Perjalanan Panjang Miroto - Kompas.com

Perjalanan Panjang Miroto

Kompas.com - 25/04/2015, 02:24 WIB
Kompas.com/Jodhi Yudono Martinus Miroto

Catatan Kaki Jodhi Yudono

Meski berjarak sekitar 1 Km dari Jalan Raya Godean, Sleman; tapi hampir setiap orang di daerah itu tahu di mana letak Studio Banjar Mili berada. Memasuki gang yang tak seberapa lebar, dengan rumah penduduk di kanan kirinya, lantas melewati beberapa persimpangan dan jalanan yang berkelok, sampailah kita di sebuah bangunan mirip hangar. Itulah Studio tari milik koreografer Miroto Martinus.

Studio yang dibangun tahun 2002 itu memang berada di antara permmukiman warga, sementara tepat di belakang bangunan tersebut mengalir deras Sungai Bedog.

Berdiri di atas tanah seluas 1600 meter yang dibeli pada tahun 1996 dengan harga Rp 40.000/meter, studio tari ini seperti suluh yang menghangatkan seisi kampung, karena kerap menyelenggarakan acara kesenian, baik untuk tingkat lokal maupun internasional. Salah satu peristiwa seni tingkat internasional yang digelar secara rutin adalah Festival Bedog, yang mengambil nama sungai di belakang studio.

Di tempat ini pula Miroto bermukim bersama Yuli Setyo Sari  sang isteri yang dinikahinya pada 1996, serta kedua anaknya; Sambung Penumbra yang sudah SMA dan Bunga Sioli yang masih SD.

Tanggal 8 April lalu, saya berkesempatan menyaksikan latihan salah satu nomor pertunjukan berjudul Simulakra yang kala itu akan digelar di Galeri Indonesia Kaya dalam format baru bertajuk Pertunjukan Realitas Teleholografis yang digelar secara interaktif, serentak dari Padang panjang, Bali, dan DKI Jakarta.

Pementasan Simulakra mengaplikasikan sistem telepresensi video call dan teknik holografis pepper’s ghost untuk menghadirkan penari yang berada di tempat berbeda dan berjauhan dalam wujud citra tiga dimensi dan berinteraksi dengan penari nyata dalam real time.

Karya berdurasi 40 menit ini menampilkan beberapa penari seperti, I Wayan Adi Gunarta yang menari di Bali dan Lora Vianti yang menari di Padang Panjang, bersama Miroto, Mugiyono Kasido, dan Mila Rosinta yang menari di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Ide pertunjukan ini menurut Miroto berasal dari fenomena era digital, di mana hampir setiap orang berinteraksi dengan orang lain melalui dunia maya seperti facebook dan skype. Ada pengalaman ada dan tiada, nyata dan maya.

Kemudian Miroto pun mencari jalan untuk mewujudkan mimpinya itu dengan bertanya kepada mereka yang sudah berpengalaman dengan dunia teknologi dan panggung. Miroto kepingin benar menyatukan dunia nyata dan maya ke dalam sebuah panggung pertunjukan. Lalu Miroto pun bertemu dengan teknologi pepper ghost's. Teknologi ini adalah teknik ilusi yang digunakan dalam teater, rumah angker, wahana gelap, dan trik sulap. Hal ini dinamai John Henry Pepper, sesuai dengan nama seorang ilmuwan yang mempopulerkan efek terasebut dalam sebuah demonstrasi yang terkenal pada tahun 1862. Teknologi ini memiliki sejarah panjang dan tetap dilakukan secara luas hingga hari ini.

Maka begitulah, saat menyaksikan latihan pertunjukan ini, kita pun bisa menyaksikan secara langsung Lora yang berada di kampus ISI Padang Panjang dan Mugi di Studio Miroto Banjarmili, Keradenan, Sleman; saling bersahut-sahutan dalam gerak dan kata-kata di ruang yang berbeda namun pada waktu yang sama. Begitu juga Adi yang ada di Bali dan Mugi di sleman, mereka menari topeng dalam gerak yang serasi. Meski tak berada di dalam satu ruang, mereka bisa berkomunikasi melalui gerak. Lalu pada segmen yang lain, Adi melepas topengnya, dia bersepanggung dengan Mila di Sleman. Wajah Adi yang mendekat ke kamera jadi nampak seperti raksasa, sehingga Mila mampu masuk ke dalam mulut Adi.

