Sektor Pertanian di Sulawesi Selatan Tak Terdampak Pelemahan Rupiah

Kompas.com - 07/09/2018, 16:58 WIB
Petugas menghitung Dollar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (3/8/2018). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada Jumat (3/8/2018) sebesar Rp 14.503 per dollar AS. Pelemahan rupiah masih terus terjadi.

KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI)
03-08-2018 KOMPAS/PRIYOMBODOPetugas menghitung Dollar AS di Kantor Cabang Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (3/8/2018). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada Jumat (3/8/2018) sebesar Rp 14.503 per dollar AS. Pelemahan rupiah masih terus terjadi. KOMPAS/PRIYOMBODO (PRI) 03-08-2018

MAKASSAR, KOMPAS.comSektor pertanian di Sulawesi Selatan tidak terpengaruh oleh lemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Protokol dan Humas Pemerintah Provinsi Sulsel, Devo Khadafi saat dikonfirmasi, Jumat (7/9/2018) siang.

Menurut Devo, perekonomian di Sulsel masih normal meski dolar menguat terhadap seluruh mata uang Asia.

“Perekonomian di Sulsel masih normal, karena pondasinya dari sektor pertanian. Sehingga, tidak terlalu berdampak pada perekonomian di Sulsel. Berbeda dengan daerah lain yang basisnya industri, jelas akan berdampak pada kenaikan dolar,” katanya.

Baca juga: Rupiah Melemah, Ukuran Tahu dan Tempe Pun Terpaksa Dikurangi

Devo mengungkapkan, mata uang rupiah yang ada di masyarakat tetap mengalami perputaran di sektor perdagangan. Dengan demikian, mata uang asing tidak terlalu mempengaruhi mata uang rupiah di Sulsel.

“Jadi perputaran uang di tingkat pedagang kaki lima, pengusaha-pengusaha kecil dan masyarakat Sulsel tetap normal. Sehingga, perputaran mata uang dolar tidak sebesar di daerah-daerah industri seperti di Jawa,” tuturnya.

Baca juga: Rupiah Melemah, Pengusaha Sebut Bisa Bertahan Saja Sudah Bersyukur

Untuk mengantisipasi kenaikan harga dampak kenaikan nilai dolar, kata Devo, Pemprov Sulsel tetap memantau perekonomian. Pemantauan harga-harga terus dilakukan oleh tim Pengendali Inflasi Daerah.

“Jadi sampai saat ini, belum terlihat dampak dari kenaikan nilai dolar. Jika pun ada kenaikan harga, tim Pengendali Inflasi Daerah ini langsung melakukan evaluasi penyebab kenaikan dan langkah-langkah yang akan dilakukannya. Tim masih melakukan pemantauan harga-harga di pasaran,” tambahnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X