Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Tolikara Papua - Kompas.com

Gempa Magnitudo 6,1 Guncang Tolikara Papua

Kompas.com - 16/05/2018, 11:35 WIB
Ilustrasi gempa.Shutterstock Ilustrasi gempa.

JAYAPURA, KOMPAS.com - Gempat magnitudo 6,1 mengguncang wilayah Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua. Gempa tersebut memiliki kedalaman 111 KM.

Informasi itu diterima langsung dari keterangan resmi BMKG, Rabu (16/5/2018) . Menurut mereka gempa itu terjadi pada pukul 09. 12 WIT.

Sedangkan lokasi gempa berada di posisi 3.7 LS-138.67 BT (di darat, 32 KM Tenggara Tolikara, Papua), dengan kedalaman 111 KM.

Kemudian diteruskan di Wamena III-IV MMI. Di Nabire IIi MMi, Genyem III MMI, Timika III MMI dan di Sentani II MMI.

Baca juga: Kisah Korban Gempa Banjarnegara, Trauma hingga Tak Mau Injak Tanah

Lalu gempa susulan pada pukul 10:09 WIT terjadi, yang berlokasi di 2.88 LS-140.58 BT (di darat, 25 km Barat Laut Keerom-Papua), dengan kedalaman 10 KM, III - IV di Kabupate. Keerom, III - IV MMI di Sentani, III MMI di Jayapura.

Dari gempa yang melanda Papua, diperkirakan tak menimbulkan tsunami.

Plt. Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Bambang mengatakan, dari hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempabumi yang terjadi berkekuatan M=5,6.

Episenter terletak pada koordinat 3,7 LS dan 138,63 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 29 km arah tenggara Kota Geloko, Kabupaten Tolikara, Propinsi Papua pada kedalaman 88 km.

Baca juga: Jokowi Gelar Kuis Berhitung untuk Anak-anak Korban Gempa, Jawabannya Selalu Sembilan

"Dampak gempabumi yang digambarkan oleh Peta tingkat guncangan (shakemap) BMKG dan laporan masyarakat menunjukkan bahwa guncangan dirasakan di daerah Wamena II SIG-BMKG (III-IV MMI), Nabire, Genyem dan Timika II SIG-BMKG (III MMI), Sentani I SIG-BMKG (II MMI). Guncangan gempabumi ini cukup kuat dan dirasakan oleh orang banyak," ungkapnya.

Jika ditinjau dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, ungkap Bambang, tampak bahwa gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi menengah akibat aktivitas deformasi kerak bumi pada zona Western (Papua) Fold dan Thrust Belt (WFTB).

Baca juga: Banjarnegara Kembali Diguncang Gempa Tiga Kali, Ribuan Pengungsi Panik

"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi terjadi dipicu oleh adanya defornasi batuan dalam arah mendatar (strike slip)," tuturnya.

Hingga pukul 09.55 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock).

"Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," pungkasnya.

Kompas TV Media Edukasi Kebencanaan Melalui Diorama



Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X