, sudah beroperasi meski dalam skala kecil.

Baca juga: Banyak Jalan Menjadi Dalang di Gunungkidul (1)

President Indonesia Adventure Travel and Trade Association (IATTA) dan Asosiasi Wisata Goa Indonesia Cahyo Alkantana mengaku prihatin dengan pembangunan peternakan dengan skala besar oleh PT Widodo Makmur Unggas di kawasan bentang alam karst di Gunung Sewu UNESCO Global Geopark.

Tak jauh dari sana, terdapat geosite atau lokasi wisata di dalam Gunung Sewu, Goa Jomblang, Goa Ngingrong, dan lokasi wisata Telaga Jonge.

"Kami mengecam keras pembangunan peternakan ayam di sana. Itu merupakan jantung dari geopark Gunung Sewu yang diakui dunia," katanya saat dihubungi, Selasa (11/9/2018).

Baca juga: 4 Fakta di Balik Kasus Eko Tak Punya Jalan ke Rumah

Menurut Cahyo, protes ini bukan tanpa alasan karena kawasan karst bersifat korosi. Jika ada limbah yang masuk ke dalam tanah, maka akan turun ke mendekati sumber mata air.

"Pertama, kawasan karst memiliki sifat korositas tinggi. Artinya, apapun yang masuk ke batuan itu misalnya hujan akan masuk ke pori-pori bawah tanah. Limbah ayam dengan skala yang cukup besar dengan luas 20 hektar yang memproduksi menghasilkan limbah cukup besar tidak ada kata lain limbah dibuang ke dalam goa bawah tanah," tuturnya.

Baca juga: Awan Unik Muncul di Langit Semarang, Ini Penjelasan BMKG

Di bawah, lanjut Cahyo, Ada 3 sumber sungai bawah tanah yang bertemu di bawah peternakan, yaitu sumber Bribin, Baron dan sumber di sisi barat yang tidak bernama. Ketiga sumber air tersebut bertemu dan bermuara di Pantai Baron.

"Di Baron, air tersebut diambil untuk sumber PDAM. Bisa dibayangkan (jumlah) bakteri E-coli-nya akan tinggi sekali nantinya," ungkapnya.

Belum lagi, pencemaran udara yang dihasilkan akan mengganggu lingkungan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X