Kisah Sungkowo, Perajin Keris Generasi ke-17 Empu Kerajaan Majapahit

Kompas.com - 19/10/2017, 06:45 WIB
Empu Sungkowo Harumbrojo mengecek keris setengah jadi di besalen miliknya di Dusun Gatak, Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Rabu (20/9/2017). KOMPAS.com/Muhammad GuciEmpu Sungkowo Harumbrojo mengecek keris setengah jadi di besalen miliknya di Dusun Gatak, Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, Rabu (20/9/2017).

Sejauh ini, kata Sungkowo mengatakan, dirinya memang merupakan keturunan terakhir Empu Tumenggung Supadriyo yang masih menjadi empu. Ia mengaku belum ada keturunan Empu Tumenggung Supadriyo lain yang menjadi empu sepertinya.
 
“Dulu pernah ada tapi barusan saja meninggal. Dan sekarang tidak ada yang melanjutkan lagi,” tutur Sungkowo.
 
Belum adanya regenerasi itu, kata dia, disebabkan perubahan dan perkembangan zaman. Sebab, kata dia, pekerjaan sebagai empu itu sangat berat lantaran membutuhkan kesabaran. Selain itu, menjadi empu itu juga harus akrab dan dekat dengan api.
 
“Jangan keluarga kami, di Yogyakarta saja tidak ada empu lainnya. Kalaupun ada perajin, cuman bisa merubah bentuk. Bukan membuat dari awal,” kata Sungkowo.
 
Sebagai satu-satunya empu di Yogyakarta, Sungkowo berharap ada generasi muda di DIY yang bisa menjadi empu keris. Karena keris, kata dia, merupakan budaya Jawa yang harus dilestarikan keberadaannya. Ia memastikan keris itu tak melulu berkaitan dengan hal yang berbau gaib atau yang dilarang agama.
 
“Saya meneruskan profesi menjadi empu ini karena ingin keris yang merupakan budaya adiluhung ini tetap lestari,” kata Sungkowo.
 
Keris untuk bisnis
 
Meski keberadaan perajin keris di DI Yogyakarta tak begitu banyak, Sungkowo mengatakan, senjata tradisional suku Jawa ini justru mulai banyak diminati anak muda. Bukan untuk dimiliki, kata dia, melainkan banyak anak muda memperjualbelikan keris yang disebutnya sebagai bakul (pedagang).
 
“Keris itu dulu memang senjata tusuk untuk perang. Seiring perkembangan zaman, keris menjadi lambang kewibawaan dan termasuk ageman (pegangan). Sekarang sudah mulai untuk bisnis,” kata Sungkowo.
 
Sungkowo mengatakan, banyak generasi muda menjadi pedagang keris lantaran penghasilannya yang besar. Sasaran generasi muda ini seperti kolektor atau peminat keris yang berani membayar harga tinggi. Menurutnya, para bakul-bakul muda itu bermodalkan ponsel untuk memperjualbelikan keris.
 
“Hal itu (banyak bakul) seiring dengan banyaknya komunitas-komunitas pencinta keris lahir. Jadi memang peminat keris itu tidak turun, tapi terus ada,” kata Sungkowo menggambarkan kondisi peminat keris saat ini.
 
Meski begitu, Sungkowo mengaku prihatin dengan hal tersebut. Sebab, kata dia, banyak bakul atau pembeli yang tak memahami makna yang ada di setiap keris. Ia pun menyebut ada bakul yang menjual keris tidak sesuai pamornya.
 
“Demi harga tinggi, para bakul yang tidak paham ini menyebut pamor keris itu sesuai dengan karakter calon pembelinya,” ujar Sungkowo. Ia pun berharap, setiap peminat keris bisa memahami makna yang terkadung di dalam keris. “Setiap keris itu memiliki nilai filosofi yang berbeda-beda,” kata dia.

Baca juga: Rencong, dari Simbol Kewibawaan Menjadi Cendera Mata

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dalam Semalam 2 Bentrok Warga Terjadi di Tapanuli Selatan, gara-gara Senjata Mainan dan Knalpot Bising

Dalam Semalam 2 Bentrok Warga Terjadi di Tapanuli Selatan, gara-gara Senjata Mainan dan Knalpot Bising

Regional
Mulai Juli, Siswa di Bukittinggi Kembali Belajar di Sekolah

Mulai Juli, Siswa di Bukittinggi Kembali Belajar di Sekolah

Regional
Pasangan Suami Istri Tewas Usai Pesta Minuman Keras Setelah Lebaran

Pasangan Suami Istri Tewas Usai Pesta Minuman Keras Setelah Lebaran

Regional
Sebelum New Normal, Malang Raya Jalani Masa Transisi Selama 7 Hari

Sebelum New Normal, Malang Raya Jalani Masa Transisi Selama 7 Hari

Regional
Kasus Anak Positif Covid-19 di NTB Didominasi Bayi dan Balita

Kasus Anak Positif Covid-19 di NTB Didominasi Bayi dan Balita

Regional
Saat Warga di Papua Berkebun Massal Saat Pendemi, Rawan Kelaparan dan Cegah Kesulitan Pangan

Saat Warga di Papua Berkebun Massal Saat Pendemi, Rawan Kelaparan dan Cegah Kesulitan Pangan

Regional
Seorang Pria di Blitar Tercebur ke Sumur dan Terjebak Selama 2 Hari

Seorang Pria di Blitar Tercebur ke Sumur dan Terjebak Selama 2 Hari

Regional
Update Covid-19 Mimika: Total 205 Kasus Positif, 122 Pasien Masih Dirawat

Update Covid-19 Mimika: Total 205 Kasus Positif, 122 Pasien Masih Dirawat

Regional
Knalpot Blong Picu Keributan Antarwarga di Tapanuli Selatan, 1 Orang Tewas

Knalpot Blong Picu Keributan Antarwarga di Tapanuli Selatan, 1 Orang Tewas

Regional
Ombudsman Sumsel Investigasi Pemecatan 109 Tenaga Medis Ogan Ilir

Ombudsman Sumsel Investigasi Pemecatan 109 Tenaga Medis Ogan Ilir

Regional
Update Covid-19 NTB: Bayi 9 Bulan Meninggal, Tambah 25 Kasus Positif Baru

Update Covid-19 NTB: Bayi 9 Bulan Meninggal, Tambah 25 Kasus Positif Baru

Regional
Selama 5 Hari Gunungkidul Nihil Kasus Baru VIrus Corona

Selama 5 Hari Gunungkidul Nihil Kasus Baru VIrus Corona

Regional
Seekor Dugong Diselamatkan Setelah Terjerat Pukat Nelayan di Ketapang

Seekor Dugong Diselamatkan Setelah Terjerat Pukat Nelayan di Ketapang

Regional
Khofifah: Malang Raya Penuhi 6 Syarat Transisi Menuju Fase New Normal

Khofifah: Malang Raya Penuhi 6 Syarat Transisi Menuju Fase New Normal

Regional
Kapalnya Tenggelam, 6 ABK Terapung 3 Hari di Lautan hingga Ditolong Kapal Tangker

Kapalnya Tenggelam, 6 ABK Terapung 3 Hari di Lautan hingga Ditolong Kapal Tangker

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X