Kompas.com - 14/11/2014, 23:47 WIB
Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) terlihat di pertemuan Sungai Belayan dan Sungai Mahakam di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kaltim, Selasa (2/9/2014). Kawasan ini merupakan salah satu habitat mamalia air tawar terancam punah  yang populasinya tidak lebih dari 90 ekor. KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYATPesut mahakam (Orcaella brevirostris) terlihat di pertemuan Sungai Belayan dan Sungai Mahakam di Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kaltim, Selasa (2/9/2014). Kawasan ini merupakan salah satu habitat mamalia air tawar terancam punah yang populasinya tidak lebih dari 90 ekor.
Penulis Ary Wibowo
|
EditorPalupi Annisa Auliani
KOMPAS.com - Sebuah monumen batu, tegak di samping Jembatan Mahakam, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Meski kusam dan tidak terawat, patung batu dua ekor pesut mahakam (Orcaella brevirostris) yang berada di atas monumen tersebut tetap terlihat seolah tengah bermain riang gembira.

Pada 2 Agustus 1986, Monumen Pesut Mahakam itu diresmikan Presiden Kedua Republik Indonesia, Soeharto. Peresmian monumen tersebut dilakukan bersamaan dengan pembukaan Jembatan Mahakam, jembatan sepanjang 400 meter yang dibangun untuk menghubungkan Kota Samarinda dengan wilayah Kecamatan Samarinda Seberang.

Bagi penduduk setempat —tak hanya Kota Samarinda tetapi seluruh wilayah di aliran Sungai Mahakam, termasuk Kutai Kartanegara— monumen pesut mahakam adalah simbol kota mereka.  Pesut mahakam sejak puluhan tahun lalu dianggap telah hidup bertetangga dengan masyarakat setempat yang mayoritas bekerja sebagai nelayan.

Namun, tak seperti keriangan yang tampak di Monumen Pesut Mahakam, nasib hewan mamalia air yang hidup di sungai-sungai daerah tropis itu terancam. Pesut Mahakam sudah nyaris punah, sebagai satu lagi potret buram dari pembangunan yang tak selalu mendatangkan nuansa cerah di wilayah kaya sumber daya alam.

Sangat terancam

Randall R Reeves dalam karyanya Dolphins, Whales and Porpoises: 2002-2010 Conservation Action Plan for the World's Cetaceans, menuturkan, Orceaella brevirostis di perairan Sungai Mahakam memiliki kesamaan dengan yang ditemukan di Sungai Irawaddy di Myanmar dan Mekong di Vietnam.

Berdasarkan catatan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), Orceaella brevirostis di Sungai Mahakam berada dalam status sangat terancam punah. Hasil penelitian Yayasan Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) pun mencatat hanya 90 ekor pesut yang masih berada di perairan sungai Mahakam pada 2007.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hasil penelitian itu juga menyebutkan rata-rata kematian antara 1995 hingga 2007 adalah empat ekor pesut per tahun. Penyebab kematiannya, mulai dari tersangkut di jaring para nelayan, penurunan jumlah makanan akibat teknik penangkapan ikan ilegal, hingga kerusakan habitat akibat ponton pengangkut batubara.

"Makanya kita semua termasuk masyarakat, pemerintah, swasta dan siapa saja yang terkait dengan Mahakam saya harap mendukung pelestarian pesut dengan tidak berbuat sesuatu yang dapat merusak Sungai Mahakam," ujar salah satu peneliti Yayasan RASI, Danielle Kreb.

Saksi zaman sejarah bangsa bermula

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tekan Dampak PPKM, Pemprov Jabar Akan Salurkan Bansos ke 1,9 Juta Keluarga

Tekan Dampak PPKM, Pemprov Jabar Akan Salurkan Bansos ke 1,9 Juta Keluarga

Regional
Serapan Anggaran Covid-19 Jateng Capai 17,28 Persen, Bukan 0,15 Persen

Serapan Anggaran Covid-19 Jateng Capai 17,28 Persen, Bukan 0,15 Persen

Regional
Ridwan Kamil Janji Usulkan PPKM yang Lebih Proporsional kepada Pemerintah Pusat

Ridwan Kamil Janji Usulkan PPKM yang Lebih Proporsional kepada Pemerintah Pusat

Regional
Ikuti Rakor Virtual Kampanye 3M, Ridwan Kamil Usulkan Tiga Hal ke Pemerintah Pusat

Ikuti Rakor Virtual Kampanye 3M, Ridwan Kamil Usulkan Tiga Hal ke Pemerintah Pusat

Regional
BST Mulai Disalurkan di Semarang, Walkot Hendi Jelaskan Teknis Distribusinya

BST Mulai Disalurkan di Semarang, Walkot Hendi Jelaskan Teknis Distribusinya

Regional
Atasi Dampak Pandemi, Anggota DPRD PDIP hingga Wali Kota Hendi Serahkan Gajinya

Atasi Dampak Pandemi, Anggota DPRD PDIP hingga Wali Kota Hendi Serahkan Gajinya

Regional
Percepat Pemulihan DAS Citarum, Jabar Gandeng Monash University

Percepat Pemulihan DAS Citarum, Jabar Gandeng Monash University

Regional
Kepada Wapres, Ridwan Kamil: Berita Baik, BOR Jabar Turun Terus

Kepada Wapres, Ridwan Kamil: Berita Baik, BOR Jabar Turun Terus

Regional
Percepat Herd Immunity, Pemkot Semarang Lakukan Vaksinasi Keliling

Percepat Herd Immunity, Pemkot Semarang Lakukan Vaksinasi Keliling

Regional
Dibantu Dompet Dhuafa, Para Guru Ngaji di Lampung Bisa Berkurban

Dibantu Dompet Dhuafa, Para Guru Ngaji di Lampung Bisa Berkurban

Regional
Dinilai Efektif, Kebijakan Ridwan Kamil Atasi Covid-19 Disorot Media Australia

Dinilai Efektif, Kebijakan Ridwan Kamil Atasi Covid-19 Disorot Media Australia

Regional
Walkot Madiun Prioritaskan Pembagian Daging Kurban untuk Warga Isoman

Walkot Madiun Prioritaskan Pembagian Daging Kurban untuk Warga Isoman

Regional
Bantu Pulihkan Sektor Kesehatan dan Ekonomi, Disparbud Jabar Ajak Pelaku Ekraf Ikuti Vaksinasi

Bantu Pulihkan Sektor Kesehatan dan Ekonomi, Disparbud Jabar Ajak Pelaku Ekraf Ikuti Vaksinasi

Regional
Jika Kasus Covid-19 Turun, Pemkot Semarang Akan Longgarkan Pembatasan

Jika Kasus Covid-19 Turun, Pemkot Semarang Akan Longgarkan Pembatasan

Regional
Bantu Warga Selama PPKM Darurat, Ganjar Minta Kepala Daerah Keluarkan Bansos

Bantu Warga Selama PPKM Darurat, Ganjar Minta Kepala Daerah Keluarkan Bansos

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X