Dianggap Punah, Macan Tutul Kembali Ditemukan di Sukabumi

Kompas.com - 16/10/2017, 18:29 WIB
Seekor macan tutul (Panthera pardus melas) terekam camera trap di Suaka Margasatwa Cikepuh, Sukabumi, JawaBarat. Dokumentasi BBKSDA JabarSeekor macan tutul (Panthera pardus melas) terekam camera trap di Suaka Margasatwa Cikepuh, Sukabumi, JawaBarat.
|
EditorFarid Assifa

SUKABUMI, KOMPAS.com - Sekitar 12 ekor macan tutul (Panthera pardus melas) dikabarkan kembali menghuni kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Cikepuh/Cagar Alam (CA) Cibanteng, Sukabumi, Jawa Barat.

Satwa yang dilindungi ini sempat dikabarkan punah di suaka alam yang berlokasi di Kecamatan Ciemas dan Ciracap. Fenomena itu terjadi akibat 50 persen dari lahan seluas 8.530,5 hektar sempat dirambah dan dihuni 4.000 jiwa selama periode 1999-2002.

"Terakhir keberadaan macan tutul ini terekam camera trap, ada 4 ekor. Setelah dianalisa sederhana diprediksi ada sekitar12 ekor," kata Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Barat, Sustyo Iriyono kepada Kompas.com, Senin(16/10/2017).

Saat ini, lanjut dia, untuk mempertahakan keberadaan satwa-satwa yang ada di SM Cikepuh terus dilakukan berbagai upaya dan langkah secara intensif dalam peningkatan pengamanan kawasan. Seperti pencegahan kebakaran hutan bersama masyarakat mitra polisi hutan (MMP).


"Kami juga meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat melalui penyuluhan dan menyelesaikan dokumen-dokumen perencanaan," ujarnya.

Sustyo menjelaskan, ditemukannya kembali kucing besar ini berawal dari informasi lisan para mahasiswa IPB yang sedang melakukan penelitian, dan masyarakat sekitar pinggiran kawasan.

Selain itu, berdasarkan laporan hasil survei primata oleh International Animal Rescue (IAR) yang mengungkapkan adanya tanda-tanda keberadaan macan tutul seperti cakaran, feses atau kotoran dan jejak.

Baca juga: Misteri Keberadaan Macan Tutul di Hutan Merapi

Semua informasi ditindaklanjuti dengan Ekspedisi Macan Tutul kerja sama BBKSDA Jabar, IAR dan Forum Harimau Kita. Di antaranya pemasangan camera trap antara Juli hingga Agustus 2016 lalu.

"Hasilnya, setelah 28 hari pengamatan sebanyak 4 kamera berhasil menangkap 7 frame video yang menunjukkan aktivitas macan tutul," jelas dia.

"Dari video tersebut terungkap bahwa sebanyak 3 individu macan tutul yang tertangkap kamera merupakan macan tutul dengan pola tutul kuning, sedangkan satu individu merupakan varian tutul hitam atau dikenal macan kumbang," sambungnya.

Baca juga: BKSDA Selidiki Kabar Kematian 2 Ekor Macan Tutul Jawa karena Diracun Warga

Berdasarkan hasil identifikasi diketahui bahwa macan tutul sebagai top predator yang tertangkap kamera merupakan 4 individu yang berbeda. Melalui analisa sederhana, diprediksi bahwa populasi macan tutul di SM Cikepuh saat ini sekitar 12 ekor.

"Namun masih dibutuhkan pengamatan yang lebih intensif untuk mengetahui kepastian jumlah individu serta sex ratio macan tutul di SM Cikepuh ini," pungkas dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemkab Karawang Mengalokasikan hingga 20 Persen Beasiswa untuk Santri

Pemkab Karawang Mengalokasikan hingga 20 Persen Beasiswa untuk Santri

Regional
Bupati Trenggalek Berharap Santri Menjadi Pelopor Toleransi dan Perdamaian

Bupati Trenggalek Berharap Santri Menjadi Pelopor Toleransi dan Perdamaian

Regional
Fakta Lengkap Kasus 4 Kucing Disiksa di Pontianak, Pelaku Jalani Tes Kejiwaan hingga Satu Ekor Mati

Fakta Lengkap Kasus 4 Kucing Disiksa di Pontianak, Pelaku Jalani Tes Kejiwaan hingga Satu Ekor Mati

Regional
Pemdaprov Jabar Dukung Pemberdayaan Ekonomi Melalui UP2K

Pemdaprov Jabar Dukung Pemberdayaan Ekonomi Melalui UP2K

Regional
Ganjar: Ramalan Santri tentang Prabowo Jadi Kenyataan

Ganjar: Ramalan Santri tentang Prabowo Jadi Kenyataan

Regional
Mampu Selesaikan Tantangan Gubernur Banten, 2 Santri Diberangkatkan Umroh

Mampu Selesaikan Tantangan Gubernur Banten, 2 Santri Diberangkatkan Umroh

Regional
Cerita di Balik Densus 88 Diminta Lepas Sepatu Saat Geledah Kos Terduga Teroris

Cerita di Balik Densus 88 Diminta Lepas Sepatu Saat Geledah Kos Terduga Teroris

Regional
Polisi Tangkap Pria yang Tusuk Mata 4 Kucing dengan Kayu di Pontianak

Polisi Tangkap Pria yang Tusuk Mata 4 Kucing dengan Kayu di Pontianak

Regional
Bandung Dilanda Angin Kencang, Begini Penjelasan BMKG

Bandung Dilanda Angin Kencang, Begini Penjelasan BMKG

Regional
Kronologi Bentrok di UNM yang Berujung Penikaman 2 Mahasiswa

Kronologi Bentrok di UNM yang Berujung Penikaman 2 Mahasiswa

Regional
Status Gunung Tangkuban Parahu Normal, Ridwan Kamil: Kita Viralkan

Status Gunung Tangkuban Parahu Normal, Ridwan Kamil: Kita Viralkan

Regional
Hujan Guyur Sumatera Barat, Kualitas Udara Mulai Membaik

Hujan Guyur Sumatera Barat, Kualitas Udara Mulai Membaik

Regional
Kisah Reza, Anak Sopir Lulus ITB IPK 3,98: Pernah Dihina karena Ibu Tak Kerja hingga Jajan Rp 5.000 Per Hari

Kisah Reza, Anak Sopir Lulus ITB IPK 3,98: Pernah Dihina karena Ibu Tak Kerja hingga Jajan Rp 5.000 Per Hari

Regional
Dampak Angin Kencang di Sejumlah Daerah, Satu Warga Tewas hingga Ratusan Mengungsi

Dampak Angin Kencang di Sejumlah Daerah, Satu Warga Tewas hingga Ratusan Mengungsi

Regional
Angin Kencang di Magelang: Fenomena Tak Biasa, Ribuan Warga Mengungsi hingga Status Tanggap Darurat

Angin Kencang di Magelang: Fenomena Tak Biasa, Ribuan Warga Mengungsi hingga Status Tanggap Darurat

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X