Data di Paspor Berumur 39 Tahun, Ternyata Usia TKI Milka 68 Tahun - Kompas.com

Data di Paspor Berumur 39 Tahun, Ternyata Usia TKI Milka 68 Tahun

Kompas.com - 13/03/2018, 18:26 WIB
Ilustrasi TKIKompas.com/ERICSSEN Ilustrasi TKI

KUPANG, KOMPAS.com - Dokumen milik Milka Boimau, Tenaga Kerja Indonesia ( TKI), asal Desa Kotabes, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur ( NTT), yang meninggal di Malaysia, ternyata dipalsukan.

Satu di antaranya adalah paspor yang digunakan Milka, saat masuk dan bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah majikannya yang beralamat di Taman Belibis 14100, Simpang Ampat, Pulau Pinang, Malaysia.

Di dalam paspor, tertulis Milka kelahiran tahun 1979 dan berusia 39 tahun. Padahal pada surat baptis (surat dari gereja), Milka lahir pada 1950 atau berusia 68 tahun.

"Kakak saya ini sudah tua, tapi di dalam paspor tertulis lahir tahun 1979. Itu jelas salah tahun kelahiran dalam paspor. Semua dokumennya dipalsukan," kata juru bicara keluarga Agustinus Boimau kepada Kompas.com, Selasa (13/3/2018).

(Baca juga : Jenazah TKI Milka Penuh Jahitan, Keluarga Lapor Polisi )

Karena itu, pihaknya melaporkan semua persoalan itu ke Polda NTT, agar diusut tuntas semuanya, termasuk jenazah Milka yang penuh jahitan.

Menurut Agustinus, Milka bekerja sebagai TKI di Malaysia sejak tahun 2012, tanpa sepengetahuan keluarga. Keluarga baru mengetahui Milka bekerja di Malaysia, setelah tahun 2015, Milka menghubungi Agustinus melalui telepon selulernya.

"Setelah menghubungi saya, dia (Milka) beberapa kali mengirim uang ke saya, maupun saudara kami yang lain. Dia sempat kirim uang untuk bayar utang dan membeli sawah," jelasnya.

Milka, lanjut Agustinus, adalah janda satu anak. Milka menikah di usia muda dan ditinggal pergi suaminya. Anak semata wayang Milka, saat ini tinggal dan bekerja di Papua.

"Terkait kematian kakak kami ini, kami semua keluarga tidak puas sehingga kami sudah laporkan ke polisi dan kami berharap polisi bisa segera mengusut tuntas kasus yang menimpa kakak kami ini," harapnya.

Sementara itu, kakak kandung Milka, Saul Boimau mengaku, keluarga tidak setuju dengan proses otopsi yang dilakukan pihak rumah sakit Malaysia.

"Kami tidak terima baik dengan kondisi adik kami. Ini jahitan apa. Kalau mau otopsi atau operasi, harus koordinasi dengan kami sebagai keluarga. Harus ada persetujuan dari kami sebagai keluarga," tegas Saul.

(Baca juga : Tunggu Penyelidikan, Jenazah TKI Milka Dimakamkan Tanpa Dicor

Menurut Saul, semua keluarga tidak terima dengan kondisi jenazah Milka, yang penuh jahitan mulai dari leher, hingga perut bagian bawah. Bukan hanya itu, pada bagian telinga berwarna hitam seperti bekas pukulan.


Padahal, lanjut Saul, dari surat yang diterima pihaknya dari KJRI Penang, tertulis bahwa penyebab Milka meninggal karena sesak napas akibat infeksi paru-paru, sehingga menurutnya tidak perlu dilakukan otopsi.

"Kenapa sakitnya hanya sesak napas, tapi jahit begini banyak, mulai dari leher sebelah menyebelah, hingga perut," ucapnya.

Komentar

Terkini Lainnya

Berita Populer: Rumah Termahal di Dunia, hingga Komentar Mahathir

Berita Populer: Rumah Termahal di Dunia, hingga Komentar Mahathir

Internasional
Kubu Jokowi-Ma'ruf Klaim Banyak Adopsi Visi-Misi Gus Dur

Kubu Jokowi-Ma'ruf Klaim Banyak Adopsi Visi-Misi Gus Dur

Nasional
Belasan Anak di Sukabumi Diduga Jadi Korban Kejahatan Seksual

Belasan Anak di Sukabumi Diduga Jadi Korban Kejahatan Seksual

Regional
Rotasi Pejabat di DKI, PNS Dapat Jabatan Lagi dan Plt Tambah Banyak

Rotasi Pejabat di DKI, PNS Dapat Jabatan Lagi dan Plt Tambah Banyak

Megapolitan
Menengok Fasilitas Penginapan Atlet Asian Para Games di Kemayoran

Menengok Fasilitas Penginapan Atlet Asian Para Games di Kemayoran

Megapolitan
Para Inisiator Hak Angket DPR Kembali Ungkit Kasus Century

Para Inisiator Hak Angket DPR Kembali Ungkit Kasus Century

Nasional
7 Suporter Tewas di Balik Laga Persib Vs Persija, Bobotoh dan JakMania Harus Belajar

7 Suporter Tewas di Balik Laga Persib Vs Persija, Bobotoh dan JakMania Harus Belajar

Regional
4 Fakta Kecelakaan Bus Rombongan SMK I PGRI, 2 Meninggal hingga Berwisata ke Bali

4 Fakta Kecelakaan Bus Rombongan SMK I PGRI, 2 Meninggal hingga Berwisata ke Bali

Regional
Bantahan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, Tidak Tega Menampar Suporter hingga Video 'Sengaja' Diedit

Bantahan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, Tidak Tega Menampar Suporter hingga Video "Sengaja" Diedit

Regional
Seorang Kakek Diduga Cabuli Teman Cucunya di Depok

Seorang Kakek Diduga Cabuli Teman Cucunya di Depok

Megapolitan
Fakta-fakta soal Penerobosan Rombongan Mobil Presiden di Tol Cimanggis

Fakta-fakta soal Penerobosan Rombongan Mobil Presiden di Tol Cimanggis

Megapolitan
Pendaftaran CPNS 2018 Dimulai Hari Ini, Sudah Siap?

Pendaftaran CPNS 2018 Dimulai Hari Ini, Sudah Siap?

Nasional
Bantu Keluarga Miskin, Seorang Polisi di Bengkulu Kumpulkan Sampah

Bantu Keluarga Miskin, Seorang Polisi di Bengkulu Kumpulkan Sampah

Regional
Politisi PSI: Bung Fadli Zon, Kreativitas Ada Batasnya....

Politisi PSI: Bung Fadli Zon, Kreativitas Ada Batasnya....

Nasional
Kejagung Kembali Jadwalkan Pemeriksaan Alex Noerdin dalam Kasus Dana Bansos Sumsel

Kejagung Kembali Jadwalkan Pemeriksaan Alex Noerdin dalam Kasus Dana Bansos Sumsel

Nasional
Close Ads X