PVMBG: Tsunami Besar Pernah Terjadi di Selatan Yogyakarta 640 Tahun Lalu - Kompas.com

PVMBG: Tsunami Besar Pernah Terjadi di Selatan Yogyakarta 640 Tahun Lalu

Kompas.com - 13/03/2018, 18:57 WIB
Tim dari Geologi melakukan Penelitian di Pantai Ngrawe, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Yogyakarta, Selasa (13/3/2018).KOMPAS.com/ MARKUS YUWONO Tim dari Geologi melakukan Penelitian di Pantai Ngrawe, Kecamatan Tanjungsari, Gunungkidul, Yogyakarta, Selasa (13/3/2018).

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Tim Peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meneliti tsunami di sepanjang pesisir pantai di Gunung Kidul, Yogyakarta. Hasilnya, tim menemukan jejak tsunami besar terjadi 640 tahun lalu di kawasan itu.

Selama sepekan terakhir, tim yang berjumlah empat orang ini melakukan penggalian di sejumlah pantai di Gunung Kidul, seperti Pantai Ngrawe, Kukup, Krakal, Sadranan, Slili, Sepanjang, dan Watu Kodok.

Mereka melakukan penggalian sejauh 60 meter dari bibir pantai dengan kedalaman sekitar 128 sentimeter untuk mengetahui jejak ganasnya ombak yang diakibatkan gempa bumi.

Ketua Tim Penyelidikan Endapan Tsunami di Gunung Kidul Imun Maemunah, yang ditemui di sekitar Pantai Ngrawe, Kecamatan Tanjungsari, mengatakan, penentuan titik penggalian dilakukan setelah dilakukan pengamatan awal. Tempat tersebut dipilih karena dianggap sebagai wilayah yang terdampak tsunami pada masa lalu karena langsung menghadap ke laut dan tidak tertutup tebing.


Baca juga: Lahannya Akan Digunakan Si Pemilik, Kuburan Massal Korban Tsunami Dibongkar

Dari data awal ditemukan endapan tanah tsunami. Dengan menghitung rata-rata terbentuknya lapisan tanah sebesar 2 milimeter per tahun, terdapat sisa endapan material tsunami di kedalaman 128 cm.

"Kami menemukan adanya endapan tsunami di sejumlah pantai di pesisir selatan. Diperkirakan material tsunami di sini terjadi 640 tahun silam," katanya, Selasa (13/3/2018).

Meski demikian, untuk menentukan angka tahun endapan tsunami yang lebih dalam diperlukan penelitian lebih mendalam menggunakan metode dating dan pengujian di laboratorium.

"Sampel kami bawa ke luar negeri karena kami tidak memiliki fasilitas untuk mengukur umur batuan, biaya juga tidak murah. Salah satu opsi di Australia," lanjut dia.

Imun mengatakan, hasil penelitian ini dapat dipakai untuk melakukan periodisasi ulang dan memprediksi terjadinya tsunami pada waktu mendatang. Selain itu, hasil penelitian ini juga bisa menunjukkan daerah yang berpotensi terjadi tsunami melalui peta kerawanan bencana.

Sebab, selama beberapa tahun terakhir, pihaknya juga melakukan penelitian lain di Jawa dan NTB, seperti di Pantai Pangandaran pada 2015 lalu, tahun 2016 di Tasikmalaya, Tahun 2017 di Purworejo dan Lombok selatan.

Baca juga: Gempa Bermagnitudo 6,0 Guncang Pulau Buru, Tidak Berpotensi Tsunami

Hasil penelitian yang dilakukan ini akan direkomendasikan kepada pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebagai rujukan dalam kebijakan mitigasi pemerintah dalam menghadapi bencana tsunami.

"Nanti hasilnya kami serahkan ke BPBD untuk peta penanggulan bencana," ucapnya.

Secara terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Gunung Kidul Edi Basuki menyambut baik penelitian ini. Harapannya,  Gunung Kidul yang memiliki garis panjang pantai sekitar 73 kilometer bisa melakukan mitigasi bencana tsunami.

"Kita tunggu hasil penelitiannya dikirim kepada kita untuk melakukan mitigasi guna penanganan bencana ke depan," katanya.



Close Ads X