Kilas Daerah Purwakarta

Membangun Peradaban Purwakarta lewat Toilet

Kompas.com - 25/11/2016, 11:38 WIB
Lewat program ‘satu kelas satu toilet’ dalam satu sekolah sanitasi jauh lebih bagus. Setiap kelas memiliki toilet dibangun berkualitas wahid. Dok Humas Pemkab PurwakartaLewat program ‘satu kelas satu toilet’ dalam satu sekolah sanitasi jauh lebih bagus. Setiap kelas memiliki toilet dibangun berkualitas wahid.
EditorLatief

KOMPAS.com — Pemkab Purwakarta menganggarkan dana Rp 50 miliar untuk subsidi pembangunan 10.000 toilet pada 2017 mendatang. Toilet tersebut diperuntukkan bagi seluruh warga Purwakarta.

"Per kepala keluarga dianggarkan Rp 5 juta untuk pembuatan toilet di rumahnya. Warga yang sudah memiliki toilet, tetapi tidak layak, tetap akan disubsidi," ujar Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, Minggu (20/11/2016).

Pencanangan "satu rumah satu toilet layak" itu juga terkait upaya membebaskan warga Purwakarta dari kebiasaan "dolbon" atau modol di kebon alias buang air besar di kebun atau di sawah.

"Kebiasaan itu masih ada. Dengan program ini, kami ingin menghilangkan kebiasaan tersebut. Tujuannya untuk membangun peradaban manusia," tuturnya.

Penyediaan toilet layak itu secara tidak langsung meningkatkan perbaikan sanitasi. Sebelum program ini digulirkan, pihaknya lebih dulu mengeluarkan program "satu kelas satu toilet". Lewat program ini, sanitasi di sekolah berubah menjadi lebih bak.

Dulu, dalam satu sekolah biasanya hanya ada dua toilet untuk siswa laki-laki dan perempuan, serta satu toilet untuk guru ataupun staf. Kondisi tersebut membuat kondisi toilet di sekolah sangat bau dan jorok.

Perlahan, lewat program tersebut, sanitasi menjadi lebih bagus. Setiap kelas memiliki toilet yang dibangun dengan kualitas terbaik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat ini, program satu kelas satu toilet baru berjalan 70 persen. Dedi menargetkan sisa pengerjaan toilet di dalam kelas selesai dengan program satu rumah satu toilet layak pada 2017.

"Saya pastikan pada 2017 nanti mulai SD sampai SMA memiliki fasilitas toilet higienis di setiap kelasnya. Begitu juga dengan rumah-rumah di Purwakarta," kata Dedi.

Dok Humas Pemkab Purwakarta Saat ini program satu kelas satu toilet baru berjalan 70 persen. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menargetkan sisa pengerjaan toilet di dalam kelas selesai dengan program satu rumah satu toilet layak pada 2017.
Saat ini, sebagian warga Purwakarta masih menggunakan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) umum. Dia berharap programnya kali ini bisa mengurangi persoalan sanitasi di Jawa Barat.

"Selama ini kami terus berupaya membenahi persoalan sanitasi. Tahun depan ditargetkan semua persoalan sanitasi selesai," ucapnya.

Berdasarkan catatan Kompas.com, persoalan sanitasi di Jabar kerap disorot. Pada 2014 lalu, berbagai organisasi dunia, seperti WHO, Global Fund, dan USAID, berkunjung ke Bandung untuk membantu menyelesaikan persoalan sanitasi.

"Di antaranya masih banyak yang buang air besar sembarangan," kata perwakilan Dinas Kesehatan Jabar, Alma Lucyati, beberapa waktu lalu.

Alma menjelaskan, buruknya sanitasi di Jabar terjadi karena berbagai hal, di antaranya populasi penduduk yang padat. Normalnya, perbandingan luas wilayah dengan jumlah penduduk sekitar 1 km banding 1.000 orang. Namun, di lapangan, perbandingannya mencapai 1 km banding 1.200 orang.

Kondisi itu membuat warga Jawa Barat kekurangan udara dan lahan. Itulah yang terjadi di perkotaan. Adapun di perdesaan banyak warga masih menggunakan aliran sungai untuk kebutuhan sehari-hari karena belum ada fasilitas MCK.

"Masih banyak yang mencuci, mandi, bahkan buang air besar di aliran sungai yang sama. Ini tentu tak baik untuk kesehatan, masyarakat terancam penyakit diare dan kulit," terangnya.

Salah satu daerah yang disorot adalah Kabupaten Bandung. Pada 2013 lalu, Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung melakukan survei Enviromental Health Risk Assesment. Survei yang menggunakan teknik sampling stratified itu menetapkan 26 kecamatan dan 75 desa sebagai sampel studi.

