Gadis Berprestasi Ini Mengurung Diri di Kamar Selama 15 Tahun

Kompas.com - 16/07/2018, 16:06 WIB
Tim Anti Pasung DIY mengevakuasi Maryani warga Kedungpoh Kulon, Desa Kedungpoh Kecamatan Nglipar, Gunungkidul, Yogyakarta Senin (16/7/2018)Kompas.com/Markus Yuwono Tim Anti Pasung DIY mengevakuasi Maryani warga Kedungpoh Kulon, Desa Kedungpoh Kecamatan Nglipar, Gunungkidul, Yogyakarta Senin (16/7/2018)

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Wajah Tukiyo (62), warga Dusun Kedungpoh Kulon, Desa Kedungpoh, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, tampak berseri ketika menerima petugas dari Dinas Sosial Gunungkidul dan DIY.

Di halaman rumahnya sudah bersiap sebuah mobil niaga yang sengaja dia sewa untuk ikut mengantarkan anaknya ke RS Grasia, Sleman.

Tikar pun sudah digelar. Sejumlah makanan kecil dan teh hangat sudah tersedia di ruang tamu rumah sederhana beranyamkan bambu.

Tugiyo lantas mempersilakan masuk sejumlah petugas di kamar paling pojok belakang. Bau pesing menyeruak ketika petugas masuk ke kamar yang hanya ditutup kain itu.


Di dalam kamar gelap duduk seorang diri Maryani (32), dengan rambut panjang terurai.

"Sudah 15 tahun terakhir dia (Maryani) begitu, dia hanya berdiam diri di kamar. Keluar hanya untuk mandi dan sikat gigi. Kalau kencing hanya di depan kamar," kata Tugiyo saat ditemui sebelum evakuasi, Senin (16/7/2018).

Maryani merupakan anak yang pintar di sekolahnya. Dari SD hingga SMK, dia selalu mendapatkan peringkat yang bagus.

Baca juga: Alami Gangguan Jiwa dan Dipasung 14 Tahun, Eduardus Akhirnya Sembuh

Namun sejak ibunya meninggal saat melahirkan adiknya yang kedua, perilaku Maryani tiba-tiba berubah.

"SMK kelas 2 dia ingin keluar sekolah, dan kerja di Jakarta di sebuah pabrik konveksi. Lalu pulang ke rumah dan lama-lama mengurung diri di rumah," ucapnya.

Lalu Tugiyo menikah lagi dan anak-anaknya tinggal bersama ibu tiri saat ia bekerja sebagai penjual lotis di Bantul. Maryani berubah jadi lebih pendiam. Maryani diduga mengalami depresi setelah ibunya meninggal.

"Sampai saat ini dia mengubah rok dan bajunya dengan jahitan tangan sendiri," katanya.

Dikatakan Tukiyo, Maryani sudah beberapa kali melakukan pengobatan baik secara medis maupun alternatif. Mulai dari klinik di Yogyakarta hingga pengobatan alternatif di Solo hingga Sukabumi, Jawa Barat. Namun tidak berhasil.

"Sudah tidak berhasil, semuanya sudah dicoba, dari alternatif sampai medis. Apalagi tidak punya jaminan kesehatan," imbuhnya

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X