Embun Upas Turun Lagi, Ada "Bunga Kristal" di Dieng

Kompas.com - 02/08/2018, 13:24 WIB
Embun upas yang terjadi pada 27 Juli 2018 di Dieng. Dok. HarmonoEmbun upas yang terjadi pada 27 Juli 2018 di Dieng.

JAKARTA, KOMPAS.com - "Bunga kristal dari dataran tinggi Dieng," demikian tulis salah satu netizen, Harmono, pemilik akun Instagram, @hiyo_fa.

Saat dihubungi Kompas.com, Kamis (2/8/2018), Harmono, warga Selogiri, Garung, Wonosobo ini, mengatakan, pagi ini embun upas masih turun di Dieng, meski agak tipis.

Baca juga: Ini Penjelasan BMKG Soal Embun Es Dieng dan Kabut Pagi Cilacap

Sementara, foto bunga tertutupi embun upas yang diunggahnya di Instagram adalah fenomena yang terjadi pada 27 Juli 2018.

"Itu (foto di atas) aku ambil Rabu (27/7/2018). Kalau hitungan aku enggak tau persis sudah berapa kali. Kalau tebal seingat aku baru 3 kali," kata Harmono, Kamis pagi.

Kondisi saat ini, menurut dia, tak jauh berbeda meski dengan lapisan embun es yang lebih tipis.

Embun upas tipis yang terjadi Kamis (2/8/2018) di Dieng.Dok. Harmono Embun upas tipis yang terjadi Kamis (2/8/2018) di Dieng.

"Tapi kalau saat ini masih terjadi walau tipis upasnya. Pagi ya ada tapi tipis," lanjut dia.

Penjelasan BMKG

Dihubungi terpisah, Kepala Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan, fenomena embun upas memang masih terjadi.

Hal ini karena kondisi meteorologis dan musim kemarau yang saat ini tengah berlangsung.

"Fenomena suhu dingin malam hari dan embun beku di beberapa daerah dataran tinggi Indonesia (seperti lereng Pegunungan Dieng) lebih disebabkan kondisi meteorologis dan musim kemarau yang saat ini tengah berlangsung," kata Hary kepada Kompas.com, Kamis.

Kondisi puncak kemarau yang terjadi saat ini menyebabkan beberapa daerah pegunungan berpeluang mengalami kondisi udara kurang dari titik beku karena molekul udara di daerah pengunangan lebih renggang daripada dataran rendah.

Baca juga: Penjelasan BMKG soal Cuaca Dingin di Indonesia, Termasuk Embun Es di Dieng

Hal tersebut menyebabkan terjadinya pendinginan dengan sangat cepat.

"Pada kondisi puncak kemarau saat ini di Jawa, beberapa tempat yang berada pada ketinggian, terutama di daerah pegunungan, diindikasikan akan berpeluang untuk mengalami kondisi udara permukaan kurang dari titik beku 0°C," ujar dia.

"Hal tersebut disebabkan karena molekul udara di daerah pegunungan lebih renggang dari pada dataran rendah sehingga sangat cepat mengalami pendinginan, lebih lebih pada saat cuaca cerah tidak tertutup awan atau hujan," lanjut Hary.

Hary menambahkan, uap air di udara pada malam hari akan mengalami kondensasi yang akan mengembun, menempel jatuh di tanah, daun, atau rumput.

"Uap air di udara akan mengalami kondensasi pada malam hari dan kemudian mengembun untuk menempel jatuh di tanah, dedaunan atau rumput," papar dia.

Air embun yang menempel di pucuk tersebut akan segera membeku karena suhu udara yang sangat dingin.

"Kondisi tersebut relatif fluktuatif," kata Hary.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Regional
Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X