Hasilnya, 13,7 persen dari sekitar 3,3 juta warga Kabupaten Bandung membuang air besar di MCK umum, sebanyak 3,6 persen di sungai, lalu 2,9 persen di selokan, sebanyak 0,4 persen di kebun, 4 persen pada WC di atas kolam, serta 0,6 persen di lubang galian. Sementara itu, dalam hal saluran buangan tinja, sebanyak 51,8 persen tidak mengalir ke tangki pembuangan.

Hal serupa juga terjadi di Cianjur. Sekitar 440.000 jiwa atau sekitar 20 persen dari jumlah penduduk kabupaten yang sebanyak 2,2 juta jiwa masih menggunakan aliran sungai untuk MCK. Salah satu lokasinya di Cianjur Selatan.

Hal serupa juga didapati pada sanitasi di sekolah-sekolah di Jawa Barat. Unicef melansir, saat ini rasio toilet dengan murid di Jabar mencapai 1:150 atau satu toilet untuk 150 siswa. Padahal, idealnya penyediaan toilet di sekolah 1:60 untuk laki-laki dan 1:50 untuk perempuan.

RENI SUSANTI/KONTRIBUTOR PURWAKARTA


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemkab Tanah Bambu Minta Perusahaan Tambang Berpartisipasi dalam Pembangunan Daerah

Pemkab Tanah Bambu Minta Perusahaan Tambang Berpartisipasi dalam Pembangunan Daerah

Regional
Kejar Target Vaksinasi Dosis Kedua, Pemkab Lakukan Home Visit di 25 Kecamatan

Kejar Target Vaksinasi Dosis Kedua, Pemkab Lakukan Home Visit di 25 Kecamatan

Regional
Gelar Sosialisasi Sinergi APIP dan APH, Pemkab Luwu Utara Berkomitmen Ciptakan Pemerintahan Bersih

Gelar Sosialisasi Sinergi APIP dan APH, Pemkab Luwu Utara Berkomitmen Ciptakan Pemerintahan Bersih

Regional
Antisipasi Kelangkaan Pupuk Bersubsidi, Bupati Jekek Berharap Petani Kembangkan Modifikasi dan Inovasi

Antisipasi Kelangkaan Pupuk Bersubsidi, Bupati Jekek Berharap Petani Kembangkan Modifikasi dan Inovasi

Regional
Sebanyak 300 Pesepeda Gunung Ramaikan Event Wonderful Rongkong

Sebanyak 300 Pesepeda Gunung Ramaikan Event Wonderful Rongkong

Regional
Banjir Bandang Terjang Garut, JQR Dirikan Dapur Umum untuk Pengungsi dan Relawan

Banjir Bandang Terjang Garut, JQR Dirikan Dapur Umum untuk Pengungsi dan Relawan

Regional
Peringati HMPI dan BMPN, Perguruan Islam Al Syukro Dompet Dhuafa Tanam 1.000 Bibit Pohon

Peringati HMPI dan BMPN, Perguruan Islam Al Syukro Dompet Dhuafa Tanam 1.000 Bibit Pohon

Regional
Lika-liku Perjalanan Warga Desa Wanagiri di Bali untuk Mencari Air Bersih

Lika-liku Perjalanan Warga Desa Wanagiri di Bali untuk Mencari Air Bersih

Regional
ASN Dilarang Ambil Cuti Saat Libur Nataru, Kang Emil: Taat Saja

ASN Dilarang Ambil Cuti Saat Libur Nataru, Kang Emil: Taat Saja

Regional
Terobosan Walkot Bobby Dorong UMKM Naik Kelas di Medan

Terobosan Walkot Bobby Dorong UMKM Naik Kelas di Medan

Regional
Bantu Sumut Vaksinasi Pelajar SMA, Pemkot Medan Siapkan Logistik Vaksin

Bantu Sumut Vaksinasi Pelajar SMA, Pemkot Medan Siapkan Logistik Vaksin

Regional
Pemkot Jabar Sambut Baik Vaksinasi Covid-19 Massal yang Diselenggarakan PT MUJ

Pemkot Jabar Sambut Baik Vaksinasi Covid-19 Massal yang Diselenggarakan PT MUJ

Regional
Bobby Berhasil Percepat Pemulihan Ekonomi Medan, Akademisi USU Berikan Pujian

Bobby Berhasil Percepat Pemulihan Ekonomi Medan, Akademisi USU Berikan Pujian

Regional
Komisi III DPRD Kalsel Setuju Kewenangan Pajak Pertambangan Dikendalikan Pemda

Komisi III DPRD Kalsel Setuju Kewenangan Pajak Pertambangan Dikendalikan Pemda

Regional
Lewat 'Wonderful Rongkong', Luwu Utara Perkenalkan Potensi Pariwisata kepada Investor

Lewat "Wonderful Rongkong", Luwu Utara Perkenalkan Potensi Pariwisata kepada Investor

Regional
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.