Umat Buddha Bagi-bagi Takjil usai Ritual Waisak di Candi Mendut

Kompas.com - 28/05/2018, 07:37 WIB
Umat Buddha  bagi-bagi takjil atau makanan untuk buka puasa ditengah ritual penyemayaman api dharma di candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (27/5/2018). KOMPAS.com/IKA FITRIANA Umat Buddha bagi-bagi takjil atau makanan untuk buka puasa ditengah ritual penyemayaman api dharma di candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (27/5/2018).

MAGELANG, KOMPAS.com - Rangkaian peringatan Tri Suci Waisak 2562 BE/2018 di Candi Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terasa istimewa. Sebab acara ini digelar di tengah umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Candi Mendut sendiri terletak di tengah permukiman warga yang mayoritas menganut agama Islam. Setiap tahun, candi ini menjadi tempat puja bakti umat Buddha untuk menyambut Hari Raya Waisak.

Di candi tersebut, umat Buddha melakukan ritual penyemayaman api dharma atau api abadi. Ritual diawali dengan puja bakti (doa bersama) lalu dikirab oleh sejumlah biksu/biksuni mengelilingi Candi Mendut (Pradaksina).

Prosesi pun ditutup sesaat menjelang azan berkumandang atau tanda waktu berbuka puasa bagi masyarakat muslim di lingkungan sekitar Candi Mendut.

Sejumlah panitia bergegas keluar kompleks Candi Mendut sembari membawa tumpukan nasi kotak. Nasi itu lalu dibagi-bagikan kepada warga sekitar komplek candi, antara lain pedagang asongan, petugas keamanan, warga yang melintas, penjaga parkir, termasuk awak media yang sedang meliput prosesi tersebut.

"Tahun ini memang istimewa karena bersamaan dengan bulan puasa. Kami sudah diskusikan sebelumnya, kami juga meminta umat (Buddha) agar tidak makan dan minum sembarangan saat mengikuti ibadah Waisak di Candi Mendut dan Borobudur," jelas Bante Pabhakaro, panitia pelaksana Waisak 2562 BE/2018, di sela proses penyemayaman api abadi di Candi Mendut, Minggu (27/5/2018) petang.

Baca juga: Pengambilan Api Waisak, Pesan Kedamaian yang Menyirnakan Kegelapan

Pabhakaro menuturkan, sebagai makhluk yang hidup di dunia sepatutnya saling menghormati sesama. Sikap hormat menjadi awal kerukunan, persatuan dan kesatuan itu tercipta di masyarakat.

"Dengan kita saling hormat maka akan tercipta kerukunan dan kebahagiaan. Setiap manusia pasti ingin bahagia," tuturnya.

Untuk diketahui, penyemayaman api dharma merupakan salah satu rangkaian peringatan Tri Suci Waisak 2018. Api yang diambil dari pusat api abadi di Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah, itu memiliki makna semangat kehidupan yang harus terus dikobarkan. Api menjadi sarana puja bakti umat Buddha di manapun berada.

"Makna api itu semangat, setiap manusia ingin semangat berjuang. Api bersifat ke atas, jadi manusia hendaknya punya cita-cita yang tinggi. Api itu simbol bahwa manusia harus bisa mengendalikan amarah, bukan dikendalikan amarah atau masalah," jelas Pabhakaro.

Baca juga: 1.617 Polisi Amankan Perayaan Waisak 2018 di Candi Borobudur

Api dharma selanjutnya akan bersanding dengan air berkah yang diambil dari sumber mata air Umbul Jumprit Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Senin (28/5/2018).

Dua elemen tersebut nantinya akan dikirab oleh ribuan umat Buddha ke candi agung Borobudur sebagai lokasi puncak perayaan hari raya Waisak 2018, Selasa (29/5/2018).

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

4 Pejabat Pemkab Jember Bakal Dipanggil Paksa Polisi Hadiri Rapat Angket

4 Pejabat Pemkab Jember Bakal Dipanggil Paksa Polisi Hadiri Rapat Angket

Regional
Kapal Kayu Bawa 14 Penumpang Tenggelam di Banggai Laut, Sulawesi Tengah

Kapal Kayu Bawa 14 Penumpang Tenggelam di Banggai Laut, Sulawesi Tengah

Regional
Limbah Minyak Hitam Cemari Perairan Bintan, Plt Gubernur Kepri Marah

Limbah Minyak Hitam Cemari Perairan Bintan, Plt Gubernur Kepri Marah

Regional
Harimau Pemangsa Manusia di Muara Enim Bakal Dilepas ke Habitat Semula

Harimau Pemangsa Manusia di Muara Enim Bakal Dilepas ke Habitat Semula

Regional
Kronologi Oknum Guru Pukul Mantan Siswa dengan Besi Tiang Net Bulu Tangkis

Kronologi Oknum Guru Pukul Mantan Siswa dengan Besi Tiang Net Bulu Tangkis

Regional
Ibunda Eksekutor Hakim PN Medan: Anak Saya Penyayang, Membunuh Binatang Pun Tidak Akan Tega

Ibunda Eksekutor Hakim PN Medan: Anak Saya Penyayang, Membunuh Binatang Pun Tidak Akan Tega

Regional
Wali Kota Hendi Minta Keunggulan Kelurahan Plamongansari Dipertahankan

Wali Kota Hendi Minta Keunggulan Kelurahan Plamongansari Dipertahankan

Regional
Anggota Brimob Todong Warga dan Lepaskan Tembakan di Lokasi Wisata, Kapolres Polman Minta Maaf

Anggota Brimob Todong Warga dan Lepaskan Tembakan di Lokasi Wisata, Kapolres Polman Minta Maaf

Regional
Kronologi Anggota Brimob Todongkan Senjata ke Warga dan Lepaskan Tembakan gara-gara Karcis

Kronologi Anggota Brimob Todongkan Senjata ke Warga dan Lepaskan Tembakan gara-gara Karcis

Regional
Niat Prank Bunuh Diri di Jembatan, Mahasiswi di Bali Diamankan Warga

Niat Prank Bunuh Diri di Jembatan, Mahasiswi di Bali Diamankan Warga

Regional
Siswa SMK Ini Ciptakan Tangan Robot Khusus Disabilitas dengan Harga Murah

Siswa SMK Ini Ciptakan Tangan Robot Khusus Disabilitas dengan Harga Murah

Regional
Kasus Korupsi Hibah Pilwalkot, Eks Sekretaris KPU Makassar Divonis 5 Tahun Penjara

Kasus Korupsi Hibah Pilwalkot, Eks Sekretaris KPU Makassar Divonis 5 Tahun Penjara

Regional
Dibentak dan Dikeroyok Warga, Alasan Anggota Brimob Todongkan Senjata dan Lepaskan Tembakan Berkali-kali

Dibentak dan Dikeroyok Warga, Alasan Anggota Brimob Todongkan Senjata dan Lepaskan Tembakan Berkali-kali

Regional
Sejumlah Pejabat Pemkab Mojokerto dan Nganjuk Diperiksa KPK

Sejumlah Pejabat Pemkab Mojokerto dan Nganjuk Diperiksa KPK

Regional
Hasil Forensik Tak Ditemukan Tanda Penganiayaan dalam Kerangka Manusia di Bandung

Hasil Forensik Tak Ditemukan Tanda Penganiayaan dalam Kerangka Manusia di Bandung

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X