"Kujang Itu Simbol Kedaulatan Sebuah Negara..."

Kompas.com - 16/10/2017, 11:37 WIB
Sejumlah pengunjung Dinas KUMKM tengah melihat replika Kujang yang terbuat dari 183 keping batu mulia. KOMPAS.com/Reni SusantiSejumlah pengunjung Dinas KUMKM tengah melihat replika Kujang yang terbuat dari 183 keping batu mulia.
|
EditorErlangga Djumena

KOMPAS.com - Jika bertanya apa senjata khas dari daerah Jawa Barat‎, sudah barang tentu orang akan menyebut kujang. Namun ternyata, berdasarkan hasil penelitian dari budayawan sunda sekaligus kolektor benda pusaka Budi Dalton, kujang dalam berbagai literatur kesundaan tidak pernah disebut sebagai senjata.

Budi menjelaskan, pemahaman masyarakat tentang kujang sebagai senjata harus diubah. Menurut dia, kujang memiliki nilai yang lebih tinggi dari sekadar senjata.

"‎ Kujang itu adalah simbol kedaulatan sebuah negara. Yang disebut pakarang atau senjata itu bedog (golok) Saya mempertahankan satu argumen bahwa kujang adalah simbol atau pusaka bukan pakarang‎," kata Budi kepada Kompas.com.

Alasan lainnya Budi mengatakan, kujang tidak disebut senjata karena ‎bentuknya yang penuh estetika namun jauh dari bentuk ergonomis sebuah senjata. Bahkan dalam beberapa literatur kesundaan yang dipelajarinya, Budi sama sekali tidak mendengar kujang digunakan untuk perang. Kalau pun dibawa, kujang hanya untuk menunjukan kasta seseorang dalam perang.

Baca juga: Kujang Naga Lubang 9, Pilihan Presiden Jokowi

"‎Coba saja diadukan bedog (golok) dengan kujang. Pasti kujang kalah, da kujang mah ga enakeun (karena kujang tidak nyaman). ‎ Kalau kata orang senjata, sangat tidak ergonomis. Mau dipakai ngadek (memotong) kayu enggak bisa, mau buat nusuk gimana nusuknya, mau ngupas bawang juga enggak bisa. Maka dari itu mengapa kujang penuh estetika karena itu adalah simbol," tuturnya.
 
"Yang diperlukan sekarang kita mengakui kembali eksistensi kujang dulu, tidak usah jauh-jauh ke nilai. Kujang ini ada sebagai simbol, kujang itu pusaka. Hilangkan pandangan kujang senjata agar mengubah mindset orang," sambungnya.‎

Terlalu panjang jika ingin mengetahui lebih dalam terkait nilai-nilai luhur yang terkandung dalam sejarah kujang. Namun menurut penelitian Budi, kujang dahulu kala merupakan simbol kejayaan sebuah negara ‎bernama Kerajaan Pajajaran yang konon kekuasaannya meliputi seluruh nusantara.

"‎Ketika kita memahami tatanan negara lama ada yang disebut Tritangtu yakni Rama, Ratu, dan Resi. Kujang ini simbol karatuan ‎atau keraton atau negara atau presiden‎," ucap dia.

‎‎Baca juga: Jokowi: Anak Muda Kita Sekarang Lebih Senang Gawai Dibandingkan Keris

Budayawan Sunda Budi Dalton menunjukkan kujang naga lubang sembilan pilihan Presiden Joko Widodo saat Karnaval Kemerdekaan Pesona Parahyangan 26 Agustus 2017 lalu.  KOMPAS.com/Putra Prima Perdana. Budayawan Sunda Budi Dalton menunjukkan kujang naga lubang sembilan pilihan Presiden Joko Widodo saat Karnaval Kemerdekaan Pesona Parahyangan 26 Agustus 2017 lalu.
Budi menyebutkan, kujang sebagai simbol kedigdayaan negara Pajajaran mulai hilang setelah tahun 1579 Masehi, yakni saat Kerajaan Pajajaran runtuh.  "‎Kesimpulan itu lewat beberapa penelitian bahwa tidak ditemukannya produk kujang pasca 1600 masehi. Kalau kembali ke sejarah, semua menyatakan dalam babad bahwa runtagna (runtuhnya) pajajaran di talaga 1578," ucapnya.

‎Pasca runtuhnya Kerajaan Pajajaran lanjut Budi, orang-orang terdahulu pun akhirnya menyimpan dan menyembunyikan kujang. Bahkan, sejak saat itu pula kujang tidak pernah muncul dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial.

"‎Pada saat dinyatakan Pajajaran runtuh di 1578, semenjak itu juga kujang tidak ‎ada di dalam seremmonial atau apapun karena dianggap eksistensi atau kedaulatan sebuah negara sudah tidak ada. Semenjak itu pula kujang jadi benda pusaka," kata salah seorang seniman Bandung ini.

