Kompas.com - 17/10/2013, 11:57 WIB
Sri Sultan Hamengku Buwono X KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOSri Sultan Hamengku Buwono X
|
EditorGlori K. Wadrianto
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Pimpinan Pura Pakualaman Paku Alam IX akan menerima gaji dari alokasi dana keistimewaan. Namun, kepastian pemberian gaji tersebut belum jelas, karena Sultan dan Paku Alam adalah pejabat pemerintahan.

Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat mengatakan, pemberian gaji dari dana keistimewaan untuk Sultan dan Paku Alam merupakan paket kegiatan pemberian gaji untuk abdi dalem.

"Gaji untuk Sri Sultan dan Paku Alam ada rinciannnya juga. Mereka mendapat gaji tertinggi Rp 2 juta untuk Sultan dan Rp 1,8 juta untuk Paku Alam. Tapi, seperti para abdi dalem yang pegawai negeri sipil (PNS), sebagai pejabat pemerintahan belum jelas apakah mereka diminta mengembalikan atau tidak," ujar Yudhaningrat, Kamis (17/10) di Yogyakarta.

Yudhaningrat belum mendapat kepastian dari pemerintah pusat terkait hal ini. Apakah peran Sri Sultan sebagai raja dan gubernur terhubung dengan kebijakan tersebut. "Selama ini, Sri Sultan bekerja memimpin keraton tetapi juga menjadi gubernur di DIY. Apakah ini akan diartikan sama atau tidak masih belum jelas," kata dia.  

Selain Sri Sultan dan Paku Alam, alokasi dana keistimewaan juga digunakan untuk menggaji sekitar 3.000 abdi dalem Keraton Yogyakarta dan hampir 1.000 abdi dalem Pura Pakualaman. Tahun ini, mereka akan mendapat gaji untuk dua bulan dengan kisaran antara Rp 600 ribu hingga Rp 1,25 juta per orang.

Adapun, gaji paling rendah Rp 600.000 diperuntukkan untuk abdi dalem baru berpangkat jajar dan gaji tertinggi Rp 1,25 juta untuk abdi dalem setingkat Kanjeng Raden Tumenggung.

Alokasi dana keistimewaan untuk gaji abdi dalem merupakan bagian kecil dari pos dana keistimewaan untuk bidang kebudayaan sebesar Rp 114 miliar. Awalnya, dana keistimewaan dialokasikan untuk penggajian abdi dalem selama setahun, sebesar Rp 16 miliar, untuk gaji abdi dalem Keraton Yogyakarta, dan sekitar Rp 6 miliar untuk abdi dalem Pura Pakualaman.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Daerah Istimewa Yogyakarta Tavip Agus Rayanto mengatakan, besaran gaji untuk para abdi dalem tidak akan besar karena diharapkan pemberian dana ini tidak mematikan semangat loyalitas para abdi dalem yang selama ini sudah terbangun.

"Kalau gaji terlalu ditinggikan, dikhawatirkan ada pergeseran orientasi para abdi dalem yang selama ini total dan loyal mengabdi menjadi semata-mata kegiatan bekerja semata," paparnya.

R Danu Wresni, abdi dalem prajurit Wirobrojo Keraton Yogyakarta mengungkapkan, selama puluhan tahun mengabdi sebagai abdi dalem, dia hanya mendapat gaji Rp 2.000 setiap empat bulan sekali. Akan tetapi, Danu tetap setiap dan bangga dengan pekerjaannya.

"Saya merasa tentram dan bangga bisa mengabdi kepada Sultan. Uang gaji yang saya terima Rp 2.000 per empat bulan atau Rp 6.000 setiap tahun saya kumpulkan dan saya simpan di lemari agar memberikan berkah," ungkapnya. 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PPKM Diperpanjang, Wali Kota Medan Nyatakan Siap Ikuti Aturan

PPKM Diperpanjang, Wali Kota Medan Nyatakan Siap Ikuti Aturan

Regional
Tinjau Pengolahan Sampah Plastik, Kang Emil Imbau Masyarakat Gunakan “Octopus”

Tinjau Pengolahan Sampah Plastik, Kang Emil Imbau Masyarakat Gunakan “Octopus”

Regional
Selama Larangan Mudik, Wagub Uu Optimis Dapat Tekan Mobilitas Warga Jabar

Selama Larangan Mudik, Wagub Uu Optimis Dapat Tekan Mobilitas Warga Jabar

Regional
Terapkan Prokes dan PPKM di Kesawan City Walk, Pemkot Medan Lakukan Ini

Terapkan Prokes dan PPKM di Kesawan City Walk, Pemkot Medan Lakukan Ini

Regional
Ganjar Nilai Sistem Resi Gudang Grobogan Jadi Teladan Nasional, Mengapa?

Ganjar Nilai Sistem Resi Gudang Grobogan Jadi Teladan Nasional, Mengapa?

Regional
Anggap Warga Sudah Teredukasi Covid-19, Pemkab Wonogiri Longgarkan Kegiatan Ekonomi

Anggap Warga Sudah Teredukasi Covid-19, Pemkab Wonogiri Longgarkan Kegiatan Ekonomi

Regional
Diminta Khofifah Desain Masjid di Surabaya, Kang Emil: Alhamdulillah, Jadi Ladang Ibadah

Diminta Khofifah Desain Masjid di Surabaya, Kang Emil: Alhamdulillah, Jadi Ladang Ibadah

Regional
Pulihkan Ekonomi Jabar, Wagub Uu Dorong UMKM Manfaatkan Program Pemerintah

Pulihkan Ekonomi Jabar, Wagub Uu Dorong UMKM Manfaatkan Program Pemerintah

Regional
Mukhtar, Mantan Bomber Kantor Unicef Aceh Kini Jadi Petani Pepaya dan Porang

Mukhtar, Mantan Bomber Kantor Unicef Aceh Kini Jadi Petani Pepaya dan Porang

Regional
Lewat Produk UKM, Ganjar dan Dubes Ceko Diskusikan Sejumlah Potensi Kerja Sama

Lewat Produk UKM, Ganjar dan Dubes Ceko Diskusikan Sejumlah Potensi Kerja Sama

Regional
Serahkan Sertifikasi SNI ke Masker Ateja, Emil Akui Sedang Buat Kain Antivirus

Serahkan Sertifikasi SNI ke Masker Ateja, Emil Akui Sedang Buat Kain Antivirus

Regional
Bongkar Bangunan Bermasalah di Medan, Wali Kota Bobby: Mari Tingkatkan PAD

Bongkar Bangunan Bermasalah di Medan, Wali Kota Bobby: Mari Tingkatkan PAD

Regional
Positif Covid-19, Atalia Praratya Banjir Doa dan Dukungan

Positif Covid-19, Atalia Praratya Banjir Doa dan Dukungan

Regional
Ajak Pelajar Berbagi Selama Ramadhan, Disdik Jabar Gelar Rantang Siswa

Ajak Pelajar Berbagi Selama Ramadhan, Disdik Jabar Gelar Rantang Siswa

Regional
Mudahkan Rancang Perda, Gubernur Ridwan Kamil dan Kemendagri Luncurkan Aplikasi e-Perda

Mudahkan Rancang Perda, Gubernur Ridwan Kamil dan Kemendagri Luncurkan Aplikasi e-Perda

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X