Kompas.com - 21/01/2015, 18:28 WIB
Hengki Susanto, terdakwa pengrusakan tempat ibadah di hukum pidana tiga bulan di Pengadilan Negeri Semarang, Rabu (21/1/2015) sore. Kompas.com/Nazar NurdinHengki Susanto, terdakwa pengrusakan tempat ibadah di hukum pidana tiga bulan di Pengadilan Negeri Semarang, Rabu (21/1/2015) sore.
|
EditorFarid Assifa
SEMARANG, KOMPAS.com - Hengki Susanto, warga Kelurahan Babahan, RT 02/03, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang menyesali perbuatannya karena merusak tempat ibadah Klenteng See Hoo Kiong di Jalan Sebandaran 1 Kota Semarang. Akibat perbuatannya itu, ia dihukum penjara tiga bulan.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Semarang, Rabu (21/1/2015), Hengki mengaku merusak tempat ibadah tersebut. Caranya dengan dengan merusak tembok pembatas di sebelah sisi klenteng yang berdekatan dengan rumahnya. Tembok pembatas yang sedang dibangun dirusak dengan dua tangannya sendiri.

Perusakan itu terjadi pada Selasa, 3 Juli 2014 lalu. Perusakan dilakukan karena tembok yang dibangun dianggap mengganggu akses masuk keluarga besarnya, meski bangunan itu berdiri di atas lahan milik klenteng. Perusakan itu mengakibatkan tembok yang masih dalam kondisi basah rusak hingga memunculkan lubang hingga bediameter 90 sentimeter dengan ketinggian 125 sentimeter. Lubang yang menganga itu kemudian dijadikan akses keluar masuk keluarga pelaku.

Hakim pun secara yakin menganggap bahwa terdakwa telah dengan sengaja merusak pagar batas yang dimaksud hingga menyebabkan kerusakan.

“Tidak ada alasan yang membenarkan tindakan terdakwa. Tindakan terdakwa juga tidak ada paksaan dan atas kehendak sendiri,” ujar ketua majelis hakim Sigit Hariyanto didampingi Heru Sumanto dan Andi Subiyantadi itu.

Hakim Sigit mengatakan, berdasarkan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Semarang, tuduhan yang ditujukan pada terdakwa Hengki adalah Pasal 406 ayat 1 KUHP. Jaksa Betania juga telah menuntut yang bersangkutan dengan pidana penjara selama tujuh bulan, namun hakim memutuskan lain.

“Majelis tidak sepakat dengan permintaan jaksa untuk menghukum tujuh bulan. Majelis sepakat menghukum tiga bulan,” tegas Sigit.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Atas vonis tersebut, baik jaksa maupun terdakwa masih belum menentukan sikap. Mereka diberikan waktu berpikir selama tujuh hari. Jika melewati seminggu, baik jaksa maupun terdakwa dianggap menerima vonis yang telah dijatuhkan.

Klenteng See Hoo Kiong sendiri adalah salah satu dari 11 klenteng terbesar di Kota Semarang. Klenteng ini memuja Dewa Pedang dan memiliki sumur di halaman depan, yang menurut legendanya, merupakan tempat ditemukannya pedang.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

Usai PON XX, Pendapatan Sektor Konstruksi di Papua Meningkat hingga Rp 926 Miliar

Regional
Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

Salatiga dan Kabupaten Semarang Dilanda Gempa, Pemprov Jateng Siapkan Tenda Darurat

Regional
Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

Kesembuhan Covid-19 di Papua Capai 96,7 Persen, Masyarakat Diminta Tak Lengah

Regional
Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

Tinjau PTM di Pangandaran, Wagub Uu Minta Sekolah Hasilkan Metode Belajar Kreatif

Regional
Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Terima Kunjungan Atlet Taekwondo Ungaran, Ganjar: Atlet Muda Harus Dipersiapkan Sejak Dini

Regional
Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

Ridwan Kamil Sebut Jabar Punya Perda Pesantren Pertama di Indonesia

Regional
Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Dompet Dhuafa dan Kimia Farma Berikan 2.000 Dosis Vaksin untuk Masyarakat Lombok Barat

Regional
Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Buka Kejuaraan UAH Super Series, Ridwan Kamil Adu Kemampuan Tenis Meja dengan Ustadz Adi Hidayat

Regional
Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Regional
Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Regional
Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Regional
Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Regional
AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

Regional
Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Regional
9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.