Abraham Samad Ingin Koruptor Dihukum Mati dan Semua Asetnya Disita

Kompas.com - 08/05/2018, 07:11 WIB
Mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad menjawab pertanyaan wartawan saat dialog bersama Jurnalis Yogyakarta di Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (15/4). Dalam dialog tersebut Abraham Samad membahas berbagai permasalahan pengelolaan sumber daya di Indonesia serta arah bangsa Indonesia kedepan. ANTARA FOTO/Andreas Fitri AtmokoMantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad menjawab pertanyaan wartawan saat dialog bersama Jurnalis Yogyakarta di Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (15/4). Dalam dialog tersebut Abraham Samad membahas berbagai permasalahan pengelolaan sumber daya di Indonesia serta arah bangsa Indonesia kedepan.

MAKASSAR, KOMPAS.com — Saat mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden 2019 di Anjungan Pantai Losari, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad ingin koruptor dihukum mati dan seluruh asetnya disita untuk negara.

“Koruptor harus dihukum seberat-beratnya, dimiskinkan, dan aset-asetnya disita untuk negara. Bila perlu, hukuman mati bagi koruptor bisa dilaksanakan untuk memberikan jaminan kepastian hukum,” kata Abraham Samad di depan seribuan pendukungnya dalam deklarasi yang digelar, Senin (7/5/2018) sore.

Abraham mengatakan, korupsi membuat rakyat kehilangan hak, sawah, dan hutannya. Korupsi juga membuat nelayan kehilangan lautnya, buruh kehilangan haknya, dan ibu-ibu kehilangan dapurnya. Korupsi pula membuat bocah-bocah kehilangan keceriaannya, dewi keadilan kehilangan ketimbangannya, dan negara kehilangan wibawanya.

“Masih adakah sejumput rasa optimisme di dalam diri kita sebagai bangsa yang besar? Jawabannya tentu masih ada. Lalu bagaimana cara agar kita bisa keluar dari keterpurukan berkepanjangan ini? Hanya satu jawabanya, yakni berantas korupsi. Apa pun caranya, sengeri apa pun risikonya, korupsi harus kita lawan,” ujarnya.


Baca juga: Abraham Samad: Kita Belum Bicarakan Soal Siapa Presiden dan Wakil Presiden

Abraham pun mengatakan, politik harus dikembalikan ke fitrahnya sebagai sarana membawa bangsa menuju kesejahteraan. Politik harus dikembalikan menjadi beradab dan beretika. Politik harus mendahulukan kepentingan rakyat, jauh di atas kepentingan pribadi dan golongan.

“Politik harus dilakukan dengan cara tidak culas dan licik. Politik yang menomorsatukan uang harus kita lawan  karena hanya akan membodohi dan menyesatkan rakyat. Dunia politik harus dicerahkan dan disiumankan dari kekhilafannya. Kini sudah waktunya kita mendorong orang-orang baik, punya integritas dan dedikasi untuk mewakafkan hidupnya terjun mengelola politik,” katanya.

Baca juga: Testimoni Iwan Fals Muncul dalam Deklarasi Abraham Samad sebagai Capres

Politik, hari ini, lanjut Abraham, adalah saling makan dan saling terkam. Manusia menjadi serigala bagi manusia lain. Saling tikam, kejamnya bukan main. Tetangga tidak saling sapa, teman menjadi musuh dan bahkan saling bunuh.

“Partai politik saling intai dan saling sandera, bertarung secara brutal dan tanpa logika. Keagungan filosofi politik sebagai alat mencapai kesejahteraan bersama tak lagi bermakna. Yang tinggal hanya kesejahteraan orang atau kelompok. Yang tak sealiran hanya teronggok di pojok,” tuturnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Tersangka Pabrik Narkoba di Tasikmalaya Dituntut Hukuman Mati

5 Tersangka Pabrik Narkoba di Tasikmalaya Dituntut Hukuman Mati

Regional
Warga Sleman Temukan Bayi Perempuan yang Baru Lahir 3 Hari di Pinggir Jalan

Warga Sleman Temukan Bayi Perempuan yang Baru Lahir 3 Hari di Pinggir Jalan

Regional
Kasus Bocah 11 Tahun Disandera Abu Sayyaf, Keluarga: Dia Ikut Pamannya Cari Ikan

Kasus Bocah 11 Tahun Disandera Abu Sayyaf, Keluarga: Dia Ikut Pamannya Cari Ikan

Regional
Sempat Padam 19 Jam, Listrik di Kalsel dan Kalteng Diklaim Sudah Pulih 85 Persen

Sempat Padam 19 Jam, Listrik di Kalsel dan Kalteng Diklaim Sudah Pulih 85 Persen

Regional
Salah Info soal Kakek Mati Kelaparan, Wagub Sulsel Tetap Minta Warga Miskin Diperhatikan

Salah Info soal Kakek Mati Kelaparan, Wagub Sulsel Tetap Minta Warga Miskin Diperhatikan

Regional
Terseret Ombak Pantai Sawarna Banten, 1 Wisatawan Jakarta Tewas

Terseret Ombak Pantai Sawarna Banten, 1 Wisatawan Jakarta Tewas

Regional
'Selfie' di Atas Jembatan Gantung di Bengkulu Berujung Maut, 10 Orang Tewas Terseret Banjir

"Selfie" di Atas Jembatan Gantung di Bengkulu Berujung Maut, 10 Orang Tewas Terseret Banjir

Regional
Warga Semarang Tolak Tempat Pembuangan Sampah yang Dekat dengan Permukiman

Warga Semarang Tolak Tempat Pembuangan Sampah yang Dekat dengan Permukiman

Regional
Bantu Hiu Paus yang Terdampar di Pantai, Warga: Kami Tolong karena Masih Hidup

Bantu Hiu Paus yang Terdampar di Pantai, Warga: Kami Tolong karena Masih Hidup

Regional
Pria di Semarang Masih Hidup meski Sudah Terpental Ditabrak Kereta

Pria di Semarang Masih Hidup meski Sudah Terpental Ditabrak Kereta

Regional
Listrik Padam Lebih dari 19 Jam, Gubernur Kalsel Minta PLN Percepat Perbaikan

Listrik Padam Lebih dari 19 Jam, Gubernur Kalsel Minta PLN Percepat Perbaikan

Regional
Harapan Ridwan Kamil pada Gebrakan Rektor Baru ITB Reini Wirahadikusumah

Harapan Ridwan Kamil pada Gebrakan Rektor Baru ITB Reini Wirahadikusumah

Regional
Wi-Fi Gratis di Masjid, Menyusul di Tempat Ibadah Lainnya

Wi-Fi Gratis di Masjid, Menyusul di Tempat Ibadah Lainnya

Regional
Ancam Satwa Endemik, Walhi Imbau Izin 9 Perusahaan HTI Ditinjau Ulang

Ancam Satwa Endemik, Walhi Imbau Izin 9 Perusahaan HTI Ditinjau Ulang

Regional
Titik Terang Identitas Kerangka Manusia di Sofa Rumah Kosong Bandung: Pria Paruh Baya, Ras Asia

Titik Terang Identitas Kerangka Manusia di Sofa Rumah Kosong Bandung: Pria Paruh Baya, Ras Asia

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X