Gilang, Bayi Berwajah Dua Punya Reflek Isap yang Kurang Baik - Kompas.com

Gilang, Bayi Berwajah Dua Punya Reflek Isap yang Kurang Baik

Kompas.com - 14/07/2018, 12:42 WIB
Bayi laki-laki yang diberi nama Gilang Andika ini adalah putra pasangan Mustafa (32) dan Erlinasari (30) yang dilahirkan secara cesar atau operasi di Rumah Sakit (RS) Camatha Sahidya Muka Kuning. Tidak saja memiliki dua otak, Gilang Andika juga memiliki empat mata dan dua hidung.KOMPAS.COM/HADI MAULANA Bayi laki-laki yang diberi nama Gilang Andika ini adalah putra pasangan Mustafa (32) dan Erlinasari (30) yang dilahirkan secara cesar atau operasi di Rumah Sakit (RS) Camatha Sahidya Muka Kuning. Tidak saja memiliki dua otak, Gilang Andika juga memiliki empat mata dan dua hidung.

BATAM, KOMPAS.com - Gilang Andika, bayi laki-laki berwajah dua dengan otak terpisah yang lahir di Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) pada tanggal 7 Mei 2018 lalu ternyata memiliki reflek isap yang kurang baik.

Hal ini disampaikan dokter yang menangani Gilang, dr Nenden Ismawati SpA Mkes saat ditemui diruamg kerjanya di Rumah Sakit Awal Bros Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Kepada Kompas.com, Nenden, begitu sapaan akrabnya mengaku untuk kondisi Gilang saat ini terbilang sehat, bahkan untuk jantung, paru, hati hingga lambungnya dalam kondisi yang sehat.

Meski memiliki dua mulut, namun saluran tenggorokan atau saluran pencernaannya tetap satu, karena leher Gilang hanya satu.

"Gilang ini termasuk kembar siam, hanya saja bagian kembarnya terdapat pada wajahnya, namun saat di lehernya hingga bagian tubuh yang lainnya di bawah tetap satu," jelas Nenden, Sabtu (14/7/2018).

"Menariknya lagi, meski memiliki dua mulut namun Gilang tetap memliki saluran pencernaan satu sehingga tidak ada masalah Gilang mau makan menggunakan mulut yang mana, karena saluran pencernaannya satu dan langsung berhubungan lambung. Dalam arti lain, kondisi Gilang sehat dan lengkap," kata Nenden menambahkan.

Baca juga: Gilang, Bayi Berwajah Dua Kerap Alami Sesak Nafas karena Dirawat di Rumah

Diakui Nenden, di bagian belakang Gilang memang ada sedikit cairan. Hal itulah yang sampai saat ini menjadi kendala tim dokter yang ada di RS Awal Bros. Gilang tidak bisa sembarang dioperasi karena risikonya lumayan besar.

"Memang kami menarankan ke salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta yang memang alatnya lebih lengkap dari RS Awal Bros, namun hal itu juga tidak berarti bisa langsung dioperasi. Karena juga harus menunggu hasil perundingan tim dokter di sana," ungkap Nenden.

Nenden berharap agar pihak orangtua bisa memaklumi hal ini, karena pihak dokter juga tidak mau gegabah dalam mengambil suatu tindakan.

"Namun secara garis besar untuk kondisi Gilang, kami nyatakan sehat dan tidak ada masalah. Hanya saja reflek isap gilang kurang baik, makanya untuk saat ini kami lakukan bantuan selang agar asupan makanan seperti susu bisa masuk ke dalam mulut Gilang," ujarnya.

Namun, lebih jauh Nenden mengatakan hal itu tidak ada masalah karena per dua hari sekali Gilang diperiksa berikut diganti selangnya.

"Untuk masalah sesak nafas, sampai saat ini pihak orangtua tidak ada memberitahukan ke kami. Tapi saat pemeriksaan nanti akan kami lakukan pengecekan untuk mengetahui apa penyebabnya," kata Nenden.

Nenden juga berharap agar pihak orangtua bisa sesering mungkin berkomunikasi dengan dokter RS Awal Bros, terutama poli anak agar kondisi Gilang bisa terus dipantau.

