Dedi Mulyadi Bangun Masjid di Bekas Lokalisasi di Purwakarta

Kompas.com - 12/05/2017, 18:37 WIB
Dok. Humas Pemkab Purwakarta Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi bersama Ketua MUI KH Maruf Amin saat hadir di lokasi pembangunan masjid raya Cilodong, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, Jumat (12/5/2017).

PURWAKARTA, KOMPAS.com - Bekas kawasan prostitusi di Cilodong, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, akan dibangun kompleks masjid lengkap dihiasi taman sekelilingnya. Daerah itu selama ini dikenal sebagai lokalisasi pekerja seks komersial (PSK) yang telah ada sejak tahun 1973.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan, pembangunan masjid ini salah satu upaya meningkatkan kehidupan religius dan masuk dalam penataan kota. Kawasan tersebut awalnya banyak deretan warung remang-remang yang dipakai mangkal PSK di sepanjang Jalan Raya Bungursari Purwakarta.

"Pembangunan masjid dilaksanakan ditandai dengan peletakan batu pertama ini," ucap Dedi saat acara dimulainya pembangunan masjid tersebut, Jumat (12/5/2017).

Selama ini, sebut dia, pihaknya telah lama melakukan pendekatan kepada para mucikari di wilayah tersebut. Dari awalnya terdapat ratusan pekerja seks komersial, sekarang telah berkurang dan hanya tersisa puluhan orang. Mereka pun sampai saat ini masuk tahap koordinasi dengan pihak kepala desa dan kepala daerah tempat mereka berasal.


"Dulu ratusan, kini hanya 70 saja. Kami sedang membangun komunikasi aktif dengan para kepala desa dan kepala daerah karena mereka berasal dari luar Purwakarta. Saat saya tanya mengapa mereka enggan kembali ke wilayahnya, ternyata mereka memiliki utang kepada rentenir," ujar dia.

Selama ini upaya pemerintah membubarkan lokalisasi tersebut awalnya mendapatkan beberapa kali penolakan. Namun, melalui jalinan komunikasi yang baik serta konsistensi dan usaha keras akhirnya upaya pembubaran bisa berhasil seperti sekarang.

“Sudah banyak yang dilakukan, mulai dari pembongkaran warung dan lain-lain. Ini awalnya masalah ekonomi yang berimbas menjadi penyakit masyarakat. Sekarang warung-warung tersebut sudah menjadi deretan kios tanaman,” ujar dia.

Dalam acara tersebut hadir Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin.  Menurut Ra'is 'Aam PBNU ini, konsep yang dilakukan oleh Dedi Mulyadi sesuai dengan cara Nahdlatul Ulama (NU) selama ini dengan sebutan tawazun (seimbang) dalam menjalankan pembangunan.

“Ada banyak orang yang hebat menata kota tetapi tidak mampu membangun desa dan kebudayaan. Nah, di Purwakarta, semuanya dibangun secara seimbang dan keduanya harmonis. Ini tawazun antara dunia dan akhirat. Keduanya diayomi dan disentuh," ujarnya.

Ia menyebut, dirinya selama ini melihat tiga hal dari cara kepemimpinan Dedi Mulyadi di Kabupaten Purwakarta, yakni inovasi, transformasi, dan komitmen menjaga tradisi. Dedi pun dinilai memiliki keberanian dalam membangun kebudayaan tanpa meninggalkan peran agama.

“Dedi memiliki syarat pengalaman selama 10 Tahun dalam memimpin. Dia harus sudah di Jawa Barat, kemampuan dia kan sudah saya lihat, mampu berinovasi dan bertransformasi sambil menjaga tradisi. Buktinya, program pendalaman kitab kuning itu sukses dijalankan di Purwakarta,” sebutnya.

Baca juga: Nelayan Sukabumi Curhat ke Dedi Mulyadi

Kompas TV Dedi Mulyadi Direkomendasi Jadi Calon Gubernur Jabar

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorErlangga Djumena
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X