KOMPAS.com -
Di Pulau Alor, tenun merupakan pusaka leluhur. Dalam lembaran-lembaran tenun tersimpan jalinan ingatan tentang kehidupan di setiap helai benangnya.

Rumah Sariat Libana (42) tampak temaram di tengah pekatnya malam di Kampung Hula, Desa Alor Besar, sekitar 30 kilometer dari Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Hanya suara gerimis yang mengisi kesunyian. Malam itu, keluarga Sariat tengah bersiap menggelar ritual kecil. Di meja telah tersaji piring-piring tembikar berisi beberapa batang rokok, gula pasir, dan kemenyan. Terhidang pula nasi, sayur daun kelor, ikan tongkol goreng, dan segelas air putih.

Tak berapa lama kemudian, seorang dukun datang dan ritual pun dimulai. Sang dukun merapal doa sembari sesekali menaburkan gula pasir di atas bara kemenyan. Di tengah lantunan doa, suara cecak muncul dalam tempo pelan.

”Suara cecak itu pertanda baik, artinya arwah leluhur sudah hadir bersama kita di sini,” bisik Mama Sariat. Panggilan ”mama” umum disematkan di depan nama perempuan yang sudah berkeluarga di Alor.

Seusai ritual, satu per satu semua orang di ruangan itu memakan sejumput gula pasir dari piring tembikar tadi, lalu meminum air putih dari gelas yang sama. Makan malam yang terhidang pun disantap bersama-sama. Semuanya tampak berbahagia dalam diam. Rumah mungil sederhana itu terasa menghangat.

Ritual kecil tadi digelar Sariat dan keluarganya sebagai ungkapan rasa syukur atas rangkaian acara yang melibatkan kelompok petenun di Kampung Hula, Desa Alor Besar, dua hari sebelumnya. Mereka dikumpulkan di rumah dinas Bupati Simeon Th Pally di kota Kalabahi dalam acara Swarna Festival 2013 yang digelar Kementerian Perindustrian dan Indonesia Fashion Week. Acara itu dilakukan dalam rangka pengembangan pewarnaan dan serat alami dalam industri kain tradisional Indonesia, termasuk tenun.

”Semoga saja kita semua diberi keselamatan dan rencana kita menjadi lancar,” kata Sahari Karim (50), sepupu Sariat, yang juga perajin tenun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bagi Sariat dan petenun di kelompoknya, acara yang mengangkat keberadaan tenun Alor semacam itu sungguh memberi mereka harapan baru. Selama lima tahun belakangan, mereka merasakan keberadaan tenun Alor kian tenggelam. Padahal, jauh sebelumnya, tenun Alor cukup tenar hingga ke mancanegara. Mantan Bupati Alor dua periode, Ansgerius Takalapeta, hampir tiap tahun menggelar pameran pariwisata yang bertajuk Expo Alor.

Pameran semacam itu dirasakan para petenun ikut mengerek keberuntungan tenun karya mereka. Terlebih, seperti diingat para petenun, Dina Takapatela, istri mantan Bupati Ansgerius, gencar mempromosikan tenun Alor dan membina perajin tenun yang tercatat kini sebanyak 1.515 orang (lihat tabel hal 13).

”Dulu banyak orang datang beli tenun. Setiap tahun datang orang-orang Jepang yang bawa tenun kami ke Jepang. Sekarang tidak lagi,” kenang Mama Sariat, ibu beranak enam ini.

Pewarna alami

Kondisi itu membuat Mama Sariat dan sekitar 40 orang di kelompoknya pernah kesulitan modal untuk terus menenun. Salah satu kendalanya adalah kesulitan membeli pewarna sintetis bikinan pabrik yang harganya terus naik. Kondisi ini membuat ia tergerak untuk mencari sumber-sumber pewarna alami yang dapat diperoleh di lingkungan sekitar tanpa bergantung pada pabrik.

