3 Bulan Jadi Kurir Sabu, Bolot Tak Pernah Lihat Wajah Bosnya

Kompas.com - 21/05/2014, 18:27 WIB
Siswanto alias Bolot (32), kurir sabu yang ditangkap Satuan Reserse Narkoba Polres Semarang, diperlihatkan kepada media di Polres Semarang, Jawa Tengah, Rabu (21/5/2014). Dalam tiga bulan terakhir, Bolot telah mengirim sabu ke Kota Semarang sedikitnya 225 gram. 
KOMPAS.COM/SYAHRUL MUNIRSiswanto alias Bolot (32), kurir sabu yang ditangkap Satuan Reserse Narkoba Polres Semarang, diperlihatkan kepada media di Polres Semarang, Jawa Tengah, Rabu (21/5/2014). Dalam tiga bulan terakhir, Bolot telah mengirim sabu ke Kota Semarang sedikitnya 225 gram.
|
EditorHeru Margianto

UNGARAN, KOMPAS.com — Seorang kurir sabu bernama Siswanto alias Bolot (32) diringkus aparat Satuan Reserse Narkoba Polres Semarang. Dalam tiga bulan terakhir, Bolot telah mengirim sabu ke Kota Semarang sedikitnya 225 gram.

Namun, Si Bolot ini sekali pun tak pernah bertemu muka dengan si pemberi perintah maupun pemesannya.

“Bahan (sabu) saya ambil di Bawen, kemudian saya kirim ke Semarang. Sekali kirim biasanya 15 gram,” kata Bolot, saat gelar kasus narkoba di Mapolres Semarang, Rabu (21/5/2014).

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai pembuat akuarium ini mengaku, selama ini transaksi berjalan menggunakan sistem terputus, via SMS, tanpa pernah bertemu dengan pihak yang memberi perintah maupun yang menerima sabu.

“Kalau ada order, dia SMS saya. Barangnya biasanya ditaruh di dekat tiang listrik, pohon, atau telepon. Kalau saya tahu identitasnya, saat ini pasti saya seret dia. Siapa yang mau dihukum sendiri?" ujarnya.

Pun demikian ketika hendak mengirim sabu ke tempat yang telah ditentukan, lanjut Bolot, ia menunggu perintah.  

“Karena saya tidak tahu namanya, dua nomor teleponnya saya kasih nama PST (pusat) dan OM PST. Saya kirim ke Semarang, seperti di kawasan Merapi Jalan S Parman atau di Sampangan. Saya letakkan di pinggir jalan, di bawah pohon atau di dekat tiang telepon, sesuai permintaan pemberi order,” tutur dia.

Bapak satu anak ini menyadari bahwa perbuatannya melanggar hukum. Namun, dia berdalih, terdesak kebutuhan hingga akhirnya menerima tawaran sebagai pengirim sabu. Sekali kirim dia mendapat upah Rp 600.000 dan sedikit bagian sabu.

“Awalnya saya dapat telepon dari seseorang, menawari pekerjaan itu. Tapi saya tolak. Hingga telepon yang ketiga, karena saya butuh uang untuk mendaftar anak masuk TK, akhirnya saya terima tawaran itu,” akunya.

Kasat Narkoba Polres Semarang AKP Kuwat Slamet menyatakan, penangkapan Bolot berdasar informasi masyarakat. Polisi menangkap pelaku di Jalan Gatot Soebroto, Ungaran. Saat digeledah saku celananya, terdapat tiga paket sabu, masing-masing seberat 5 gram.

"Dia mengaku ambil barangnya dari bawah pohon di depan kampus SMPN 21, di Banyumanik. Anggota kemudian ke lokasi dan menemukan kantong platik kecil yang berisi 10 butir pil yang diduga ekstasi,” kata Kuwat.

Kini Bolot harus menangung perbuatannya dengan meringkuk di jeruji sel tahanan Mapolres Semarang, sementara si pemberi perintah masih bebas berkeliaran di luar sana.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Regional
Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X