Kilas Daerah Purwakarta

Menghidupkan Kembali Tenun Purwakarta

Kompas.com - 19/11/2016, 09:08 WIB
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyaksikan kelas tenun di SMPN 8 Purwakarta, Kamis (17/11/2016). RENI SUSANTI/KOMPAS.comBupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyaksikan kelas tenun di SMPN 8 Purwakarta, Kamis (17/11/2016).
Penulis Latief
|
EditorLatief

PURWAKARTA, KOMPAS.com – Tiga orang siswa dan satu pembimbing mengelilingi alat tenun di sebuah ruangan di SMPN 8 Purwakarta. Tak berapa lama, pembimbing tersebut duduk di depan tenun, meluruskan kakinya dan menyimpan alat tenun di atas kakinya.

Pembimbing itu lalu mulai menenun. Dia masukkan kayu pendek di tengah benang, kemudian menarik kayu tersebut ke bagian bawah hingga padat. Susunan kain yang telah padat tersebutlah yang disebut tenun.

Sebenarnya, tenun sudah menjadi bagian dari sejarah Purwakarta. Pada 1950-an, beberapa daerah di Purwakarta, yakni di Kebon Jahe dan Leuwi Panjang, merupakan daerah pembuatan tenun.

Seiring perkembangan zaman, lambat laun peminat tenun Purwakarta berkurang. Hingga akhirnya, pelaku usaha tenun menyerah dan menutup tokonya.

"Tutupnya sekitar tahun 1980-an akibat sepinya pembeli," ujar Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi di SMPN 8 Purwakarta, Kamis (17/11/2016).

Berdasarkan informasi yang diperolehnya, sambung Dedi, Purwakarta memiliki motif tenun tersendiri. Namun, ia belum melihat motif tersebut.

"Mungkin, masih ada di rumah-rumah perajin tenun zaman dulu," terangnya.

Untuk menghidupkan kembali tenun, Dedi menerapkan kelas tambahan menenun untuk siswa SD-SMA negeri di Purwakarta. Pihaknya menyiapkan semua peralatan tenun sehingga sekolah hanya tinggal menjalankan kurikulum tambahan tersebut.

"Untuk mengajarkan tenun, saya sengaja mendatangkan penenun dari Baduy," imbuhnya.

RENI SUSANTI/KOMPAS.com Untuk menghidupkan kembali tenun, Dedi menerapkan kelas tambahan menenun untuk siswa SD-SMA negeri di Purwakarta. Pihaknya menyiapkan semua peralatan tenun sehingga sekolah hanya tinggal menjalankan kurikulum tambahan tersebut.
Penenun dari Baduy akan mengajarkan ilmu menenun. Nantinya, siswa di Purwakarta yang akan berkreasi hingga tercipta motif khas Purwakarta.

"Jangan salah, menenun tidak hanya ilmu membuat kain tenun. Menenun itu juga mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan ketelatenan. Ini penting agar siswa lebih tekun dan mengisi waktunya lebih positif, daripada hanya main gadget," terangnya.

Menenun sendiri, sambung Dedi, merupakan bagian dari pendidikan berkarakter yang sudah lama diterapkan Purwakarta. Menenun menjadi kelas tambahan untuk siswa perempuan. Sedangkan yang laki-laki menggembala kambing atau mengurus hewan ternak.

Perajin tenun dari Baduy, Sarip mengaku, berada di Purwakarta karena undangan dari Dinas Pendidikan Purwakarta. Pihaknya akan mengajar di Purwakarta sekitar satu pekan.

"Kalau siswanya punya kemauan keras untuk belajar, dalam beberapa hari saja sudah bisa,” ucapnya.

Ada dua ukuran kain tenun yang dibuat. Pertama berukuran 2 meter x 1 meter yang biasanya membutuhkan waktu satu minggu membuatnya. Kedua, ukuran 2 meter x 25 cm yang selesai dalam tiga hari. Namun, itu hitungan perajin profesional.

"Kalau di Baduy kain tinun (tenun) ukuran 1x2 meter harganya Rp400.000 per helai. Saat ini ada 17 motif yang dimiliki Baduy,” katanya.

Lusi (14), salah seorang pelajar SMPN 8 Purwakarta, menuturkan kegembiraannya. Dia gembira karena telah berhasil membuat satu kain tenun yang diapresisasi guru dan ibunya di rumah.

