Abrasi, Efek Perubahan Iklim Ancaman Tersembunyi Kedaulatan NKRI

Kompas.com - 20/01/2014, 10:21 WIB
Perubahan Iklim akibatkan laju abrasi menggila merupakan ancaman tersembunyi yang serius bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). KOMPAS.com/ FirmansyahPerubahan Iklim akibatkan laju abrasi menggila merupakan ancaman tersembunyi yang serius bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
|
EditorGlori K. Wadrianto
BENGKULU, KOMPAS.com - Maida Taufani (45), warga Desa Pasar Pedati, Sungai Suci, Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng), Provinsi Bengkulu, menatap nanar ke tengah laut lepas. Berbalut pakaian Satuan Polisi Pamong Praja dia seolah ingin kembali ke tahun 1987 saat tanah ukuran 200x50 meter yang ia miliki berada jauh di tengah laut.

Ia berbicara keras kepada Kompas.com berusaha mengalahkan suara angin laut yang menampar wajah kami. Kata dia tanahnya saat ini tersisa 25x80 meter akibat digerus abrasi.

"Jika diukur dari pinggir pantai mengarah ke laut maka panjangnya 50 meter tanah saya hilang ditelan laut sejak tahun 1987, ini akan terus mengancam permukiman dan jalan umum milik pemerintah, akan ikut hilang," kata Maida Taufani sambil menunjuk ke arah laut lepas tempat dahulu tanahnya berada yang saat ini berubah menjadi laut, beberapa waktu lalu.

Jika dilihat dari bibir pantai, abrasi parah menghantam tanah milik Maida. Dia merupakan honorer Sattpol PP di Pemda Kabupaten Bengkulu Tengah. Bibir pantai saat ini menyisakan sekira 30 meter dari rumah sederhana yang ia tempati.

Cerita Maida merupakan satu contoh kasus kecil dari kegilaan abrasi "mengunyah" daratan Bengkulu.

Ancam kedaulatan
Perubahan Iklim akibatkan laju abrasi menggila merupakan ancaman tersembunyi yang serius bagi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Demikian sepenggal pernyataan singkat penutup pembicaraan sore, Jumat pekan lalu, dengan Hery Suhartoyo, PhD, Alumni Prefrence Group Australia (ARG) Team Coordinator Environment and Natural Disaster. Ia juga merupakan staf pengajar Faklutas Pertanian, Jurusan Kehutanan, Universitas Bengkulu.

Suara bariton Hery semakin bersemangat ketika ia memberikan argumentasinya, Perubahan iklim dan laju abrasi menurut dia satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam proses pemecah kedaulatan NKRI dari sisi geografi.

"Dapat diprediksi jika daratan terus tergerus akibat hantaman ombak, seperti Bengkulu, Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) akan semakin mengecil ke daratan, ini berpengaruh sangat signifikan namun tak terasa, Pulau terluar Bengkulu, yakni Enggano juga ikut tergerus," kata Hery saat di jumpai di ruang kerjanya.

Sambil membuka beberapa file di laptop kerjanya, dia mengungkapkan, hasil riset yang pernah ia lakukan pada 2013. Bengkulu memiliki garis pantai sepanjang 525 kilometer ditempati enam kabupaten dan satu kota mengalami laju abrasi cukup akut. Laju abrasi di pesisir Bengkulu per tahunnya mencapai 2,5 meter.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

KM Panji Saputra Belum Ditemukan, Ini Langkah Basarnas

KM Panji Saputra Belum Ditemukan, Ini Langkah Basarnas

Regional
Orangtua Mahasiswa di Wuhan: Jujur Pengen Dia Cepat Pulang, tapi Kita Tak Boleh Egois

Orangtua Mahasiswa di Wuhan: Jujur Pengen Dia Cepat Pulang, tapi Kita Tak Boleh Egois

Regional
Cegah Penyebaran Virus Corona, Suhu Tubuh Penumpang di Stasiun Purwokerto Diperiksa

Cegah Penyebaran Virus Corona, Suhu Tubuh Penumpang di Stasiun Purwokerto Diperiksa

Regional
RSUP M Djamil Padang Siap Tangani Pasien Pengidap Virus Corona

RSUP M Djamil Padang Siap Tangani Pasien Pengidap Virus Corona

Regional
Kota Padang Kekurangan 40.000 Blangko E-KTP

Kota Padang Kekurangan 40.000 Blangko E-KTP

Regional
Rumah Warga Terkena Longsor, Sungai Ini Dibelokkan Alirannya

Rumah Warga Terkena Longsor, Sungai Ini Dibelokkan Alirannya

Regional
Siswi Ditemukan Tewas di Gorong-Gorong Sekolahnya, Kepsek: Pintar dan Ceria di Kelas

Siswi Ditemukan Tewas di Gorong-Gorong Sekolahnya, Kepsek: Pintar dan Ceria di Kelas

Regional
Ini Pengakuan Pria Paruh Baya yang Culik Siswi SD Selama 4 Tahun hingga Pulang dalam Keadaan Hamil

Ini Pengakuan Pria Paruh Baya yang Culik Siswi SD Selama 4 Tahun hingga Pulang dalam Keadaan Hamil

Regional
Viral Bakal Calon Bupati Kendal Marah-marah ke Satpol PP Saat Baliho Bergambar Dirinya Dicopot

Viral Bakal Calon Bupati Kendal Marah-marah ke Satpol PP Saat Baliho Bergambar Dirinya Dicopot

Regional
5 Mahasiswa Aceh dari China Tiba di Jakarta

5 Mahasiswa Aceh dari China Tiba di Jakarta

Regional
10 Mahasiswa Unesa Dikabarkan Akan Segera Dipulangkan ke Indonesia

10 Mahasiswa Unesa Dikabarkan Akan Segera Dipulangkan ke Indonesia

Regional
Ini Cara Pemprov Jatim Raih Predikat A dari SAKIP 6 Kali Berturut-turut

Ini Cara Pemprov Jatim Raih Predikat A dari SAKIP 6 Kali Berturut-turut

Regional
Masih 1.123 Kampung di Papua dan Papua Barat Belum Berlistrik, Ini Strategi PLN

Masih 1.123 Kampung di Papua dan Papua Barat Belum Berlistrik, Ini Strategi PLN

Regional
Warga Salatiga yang Pernah Kunjungi Wuhan Memeriksakan Diri ke Rumah Sakit

Warga Salatiga yang Pernah Kunjungi Wuhan Memeriksakan Diri ke Rumah Sakit

Regional
King Kobra Sepanjang 5 Meter Gigit Kening, Pawang Ular Tewas Dua Jam Usai Atraksi

King Kobra Sepanjang 5 Meter Gigit Kening, Pawang Ular Tewas Dua Jam Usai Atraksi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X