"Kalau kita main ke kabuyutan atau tempat-tempat lama atau ketemu orangtua dan kita mau lihat kujang, kita harus ngobrol lama sampai dalam baru diliatin itu kujang ‎walaupun cuma sebentar kemudian dibungkus lagi kain putih. ‎Mereka paham ‎buat apa ditunjukin karena (Pajajaran) sudah tidak daulat lagi. Karena ini mah simbol kedaulatan‎," tambah dia.

Hingga akhirnya pada saatu dekade ke belakang eksistensi kujang mulai kembali dimunculkan oleh budayawan sunda serta pemerhati benda pusaka yang mulai mengidentikkan kujang dengan Jawa Barat atau Sunda.

"‎Maka dari itu pada saat kujang mau muncul lagi memang tantangannya berat karena‎ ini berkaitan dengan kondisi eksistensi kedaulatan sebuah negara. Risikonya tinggi. Mungkin banyak orang tidak setuju kalau melihat tatanan lama. Kalau sekarang sebetulnya hanya menggali nilai-nilai kesejarahan bukan artinya negara harus dipegang oleh orang sunda. Tapi ada yang mengkhawatirkan seperti itu," sebut dosen pengajar di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan Bandung ini.

Padahal sebut Budi, kemunculan kujang justru ingin menunjukan kedaulatan NKRI dari sisi kebudayaan asli. "Berarti nilai-nilai ini sudah mulai digali lagi ‎dan mereka sudah paham kalau kita butuh kedaulatan dari sisi budaya. Dalam hal ini budaya sunda ingin memperlihatkan lagi eksistensinya bahwa kujang ini masih ada," ungkapnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Warga Surabaya Ingin Risma Buat Taman Berisi Pohon Tabebuya

Warga Surabaya Ingin Risma Buat Taman Berisi Pohon Tabebuya

Regional
Lima Gempa Bumi Guncang Sumbar dalam Kurun Seminggu

Lima Gempa Bumi Guncang Sumbar dalam Kurun Seminggu

Regional
Kulon Progo Bakal Terapkan Denda hingga Penjara bagi Perokok di Kawasan Tanpa Rokok

Kulon Progo Bakal Terapkan Denda hingga Penjara bagi Perokok di Kawasan Tanpa Rokok

Regional
Turis Belanda Tewas Bunuh Diri, Tinggalkan Surat Wasiat Minta Maaf

Turis Belanda Tewas Bunuh Diri, Tinggalkan Surat Wasiat Minta Maaf

Regional
Izin Operasional Bandara Notohadinegoro Jember Mati Sejak Maret 2018

Izin Operasional Bandara Notohadinegoro Jember Mati Sejak Maret 2018

Regional
Kronologi Bentrok Antar Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen

Kronologi Bentrok Antar Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen

Regional
Setelah 48 Jam, Akses Jalan yang Tertutup Longsor di Agam Bisa Terbuka

Setelah 48 Jam, Akses Jalan yang Tertutup Longsor di Agam Bisa Terbuka

Regional
Nenek Hilang 7 Hari di Hutan, Tim SAR Gabungan Hentikan Pencarian

Nenek Hilang 7 Hari di Hutan, Tim SAR Gabungan Hentikan Pencarian

Regional
Investor Serbu Jateng, Nilai Investasi Masuk Capai Rp 211,19 Triliun

Investor Serbu Jateng, Nilai Investasi Masuk Capai Rp 211,19 Triliun

Regional
Gubernur Olly Lobi Pemerintah Pusat agar KTT G20 Tahun 2023 Digelar di Sulawesi Utara

Gubernur Olly Lobi Pemerintah Pusat agar KTT G20 Tahun 2023 Digelar di Sulawesi Utara

Regional
Bupati Asmat: Pemekaran Provinsi Papua Selatan Sesuai Aspirasi Masyarakat

Bupati Asmat: Pemekaran Provinsi Papua Selatan Sesuai Aspirasi Masyarakat

Regional
Ditangkap di Malaysia, Anak Suporter Indonesia Kerap Tangisi Ayahnya

Ditangkap di Malaysia, Anak Suporter Indonesia Kerap Tangisi Ayahnya

Regional
Seorang Pelajar Tembaki Warga yang Sedang Berhenti di Lampu Merah, 1 Orang Terluka

Seorang Pelajar Tembaki Warga yang Sedang Berhenti di Lampu Merah, 1 Orang Terluka

Regional
Penusukan Guru SMK di Kulonprogo, Pelaku Diduga Idap Gangguan Jiwa

Penusukan Guru SMK di Kulonprogo, Pelaku Diduga Idap Gangguan Jiwa

Regional
Guru Agama Ditangkap karena Diduga Raba Alat Vital Muridnya

Guru Agama Ditangkap karena Diduga Raba Alat Vital Muridnya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X