Seorang Difabel Dapat Pekerjaan setelah Tulis Pengumuman di Facebook - Kompas.com

Seorang Difabel Dapat Pekerjaan setelah Tulis Pengumuman di Facebook

Kompas.com - 03/09/2017, 18:28 WIB
Slamet menyeterika baju di tempat kerjanyaKOMPAS.com/Achmad Faizal Slamet menyeterika baju di tempat kerjanya

SURABAYA, KOMPAS.com - Slamet terlihat sibuk memainkan gagang setrika. Melipat baju, dan menyemprotkan pewangi. Sesekali, dia meninggalkan meja setrika, lalu bergegas ke mesin cuci untuk mengambil pakaian bersih usai dikeringkan.

Tak beda dengan pegawai normal lainnya. Meski Slamet penyandang disabilitas, dia juga naik ke atas kursi, mengambil tas plastik berisi pakaian bersih milik pelanggan di rak kayu.

Pria 25 tahun itu juga punya tugas mencatat cucian yang masuk dan keluar setiap harinya.

Menjadi pegawai laundry adalah pekerjaan baru Slamet, penyandang disabilitas asal Desa Ngadirojo, Kecamatan Soko, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, sepekan terakhir.

Dia menjadi pegawai Vino Laundry yang beralamat di Jalan Ketintang Baru II, Surabaya.

Slamet mendapatkan pekerjaan setelah dia menulis pengumuman butuh pekerjaan di grup Facebook tertutup "Lowongan Kerja Surabaya Update (New)", pada 27 Agustus 2017.

Baca juga: Disdikpora DIY Beri Beasiswa untuk Anak Sunarto, Difabel yang Rela Jual Ginjalnya

Postingan tersebut berbunyi "Kawan mohon bantuan info lowongan kerja nya dong buat aq, Aq 25 thun, Ijasa smp  Pengalaman kerja jaga toko, conter, stand ukm di giant maspion margorejo surabaya, staff adminitrasi, dan sedikit pnya pnglmn mnjahit. Tapi seperti di fto saya penyandang cacat difabel/cacat fisik.Tpi saya bisa aktivitas biasa tanpa alat bantu".

Pemilik akun Facebook Arka Puta Difabel itu juga memberikan nomor telepon di tulisannya. Postingan tersebut lalu menjadi viral dan direspons oleh puluhan ribu pengguna medsos.

Kepada Kompas.com, Minggu (3/8/2017), Slamet mengaku bersyukur kini telah mendapatkan pekerjaan meski sebagai penjaga laundri.

"Alhamdulillah, sekarang sudah punya pekerjaan, jadi tidak lagi mondar-mandir," katanya.

Di tempat kerjanya yang baru, dia juga diberi fasilitas kamar dan makan, sehingga dia tidak perlu lagi fasilitas transportasi. Slamet mengaku tidak mengalami kesulitan jika hanya diberi tugas setrika, menulis, dan memindahkan pakaian kotor ke mesin cuci, sekaligus mengangkatnya.

"Karena itu sudah tugas sehari-hari saya dulu di rumah," jelasnya.

Dia merasa bangga karena berhasil menunjukkan bahwa kaum difabel seperti dirinya juga berhak atas pekerjaan yang layak.

"Karena sebagian orang selalu memandang fisik, tidak melihat dulu, orang seperti saya bisa kerja atau tidak," tuturnya.

Yulia Eka, pemilik Vino Laundry, mengaku tidak mempermasalahkan kondisi fisik Slamet yang tidak memiliki bagian tubuh seperti manusia normal.

"Sama sekali tidak masalah, toh dia bisa bekerja seperti pegawai lainnya. Hanya sedikit kurang rapi saja, mungkin karena dia belum pernah bekerja di laundri," kata Yulia.

Dia justru bersyukur dan berharap agar Slamet betah bekerja di tempatnya.

"Karena pegawai di sini keluar masuk. Sementara kami butuh tenaga karena menerima jasa cucian pelanggan setiap hari," jelasnya.

Baca juga: Seorang Warga Difabel Hendak Jual Ginjal demi Biaya Sekolah Anaknya

Meski Slamet penyandang disabilitas, namun dalam konteks pekerjaan, Yulia merasa tidak direpotkan.

"Dia kerjanya sama dengan pegawai lainnya. Bahkan Slamet menolak diistimewakan. Dia ingin diperlakukan sama seperti pegawai lainnya," terang Yulia.


EditorFarid Assifa

Close Ads X