Orangtua 5 Gadis yang Dicabuli PNS Cabut Laporan karena Korban Masih Perawan

Kompas.com - 03/08/2017, 16:54 WIB
Ilustrasi korban pemerkosaanKOMPAS.com/LAKSONO HARI WIWOHO Ilustrasi korban pemerkosaan

BLORA, KOMPAS.com - Lima orang gadis di bawah umur di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dilaporkan telah menjadi korban dugaan pencabulan seorang oknum PNS Pemkab Blora berinisial WD.

Kelima korban yang berusia 15 tahun hingga 16 tahun tersebut mendapatkan perlakuan yang tidak pantas oleh WD di sanggar tari reog di Kecamatan Todanan.

Anggota Komisi D DPRD Blora, Agung Pambudi, menyampaikan, kasus dugaan pelecehan seksual terhadap anak-anak tersebut sudah dilaporkan resmi ke Polsek Todanan pada 14 Maret 2017.

Baca juga: Aksi Pencabulan Bocah 3 Tahun Terungkap Melalui Telepon Genggam

Kelima korban yang masih berstatus pelajar itu berinisial TN, ES, NN, DW, dan DA. Mereka mengaku dilecehkan oleh WD di kamarnya secara bertahap mulai awal Maret 2017.

"Jadi terlapor PNS Pemkab Blora ini juga mengajar tari reog di sanggar miliknya. Sepulang sekolah anak-anak biasa berkumpul menari di sana. Nah, kesempatan itu dimanfaatkan olehnya untuk mencabuli anak-anak yang belajar menari," terang Agung kepada Kompas.com, Kamis (3/8/2017).

Agung mendesak Polsek Todanan segera mengusut tuntas pelaporan kasus dugaan pencabulan tersebut. Komisi D DPRD Blora juga meminta Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) memberikan pendampingan hukum terhadap korban.

"Ada informasi yang menyebut pelaporan tersebut telah dicabut. Tak ada alasan untuk menghentikan proses hukum. Kasus ini delik biasa, yang tanpa ada aduan harus segera ditangani. Pihak Dinsos P3A sudah kami lapori kasus ini," jelas Agung.

Baca juga: Mahasiswa Terdakwa Pencabulan Anak TK di Madiun Divonis Bebas

Sementara itu, Kapolsek Todanan AKP Sutrisno membenarkan adanya pelaporan dari warga terkait dugaan pencabulan yang melibatkan PNS Pemkab Blora. Hanya saja, sambung dia, pihak keluarga korban menginginkan pelaporan kasus tersebut dicabut.

"Jadi karena keperawanan anak-anak mereka tidak hilang, pihak keluarga menghendaki untuk tidak dilanjut. Anak-anak baru dipegang-pegang, dicium bibir dan pipi. Kami masih menunggu respons dari keluarga pelapor dan mendalami kasus ini," kata Sutrisno.



Close Ads X