Kisah Pengungsi Gunung Agung, antara Hasrat Pulang dan Suara Gemuruh yang Menakutkan (1)

Kompas.com - 08/07/2018, 07:59 WIB
Sejumlah warga asal Desa Sebudi mengungsi di Bale Banjar Wates Tengah, Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem, Selasa (3/7/2018). Mereka masih ketakutan dengan erupsi yang disertai lontaran lava dan batu pijar. Tribun Bali/Saiful RohimSejumlah warga asal Desa Sebudi mengungsi di Bale Banjar Wates Tengah, Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem, Selasa (3/7/2018). Mereka masih ketakutan dengan erupsi yang disertai lontaran lava dan batu pijar.

AMLAPURA, KOMPAS.com - Sudah empat hari, Kadek Wati (30) mengungsi di Wantilan UPTD Pertanian Rendang, Karangasem, Bali.

Dia dan anak-anaknya meninggalkan tempat tinggalnya di Banjar Kesimpar, Desa Besakih, Karangasem, karena khawatir Gunung Agung kembali mengalami erupsi dan melontarkan lava serta batu pijar.

Dia pun belum berencana untuk kembali ke kampung halaman sebelum pemerintah menjamin keselamatan mereka saat berada di kampung halaman.

"Kalau pemerintah suruh pulang kampung, kami sangat senang. Kami tentu sangat senang pulang, daripada di pengungsian seperti saat ini. Tapi apakah pemerintah bisa sigap? Jika saat kami sudah di kampung, tiba-tiba kembali keluar api dari Gunung Agung, bagaimana? Siapa yang jamin keselamatan kami?" ungkap Kadek Wati saat ditemui di Posko Pengungsian UPTD Rendang, Jumat (6/7/2018).

Baca juga: Cerita Si Kembar RI 1 dan RI 2, Kakak Ingin Jadi Programmer, Adik Jadi Wakil Presiden (2)

Kadek Wati menuturkan, jarak rumahnya dari kawah Gunung Agung hanya sekitar lima kilometer. Saat erupsi strombolian yang disertai lontaran lava dan batu pijar terjadi Senin (2/7/2018) malam lalu, dia dan kerabatnya segera mengungsi secara mandiri.

Dia ingat benar perasaan ketakutan yang dialaminya saat berlari sembari menggendong anaknya.

Dia kemudian menumpang kendaraan dengan warga lainnya untuk menyelamatkan diri ke pengungsian di Rendang. Yang dibawanya hanya keluarga dan pakaian yang melekat di tubuhnya.

"Saat situasi seperti itu, pemerintah tidak ada koordinir. Kami bingung mencari tempat mengungsi. Kami hanya butuh tempat berteduh yang aman. Kalau makanan, kami masih bisa penuhi kebutuhan kami," ujarnya dengan mimik serius.

Baca juga: Kisah Soesilo Toer, Adik Pramoedya Ananta Toer yang Bergelar Doktor dan Kini Jadi Pemulung (1)

Ingin pulang, tetapi...

Hal senada juga diungkapkan pengungsi lainnya, Wayan Sutama.

Dalam lubuk hatinya, dia sangat ingin segera pulang ke kampung halamannya seperti yang diminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan. Namun karena teringat kejadian erupsi Senin malam lalu, dia merasa waswas.

"Tidak perlu tiba-tiba datang, lalu kami diminta pulang. Kami mengungsi bukan cari makanan (logistik) gratis, kami masih bisa beli beras. Tapi kami mengungsi cari tempat berlindung. Kami dengan senang hati pulang, tapi pada saat gunung meletus lagi, apakah pemerintah bisa sigap dan cepat mengevakuasi kami? Tidak seperti Senin malam lalu, tidak ada pemerintah mengkoordinir kami," katanya.

Bersambung ke halaman dua: Pemerintah sebut Gunung Agung aman dan imbau pengungsi untuk pulang

 

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jerinx Ajukan Banding atas Vonis 1 Tahun 2 Bulan Penjara

Jerinx Ajukan Banding atas Vonis 1 Tahun 2 Bulan Penjara

Regional
Diduga Depresi, Ibu di Kalsel Bunuh Dua Anaknya yang Masih Balita

Diduga Depresi, Ibu di Kalsel Bunuh Dua Anaknya yang Masih Balita

Regional
Jaksa Ajukan Banding terhadap Vonis Jerinx, Anggap Putusan Hakim Tak Berikan Efek Jera

Jaksa Ajukan Banding terhadap Vonis Jerinx, Anggap Putusan Hakim Tak Berikan Efek Jera

Regional
Branch Manager Bank Mega Malang Ditangkap akibat Penipuan Senilai Rp 5,7 M

Branch Manager Bank Mega Malang Ditangkap akibat Penipuan Senilai Rp 5,7 M

Regional
Banjir Terjang 2 Kabupaten di Jambi, Jembatan Putus dan 1.000 Rumah Terendam

Banjir Terjang 2 Kabupaten di Jambi, Jembatan Putus dan 1.000 Rumah Terendam

Regional
Pemprov Jabar Buka Layanan Desain dan Cetak Kemasan Gratis bagi IKM

Pemprov Jabar Buka Layanan Desain dan Cetak Kemasan Gratis bagi IKM

Regional
Edhy Prabowo Tersangka, Walkot Solo Setuju Susi Pudjiastuti Kembali Jadi Menteri KP

Edhy Prabowo Tersangka, Walkot Solo Setuju Susi Pudjiastuti Kembali Jadi Menteri KP

Regional
Mayat Bayi Perempuan Ditemukan Dalam Kantong Plastik, Begini Kronologinya

Mayat Bayi Perempuan Ditemukan Dalam Kantong Plastik, Begini Kronologinya

Regional
Haru, Nadif Ikuti Wisuda Virtual Seorang Diri di Makam Sang Ayah, Ini Ceritanya

Haru, Nadif Ikuti Wisuda Virtual Seorang Diri di Makam Sang Ayah, Ini Ceritanya

Regional
Deforestasi, Burung Migran dan Ancaman 'Bird Strike' di Bandara Kualanamu

Deforestasi, Burung Migran dan Ancaman "Bird Strike" di Bandara Kualanamu

Regional
Kisah Pilu 2 Nelayan Tersambar Petir Saat Melaut di Atas Kapal, Satu Orang Tewas

Kisah Pilu 2 Nelayan Tersambar Petir Saat Melaut di Atas Kapal, Satu Orang Tewas

Regional
'Kalau Pemerintah Bisa Bagi Vaksin Sebelum Proses Belajar, Kami Setuju KBM Tatap Muka'

"Kalau Pemerintah Bisa Bagi Vaksin Sebelum Proses Belajar, Kami Setuju KBM Tatap Muka"

Regional
Bupati Situbondo Tertular Covid-19, Puluhan Pejabat Lakukan Tes Swab

Bupati Situbondo Tertular Covid-19, Puluhan Pejabat Lakukan Tes Swab

Regional
Mantan Pegawai Bank Bikin Investasi Bodong, Larikan Uang Rp 15 Miliar Milik 15 Korban

Mantan Pegawai Bank Bikin Investasi Bodong, Larikan Uang Rp 15 Miliar Milik 15 Korban

Regional
Hakim Tolak Eksepsi Wasmad, Sidang Kasus Konser Dangdut Tegal Dilanjutkan

Hakim Tolak Eksepsi Wasmad, Sidang Kasus Konser Dangdut Tegal Dilanjutkan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X