Kata Pengamat soal Debat Publik Perdana Pilkada Jabar 2018 - Kompas.com

Kata Pengamat soal Debat Publik Perdana Pilkada Jabar 2018

Kompas.com - 13/03/2018, 15:48 WIB
Empat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kiri) - Uu Ruzhanul Ulum (kedua kiri), TB Hasanudin (ketiga kiri) - Anton Charliyan (keempat kiri), Sudrajat (keempat kanan) - Ahmad Syaikhu (ketiga kanan) dan Deddy Mizwar (kedua kanan) - Dedi Mulyadi (kanan) menghadiri Debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat di Sabuga, Bandung, Jawa Barat, Senin (12/3/2018). Debat pertama calon gubernur dan wakil gubernur Jabar tersebut mengangkat sejumlah isu seperti politik, hukum, ekonomi, pemerintahan daerah, UMKM, dan infrastruktur.ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASA Empat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (kiri) - Uu Ruzhanul Ulum (kedua kiri), TB Hasanudin (ketiga kiri) - Anton Charliyan (keempat kiri), Sudrajat (keempat kanan) - Ahmad Syaikhu (ketiga kanan) dan Deddy Mizwar (kedua kanan) - Dedi Mulyadi (kanan) menghadiri Debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat di Sabuga, Bandung, Jawa Barat, Senin (12/3/2018). Debat pertama calon gubernur dan wakil gubernur Jabar tersebut mengangkat sejumlah isu seperti politik, hukum, ekonomi, pemerintahan daerah, UMKM, dan infrastruktur.

BANDUNG, KOMPAS.com - Empat pasangan calon di Pilkada Jawa Barat telah menuntaskan debat publik perdana di Gedung Sabuga Bandung, Senin (12/3/2018) malam. Para pengamat memberi analisa soal performa para kontestan dalam memaparkan visi dan misinya.

Pakar Politik, Hukum, dan Tata Negara Universitas Parahyangan, Asep Warlan Yusuf memberi penilaian terhadap tiap pasangan calon.

Untuk pasangan nomor urut 1, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul (Rindu), Asep menilai performa keduanya cukup menonjol. Penjelasan program diuraikan secara lugas dengan gaya kepemimpinan yang moderen.

Namun, kata dia, pembagian porsi menjawab dinilai tak proporsional. Ridwan cenderung one man show. Padahal, Uu Ruzhanul punya posisi strategis dalam memberi jawaban khususnya persoalan desa dan pembangunan di Jabar Selatan.

(Baca juga : Dianggap Terlalu Dominan Saat Debat, Begini Penjelasan Ridwan Kamil )

"Pasangan Ridwan Kamil dan Uu bagus. Pak Emil itu orangnya sangat cermat menguasai substansi, dia betul-betul kuasai, pelajari. Pak Emil bagus secara konsep, secara experience dan cara praktiknya," ujar Asep saat dihubungi via telepon seluler, Selasa (13/3/2018).

"Kelemahannya yaitu tidak berbagi secara proporsional dengan wakilnya. Padahal wakilnya punya peluang untuk mengeksplorasi karena ahli di bidang pedesaan. Jadi terkesan seperti one man show sehingga Pak Uu seperti pelengkap saja, itu harus diubah," tambahnya.

Untuk pasangan Tubagus Hasanudin dan Anton Charliyan (Hasanah), Asep menilai keduanya belum cukup mampu mengeksplor lebih banyak masalah lantaran datang sebagai pihak independen bukan pejabat daerah.

Meski demikian, aksi pasangan itu dalam debat semalam cukup memberi hiburan dengan gaya bahasa yang nyeleneh serta banyak singkatan lucu.

"Kalau untuk nomor 2 itu salah. Posisi mereka bukan incumbent. Menurut saya jangan membiarkan orang lain berkembang dan dia mengembangkan diri sendiri. Tampilkan daya kritisnya itu akan memperlihatkan sebagai agen perubahan," tuturnya.

(Baca juga : Debat Publik, Hasanah Banggakan Program DP Rumah 1 Persen hingga Molotot.com )

Asep juga mengomentari pasangan Sudrajat-Syaikhu (Asyik) yang menurutnya terlalu kalem dan cenderung dalam posisi serba salah. Menurut dia, keduanya harus keluar dari zona nyaman saat momentum debat.

"Karena memang ada dilematis posisi nomor 3. Dia ingin kritis tapi ada Ahmad Heryawan (gubernur Jabar) dan PKS partai pengusungnya. Kalau dia memuji-muji dia juga keliru karena akan menguntungkan Deddy Mizwar," ucap Asep.

Sementara untuk pasangan Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi, Asep berpendapat performanya cukup baik dalam debat semalam. Sebagai petahana, program yang digagas pun sangat realistis kendati belum digambarkan secara jelas dan terperinci.

"Posisi dia incumbent tapi dia ingin mengoreksi. Kalau saya jadi gubernur saya akan lakukan ini. Kalau saya jadi gubernur saya bisa melakukan banyak hal. Memang tidak secara lugas disampaikan tapi dia mencari peluang bahwa pemikiran itu bisa dituangkan," ungkapnya.

Masih Normatif

Dihubungi terpisah, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran, Muradi mencatat ada tiga kesimpulan yang ia dapat dari debat semalam.

"Pertama penjelasannya masih normatif dari empat calon gak semua menjelaskan secara gamblang apa yang mau dilakukan. Mereka memang tidak dalam posisi yang cukup untuk menjelaskan," ucap Muradi.

(Baca juga : Deddy Mizwar: Enggak Semua Pertanyaan Bisa Saya Jawab )

Kedua, para pasangan calon tidak mampu menjabarkan visi dan misinya secara detail sehingga solusi yang ditawarkan pun belum dianggap sebagai pencerahan.

"Ketiga memang banyak isu strategis yang tidak dieksplor dengan baik, contohnya pembangunan Jabar Selatan itu hampir tidak ada sama sekali. Soal infrastruktur di Jabar, bagaimana meposisikan Jabar sebagai wilayah yang intoleran, di mana bagi minoritas itu tidak nyaman. Isu berkaitan dengan Jabar dan Jakarta ini hampir tak tersentuh termasuk isu Citarum padahal itu isu sangat seksi untuk debat publik," jelasnya. 

Kompas TV Konsep dan siasat para calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat sudah dipaparkan.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar

Terkini Lainnya


Close Ads X