"Pelajarannya asyik. Kainnya juga khas. Ini belajar membuat pola, dan baru bisa berhasil membuat satu," ujarnya.

RENI SUSANTI/KONTRIBUTOR PURWAKARTA

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemerintah Butuh 65.000 Tenaga Kerja untuk Proyek Pembangkit Listrik 35.000 MW

Pemerintah Butuh 65.000 Tenaga Kerja untuk Proyek Pembangkit Listrik 35.000 MW

Regional
Lowongan PPK Pilkada Jember 2020 Diminati Milenial, Dibutuhkan 155 yang Daftar 1.041

Lowongan PPK Pilkada Jember 2020 Diminati Milenial, Dibutuhkan 155 yang Daftar 1.041

Regional
4 Kasus Bocah Digigit Ular, Meniru Tayangan Youtube hingga Bekas Gigitan Ditutup Plester

4 Kasus Bocah Digigit Ular, Meniru Tayangan Youtube hingga Bekas Gigitan Ditutup Plester

Regional
Ikan Paus Sepanjang 15 Meter Terdampar di Hutan Magrove, Warga Kesulitan Evakuasi

Ikan Paus Sepanjang 15 Meter Terdampar di Hutan Magrove, Warga Kesulitan Evakuasi

Regional
Pelindo Bantah Kapalnya 'Kencing' di Laut dan Jual Minyak Ilegal ke Singapura

Pelindo Bantah Kapalnya "Kencing" di Laut dan Jual Minyak Ilegal ke Singapura

Regional
[POPULER NUSANTARA] Cerita Bupati Pelalawan Gendong Jenazah Anaknya | Rambut Sukiyah Jadi Sarang Tikus

[POPULER NUSANTARA] Cerita Bupati Pelalawan Gendong Jenazah Anaknya | Rambut Sukiyah Jadi Sarang Tikus

Regional
Selain 8 Tahun Disiksa Ibu Kandung, Kakak Beradik Dicaci Maki di Depan Umum, Uang Sekolah Tak Dibayar

Selain 8 Tahun Disiksa Ibu Kandung, Kakak Beradik Dicaci Maki di Depan Umum, Uang Sekolah Tak Dibayar

Regional
Sempat Dikira Terjangkit Virus Corona, Pasien RSUP Adam Malik Ternyata hanya Flu Biasa

Sempat Dikira Terjangkit Virus Corona, Pasien RSUP Adam Malik Ternyata hanya Flu Biasa

Regional
Viral Kerajaan Kandang Wesi, Kepala Kesbangpolinmas: Tidak Ada Kerajaan di Garut

Viral Kerajaan Kandang Wesi, Kepala Kesbangpolinmas: Tidak Ada Kerajaan di Garut

Regional
Cerita Istri Bacok Suami di Probolinggo, Ketahuan Selingkuh hingga Takut Akan Dibunuh

Cerita Istri Bacok Suami di Probolinggo, Ketahuan Selingkuh hingga Takut Akan Dibunuh

Regional
Hati-hati Jika Melihat Ular Weling, Jika Digigit Belum Ada Anti Bisanya

Hati-hati Jika Melihat Ular Weling, Jika Digigit Belum Ada Anti Bisanya

Regional
Empat Pelajar SMP di Cianjur Jatuh ke Jurang, Satu Tewas

Empat Pelajar SMP di Cianjur Jatuh ke Jurang, Satu Tewas

Regional
5 Fakta Jenderal Polisi Gadungan yang Mengaku Bisa Luluskan ke Akpol

5 Fakta Jenderal Polisi Gadungan yang Mengaku Bisa Luluskan ke Akpol

Regional
Ini Alasan PAUD Tempat Penitipan Balita Tewas Tanpa Kepala di Samarinda Ditutup

Ini Alasan PAUD Tempat Penitipan Balita Tewas Tanpa Kepala di Samarinda Ditutup

Regional
Ma'ruf Amin Sebut Solusi Militer Tak Sepenuhnya Atasi Konflik, Malah Menyisakan Dendam

Ma'ruf Amin Sebut Solusi Militer Tak Sepenuhnya Atasi Konflik, Malah Menyisakan Dendam

Regional
komentar di artikel lainnya