Pertunjukan ini terbagi ke dalam 12 segmen, Bali (4 segmen), (Padang Panjang 3 segmen), dan Sleman (5 segmen). Karya ini melibatkan beberapa penari antara lain, Miroto, Mugiyono Kasido, Mila Rosinta, Rio Mefri, dan Lora Vianti. Didukung musik bernuansa elektronik yang dipersembahkan oleh Widi Grup yang berasal dari Yogyakarta. Miroto Dance juga bekerja sama NanJombang Dance Company, Mugidance, dan ISI Padang Panjang. Didukung pula oleh Picture Style Cinema dari segi multimedia, dan oleh Studio Tari Banjarmili dari segi panggung holografis pepper’s ghost itu sendiri.

Miroto lahir di Yogyakarta, 23 Februari 1959. Dia adalah koreografer Indonesia yang pertama kali menciptakan dan menyajikan tari tunggal dengan 5 topeng di berbagai festival internasional di 5 benua. Miroto bukan hanya seorang penari, tetapi juga koreografer, PNS, dan pengajar di Institut Seni Indonesia yang mengajar olah tubuh dan koreografi.

Martinus Miroto tertarik pada dunia tari sejak umur 9 tahun. Keinginannya menjadi penari membawanya ke Krida Beksa Wirama. Di sini dia belajar tari klasik. Untuk memperdalam ilmunya, dia bergabung dengan Konservatori Tari Indonesia. Pria ini belajar tari dari tokoh kontemporer, Bagong Kussudiardjo. Setelah lulus SMP, putra dari penggendér (pemain gender) di pentas wayang kulit, Setio Martono dan Marwiyah ini melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia( SMKI) tahun 1976-1980, kemudian Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1980-1981 dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 1981-1986.

Suami dari Yuli Setyo Sari ini juga pernah mengenyam pendidikan luar negeri yaitu di Folkswang Dance Academy, Jerman (1987), Wuppertal Dance Theater, Jerman, American Dance Festival North Carolina, Amerika Serikat dan Department of Dance University, ing California Los Angeles, Amerika Serikat. Gelar master of fine arts di bidang seni tari diperolehnya dari University of California Los Angeles (UCLA) tahun 1995.

Sebelum Simulakra, karya tari yang pernah dibuatnya adalah Kidung Kunthi, Penumbra, Badui Bersembah, Joko Tingkir, Incarnation, Living Through The Dream, Night Meditation, Keringat, Srimpi Rubuh.

Seperti karya-karya sebelumnya, pada Simulakra koreografer Miroto juga mengangkat tema yang kontekstual dengan zamannya.

"Tema yang saya angkat, jauh tapi dekat, ada tapi tiada, yang kita alami bersama saat sedang membuka facebook. Ruang dan waktu bukan kendala untuk kita herhubungan. Hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Globalisasi ditandai dengan kemampatan ruang. Sebagai seniman saya mencoba berekspresi di antara film dan seni pertunjukan, koreografinya pun filmis. Miroto tdk di padang, tapi bisa mendirect dari sleman. Untuk Lora yang berada di padang saya harus menggunakan istilah-istilah sinematografi seperti close up, medium close up, in frame, out frame." Miroto menjelaskan.

Pesan yang hendak disampaikan menurut Miroto adalah dunia di antara yang nyata dan yang maya. "Kita pun dibuat bingung, mana yang nyata dan mana yang maya," ungkap Miroto.

Perjalanan panjang Miroto di dunia seni tari sangat terasa pada Simulakra. Nampak betapa kenyal dan liatnya bangun cerita maupun estetika yang dibangun melalui gerak dan unsur artistik lainnya.

Maklumlah, pengalamannya sebagai penari dan penata tari, Miroto pernah tampil dan memberi workshop di A.S., Belanda, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, Australia, Jepang, dan Zimbabwe. Kecuali penghargaan dari Asian Cultural Council dan Ford Foundation, Miroto pernah menerima penghargaan tampil di festival tari internasional antara lain: American Dance Festival, Arts Summit Indonesia, Indonesian Dance Festival, menerima gelar penari putra-alus Yogyakarta terbaik (1996). Pentas kolaborasi pernah ia lakukan antara lain dengan Yin-Mei (AS), Nandhini Ninha (India), Garin Nugroho (Indonesia), dan Ong Keng Sen (Singapura).


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorJodhi Yudono
Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X