"Bukannya kami tidak mau Gilang terus-terusan dirawat di rumah sakit, sebab kondisi Gilang memamg sehat saat 15 hari di RS Awal Bros. Kami juga tidak mau memisahkan Gilang dengan ibu kandungnya," terang Nenden.

Baca juga: Cerita Gilang, Bayi Berwajah Dua yang Lahir di Batam

"Makanya kemarin sebelum Gilang kami pulangkan ke kediamannya, kami latih ibu kandung Gilang untuk memberikan asi kepada Gilang dengan cara menggunakan selang agar Gilang bisa berkumpul dengan keluarganya dan kami berikan waktu dua hari sekali untuk pemeriksaan Gilang," terangnya.


Terkini Lainnya

Bareskrim Ungkap Jaringan Pemalsu Kartu Kredit

Bareskrim Ungkap Jaringan Pemalsu Kartu Kredit

Nasional
Tahun Ini, China Selesaikan Pembangunan 88 Gedung Pencakar Langit Baru

Tahun Ini, China Selesaikan Pembangunan 88 Gedung Pencakar Langit Baru

Internasional
Pria Spanyol Simpan Jenazah Ibunya di Dalam Rumah selama Setahun

Pria Spanyol Simpan Jenazah Ibunya di Dalam Rumah selama Setahun

Internasional
Dikira Anjing Liar, Pemilik Toko Hewan Ternyata Selamatkan Rubah Perak

Dikira Anjing Liar, Pemilik Toko Hewan Ternyata Selamatkan Rubah Perak

Internasional
Ada Gelaran Semarang 10K, Perhatikan Penutupan Ruas-Ruas Jalan Ini

Ada Gelaran Semarang 10K, Perhatikan Penutupan Ruas-Ruas Jalan Ini

Regional
Polisi Tetapkan 2 Tersangka Pesta Seks di Sleman

Polisi Tetapkan 2 Tersangka Pesta Seks di Sleman

Regional
Cegah Jajanan Terkontaminasi E-Coli, Dinkes Depok Imbau Warga Bawa Tempat Makan dan Minum Sendiri

Cegah Jajanan Terkontaminasi E-Coli, Dinkes Depok Imbau Warga Bawa Tempat Makan dan Minum Sendiri

Megapolitan
Sekjen PAN Menduga Kader Palsu PAN Ingin Cari Keuntungan dari Tim Jokowi-Ma'ruf

Sekjen PAN Menduga Kader Palsu PAN Ingin Cari Keuntungan dari Tim Jokowi-Ma'ruf

Nasional
PAN: Mereka Bukan Kader, Mungkin Orang yang Disewa, Dipakaikan Baju PAN untuk Foto

PAN: Mereka Bukan Kader, Mungkin Orang yang Disewa, Dipakaikan Baju PAN untuk Foto

Nasional
Keluarga Korban Lion Air JT 610 Dilarang Gugat Boeing

Keluarga Korban Lion Air JT 610 Dilarang Gugat Boeing

Regional
Bersiap, 'Agen-agen KPK' akan Sambangi Sekolah!

Bersiap, "Agen-agen KPK" akan Sambangi Sekolah!

Edukasi
Kementerian ESDM Pastikan Izin Lingkungan Pertambangan Jadi Kewenangan Pemda

Kementerian ESDM Pastikan Izin Lingkungan Pertambangan Jadi Kewenangan Pemda

Regional
KPAI: Putusan MK Beri Ruang untuk Kesempatan Pendidikan 12 Tahun

KPAI: Putusan MK Beri Ruang untuk Kesempatan Pendidikan 12 Tahun

Nasional
Ada Kasus E-coli, Dinkes Depok Tingkatkan Pengawasan Jajanan Sekolah

Ada Kasus E-coli, Dinkes Depok Tingkatkan Pengawasan Jajanan Sekolah

Megapolitan
Maleo dan Satwa Endemik Jadi Magnet Ekowisata 6 Desa di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Maleo dan Satwa Endemik Jadi Magnet Ekowisata 6 Desa di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Regional

Close Ads X