Mama Sariat kembali menggali pengetahuan para leluhur yang bersinergi langsung dengan alam untuk menghasilkan tenun- tenun indah. Berbagai macam tanaman di sekitar rumahnya dan di hutan dieksplorasi, mulai dari nila, mengkudu, kunyit, asam, sampai pohon bakau. Terakhir, dia mampu mengeksplorasi pewarna alami dari biota laut, yakni berbagai macam teripang dan cumi-cumi. Kini, sedikitnya 180 variasi warna diperoleh Mama Sariat dari sumber alami.

”Saya sempat diolok-olok gila oleh orang di kampung karena keluar masuk hutan setiap hari cari-cari tanaman,” ucap Mama Sariat.

Berbagai sumber bahan pewarnaan alami ini kerap kali beririsan dengan kultur pangan penduduk. Misalnya saja buah bakau atau tongke, yang kerap sebagai campuran makanan penduduk di pesisir, bisa menghasilkan warna mulai dari kemerahan, kecoklatan, hingga merah jambu. Bahan berbasis pangan seperti ini di dunia industri diberi julukan keren, ”food-grade”, walau kadang sekadar gimmick.

”Dulu memang semua tenun pakai warna seperti itu (alami). Tapi harus ingat, waktu benang direndam akar mengkudu syaratnya tidak boleh kena sinar bulan. Kalau kena sinar bulan, warnanya rusak,” kenang Mama Lilo (90), yang masih rajin menenun.

Kini benang pun tak melulu lagi harus dibeli dari toko. Sejak tahun 2008 Mama Sariat berinisiatif menanam pohon kapas di kebun di sekitar rumahnya di Kampung Hula. Tenun yang dibuat dari benang pintalan sendiri non-pabrikan berkarakter tebal dan agak lebih kasar dibandingkan dengan benang pabrikan. Namun, ciri ini justru disukai konsumen di luar negeri, khususnya Jepang. Tenun dari benang pintalan non-pabrikan ini justru cenderung kuat dan lama-kelamaan menjadi lebih lemas, tidak kaku.

Untuk menghalau bosan, perajin tenun ini sering kali bernyanyi sambil memintal kapas menjadi benang, dengan alat pintal sederhana. ”Putus benang bisa sambung, putus cinta dibawa mati....” Begitu salah satu penggalan liriknya. Rokok dan kopi hitam pun senantiasa menjadi teman setia para mama untuk mete (begadang) demi menenun.

”Memang seharusnya, kalau ingin memandirikan petenun, pemerintah harus mendorong gerakan menanam kapas, murbei, dan sumber-sumber serat alam lain yang sangat kaya di negeri ini. Bahkan, cannabis pun bisa menjadi serat tekstil yang sangat bagus,” kata Merdi Sihombing, desainer tekstil.

Pusaka

Tenun berbahan benang pintalan non-pabrikan dan pewarnaan alami pada akhirnya dihargai lebih tinggi di pasaran. Hal ini membuat banyak petenun lain di Alor tergerak untuk mempelajari metode kuno pewarnaan alami yang dahulu dikuasai para leluhur. Mama Sariat akhirnya kerap diminta pemerintah kabupaten setempat untuk memberikan pelatihan di desa-desa lain.

Semangat petenun yang ingin lebih mandiri itu membuat tenun Alor mulai terevitalisasi dengan memperkuat karakternya yang erat bersinergi dengan alam. Seperti yang diingat oleh Victor Klemeng, pensiunan dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perindustrian Perdagangan Kabupaten Alor. Menurut Victor, tahun 1980-an, para petenun mulai dikenalkan pada benang bikinan pabrik dan pewarna sintetis kimia yang dianggap lebih praktis. Kepraktisan itu memang membuat volume produksi lebih gemuk dan efisien.

Sayangnya, pengetahuan klasik dari leluhur dalam menghasilkan tenun berbahan baku alami yang tak bergantung pada pabrik kemudian ditinggalkan. Akibatnya, ketika petenun sudah telanjur bergantung pada suplai bahan baku pabrikan, lama-kelamaan terkendala harganya yang terus naik. Sementara mereka tak bisa serta-merta mengimbangi kondisi itu dengan kemampuan alternatif dalam memproduksi tenun secara alami, yang ilmunya sebenarnya sudah dikuasai para leluhur.