Kompas.com - 26/01/2014, 11:06 WIB
Seorang perajin tenun tengah menenun dengan alat tenun tradisional gedogan di Kampung Hula, Desa Alor Besar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. KOMPAS/SARIE FEBRIANESeorang perajin tenun tengah menenun dengan alat tenun tradisional gedogan di Kampung Hula, Desa Alor Besar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
|
EditorSandro Gatra

Pewarna alami

Kondisi itu membuat Mama Sariat dan sekitar 40 orang di kelompoknya pernah kesulitan modal untuk terus menenun. Salah satu kendalanya adalah kesulitan membeli pewarna sintetis bikinan pabrik yang harganya terus naik. Kondisi ini membuat ia tergerak untuk mencari sumber-sumber pewarna alami yang dapat diperoleh di lingkungan sekitar tanpa bergantung pada pabrik.

Mama Sariat kembali menggali pengetahuan para leluhur yang bersinergi langsung dengan alam untuk menghasilkan tenun- tenun indah. Berbagai macam tanaman di sekitar rumahnya dan di hutan dieksplorasi, mulai dari nila, mengkudu, kunyit, asam, sampai pohon bakau. Terakhir, dia mampu mengeksplorasi pewarna alami dari biota laut, yakni berbagai macam teripang dan cumi-cumi. Kini, sedikitnya 180 variasi warna diperoleh Mama Sariat dari sumber alami.

”Saya sempat diolok-olok gila oleh orang di kampung karena keluar masuk hutan setiap hari cari-cari tanaman,” ucap Mama Sariat.

Berbagai sumber bahan pewarnaan alami ini kerap kali beririsan dengan kultur pangan penduduk. Misalnya saja buah bakau atau tongke, yang kerap sebagai campuran makanan penduduk di pesisir, bisa menghasilkan warna mulai dari kemerahan, kecoklatan, hingga merah jambu. Bahan berbasis pangan seperti ini di dunia industri diberi julukan keren, ”food-grade”, walau kadang sekadar gimmick.

”Dulu memang semua tenun pakai warna seperti itu (alami). Tapi harus ingat, waktu benang direndam akar mengkudu syaratnya tidak boleh kena sinar bulan. Kalau kena sinar bulan, warnanya rusak,” kenang Mama Lilo (90), yang masih rajin menenun.

Kini benang pun tak melulu lagi harus dibeli dari toko. Sejak tahun 2008 Mama Sariat berinisiatif menanam pohon kapas di kebun di sekitar rumahnya di Kampung Hula. Tenun yang dibuat dari benang pintalan sendiri non-pabrikan berkarakter tebal dan agak lebih kasar dibandingkan dengan benang pabrikan. Namun, ciri ini justru disukai konsumen di luar negeri, khususnya Jepang. Tenun dari benang pintalan non-pabrikan ini justru cenderung kuat dan lama-kelamaan menjadi lebih lemas, tidak kaku.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Untuk menghalau bosan, perajin tenun ini sering kali bernyanyi sambil memintal kapas menjadi benang, dengan alat pintal sederhana. ”Putus benang bisa sambung, putus cinta dibawa mati....” Begitu salah satu penggalan liriknya. Rokok dan kopi hitam pun senantiasa menjadi teman setia para mama untuk mete (begadang) demi menenun.

”Memang seharusnya, kalau ingin memandirikan petenun, pemerintah harus mendorong gerakan menanam kapas, murbei, dan sumber-sumber serat alam lain yang sangat kaya di negeri ini. Bahkan, cannabis pun bisa menjadi serat tekstil yang sangat bagus,” kata Merdi Sihombing, desainer tekstil.

Pusaka

Tenun berbahan benang pintalan non-pabrikan dan pewarnaan alami pada akhirnya dihargai lebih tinggi di pasaran. Hal ini membuat banyak petenun lain di Alor tergerak untuk mempelajari metode kuno pewarnaan alami yang dahulu dikuasai para leluhur. Mama Sariat akhirnya kerap diminta pemerintah kabupaten setempat untuk memberikan pelatihan di desa-desa lain.

Semangat petenun yang ingin lebih mandiri itu membuat tenun Alor mulai terevitalisasi dengan memperkuat karakternya yang erat bersinergi dengan alam. Seperti yang diingat oleh Victor Klemeng, pensiunan dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perindustrian Perdagangan Kabupaten Alor. Menurut Victor, tahun 1980-an, para petenun mulai dikenalkan pada benang bikinan pabrik dan pewarna sintetis kimia yang dianggap lebih praktis. Kepraktisan itu memang membuat volume produksi lebih gemuk dan efisien.

Sayangnya, pengetahuan klasik dari leluhur dalam menghasilkan tenun berbahan baku alami yang tak bergantung pada pabrik kemudian ditinggalkan. Akibatnya, ketika petenun sudah telanjur bergantung pada suplai bahan baku pabrikan, lama-kelamaan terkendala harganya yang terus naik. Sementara mereka tak bisa serta-merta mengimbangi kondisi itu dengan kemampuan alternatif dalam memproduksi tenun secara alami, yang ilmunya sebenarnya sudah dikuasai para leluhur.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Peringati Hari Santri, Ganjar Berharap Santri di Indonesia Makin Adaptif dan Menginspirasi

Regional
Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Peringati HSN 2021, Wagub Uu Nyatakan Kesiapan Pemprov Jabar Bina Ponpes

Regional
Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Ridwan Kamil Pastikan Pemerintah Gelontorkan Rp 400 Triliun untuk Bangun Jabar Utara dan Selatan

Regional
Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Gencarkan Vaksinasi Covid-19, Pemprov Jabar Gandeng Pihak Swasta

Regional
AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

AOE 2021 Dimulai Besok, Jokowi Dipastikan Hadir Buka Acara

Regional
Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Dukung Pesparawi XIII, YPMAK Beri Bantuan Rp 1 Miliar

Regional
9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

9 Pemda di Papua Raih WTP, Kemenkeu Minta Daerah Lain di Papua Termotivasi

Regional
Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Capai Rp 72,46 Triliun, Realisasi Investasi Jabar per Januari-Juni 2021 Peringkat 1 Nasional

Regional
Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Temui Gus Yasin, Ridwan Kamil Sebut Jabar Ingin Berbagi Pengalaman dan Investasi di Kota Lama Semarang

Regional
Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Lewat Bidan Desa, Satgas Jabar Beri Kemudahan Akses Vaksinasi Lansia

Regional
Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Resmi Dilantik, Sekda Baru Pemprov Papua Diharapkan Akselerasi Kebijakan Daerah

Regional
Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Kafilah STQH Jabar Dilepas ke Tingkat Nasional, Ini Pesan Kang Emil untuk Mereka

Regional
Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Targetkan Netral Karbon pada 2050, Indika Energy Tanam 21.000 Mangrove

Regional
Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Kepada Dubes Australia, Ridwan Kamil: Jabar Nomor Satu Destinasi Investasi

Regional
PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

PON XX Segera Berakhir, Disorda Papua Siapkan Tim untuk Rawat Venue

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.